<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141</id><updated>2012-02-16T10:16:02.089-08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Pemberitahuan'/><category term='Buku'/><category term='Dokumentasi Kegiatan'/><category term='Hasil Tugas'/><title type='text'>MENULIS BUKU AJAR</title><subtitle type='html'>Matakuliah Program Pendidikan Bahasa Indonesia 

Jurusan Sastra Indonesia 
               
Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-5989655318928039289</id><published>2009-10-06T18:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T04:03:09.264-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasil Tugas'/><title type='text'>HASIL LAPORAN DISKUSI KELOMPOK TENTANG PENGAMATAN BUKU AJAR</title><content type='html'>Inilah hasil pengamatan sebagian kelompok tentang buku ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 1:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok : &lt;br /&gt;  - Farah Ulfa RIadina (207211405873), &lt;br /&gt;  - Kingkin puput Kinanti (207211405874), &lt;br /&gt;  - Prima Vidya (207211407881), &lt;br /&gt;  - Caulina DIke (207211407890)&lt;br /&gt;B. Offering D/Kelas AA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;A. PENYAJIAN ISI&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Keilmuan&lt;/em&gt;- Tidak ditampilkan Kompetensi Dasar secara jelas dan terinci&lt;br /&gt;- Isi materi kurang detail&lt;br /&gt;- Tidak ada kesinambungan antara materi dan Kompetensi dasar&lt;br /&gt;- Tidak ada penerapan aspek afektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Kesesuaian dengan sasaran&lt;/em&gt;- Penyampaian Materi terhadap siswa telah komunikatif dengan penggunaan ‘kalian’ dan ‘kamu’&lt;br /&gt;- Diksi dan bahasa telah sesuai dengan pemahaman siswa SMP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Penyajian PBM&lt;/em&gt;- Langkah-langkah kegiatan pembelajaran terbalik pada beberapa bagian tertentu, seharusnya dimulai dari sajian yang mudah, sedang, kemudian sulit. Misalnya pada tata letak ‘Tugas!’ dan ‘Latihan Soal’ yang terbalik dalam penyajiannya. Seharusnya penulisan ‘Latihan Soal’ terlebih dahulu kemudian lembar ‘Tugas!’&lt;br /&gt;- Penyajian gambar kurang sesuai dengan tema yang akan dibahas&lt;br /&gt;Isi dalam buku yang komunikatif memungkinkan siswa untuk belajar sendiri di rumah walaupun tanpa kehadiran guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;B. FORMAT PENYAJIAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Halaman sampul depan (cover)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Warna yang dipilih untuk dijadikan sampul depan kurang menarik minat pembaca dan terkesan homogen satu warna&lt;br /&gt;- Design grafis yang dipilih kurang sesuai untuk cover halaman depan dan terkesan apa adanya&lt;br /&gt;- Pemilihan model huruf dan ukuran pun tidak menarik, termasuk tata letaknya yang tidak prororsional&lt;br /&gt;- Judul yang dikemukakan kurang memiliki ‘daya jual’. Walaupun tidak jelek, namun judul ‘Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia’ masih terkesan datar dan biasa saja&lt;br /&gt;- Secara keseluruhan, buku ajar tersebut terlihat seperti sebuah makalah kumpulan karya siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Tata letak&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;- Buku ajar tersebut terdiri atas:&lt;br /&gt; • Tema&lt;br /&gt; • Kompetensi Dasar&lt;br /&gt; • Gambar&lt;br /&gt; • Kata-kata Mutiara&lt;br /&gt; • Subtema (awal, inti, akhir)&lt;br /&gt;- Subtema awal terdiri dari materi dan isi, subtema inti terdiri dari kegiatan-kegiatan siswa untuk mencapai indicator, sedangkan subtema akhir berupa latihan dan tugas.&lt;br /&gt;- Secara keseluruhan tata letak gambar dan tulisan masih kurang tepat. Pengaturan margin kanan-kiri masih terkesan asal jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Huruf (Font)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Jenis huruf (termasuk ukuran ‘size’ huruf) telah variatif walaupun masih ada penggunaan font yang kurang tepat, contohnya indicator.&lt;br /&gt;- Kesalahan fatal penulis adalah tidak melampirkan halaman buku, karena yang terjadi kemudian halaman buku di tulis manual tanpa diketik&lt;br /&gt;- Pengunaan bullet sebaiknya diganti numbering sehingga tidak menyulitkan guru untuk menjelaskan poin-poin yang terdapat dalam buku ajar&lt;br /&gt;- Penulisan sumber materi pada puisi kurang tepat. Tidak ada jarak antara Materi dan sumber materi&lt;br /&gt;- Penggunaan huruf capital pun tidak sesuai dengan fungsi yang seharusnya, sehingga dirasa kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;PERTANYAAN DARI KELOMPOK LAIN&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimanakan buku ajar yang baik dan tidak baik? Apakah buku ajar yang kelompok anda telaah termasuk kategori baik? (Lia Dekrit)&lt;br /&gt;2. Bagaimanakan cara memasukkan aspek afektif dalam suatu buku ajar? (Nurul Devianti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;JAWABAN KELOMPOK&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Buku ajar yang baik adalah yang mampu memuat tiga ranah kgnitif, afektif, dan psikomotorik. Secara keseluruhan pokok-pokok bahasan dalam buku ajar yang kami analisis telah cukup baik walaupun kurang mendetail. Bagaimanapun tak ada buku ajar yang sempurna dan mampu dijadikan pedoman seutuhnya bagi siswa, karena sebagai fasilitator guru pun masih memiliki peranan yang sangat penting.&lt;br /&gt;2. Menyertakan tiga ranah tersebut adalah pilihan yang tepat. Namun kenyataannya kerap kali sulit untuk menyertakan semua aspek dalam buku ajar. Aspek afektif termasuk aspek yang jarang sekali ditemui dalam buku ajar walaupun memang ada buku ajar yang menyertakannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan tiga ranah tersebut sebaiknya disesuaikan dengan pokok bahasan yang akan disajikan. Apabila ranah afektif tidak dapat disertakan, maka dua ranah lainnya dapat dimaksimalkan oleh pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 2:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. NAMA ANGGOTA :&lt;br /&gt;A. Nama Angota Kelompok:&lt;br /&gt;  - Anindita Sastavianti (207211408999)&lt;br /&gt;  - Ayu Suci Iryantati (207211408983)&lt;br /&gt;  - Erlina Yuanita (207211408978)&lt;br /&gt;  - Irma Tri W. (207211411740) &lt;br /&gt;  - Rian Kusumas Tuti (207211411745)&lt;br /&gt;B. Offering D/Kelas BB&lt;br /&gt;C. Judul Buku:Muzai Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA XII BAB I (oleh tim limba kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Buku yang disusun oleh tim Rimba kata ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Baik dari segi isi maupun formatnya. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelebihan : &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Materi dalam buku ini telah sesuai dengan bidang keilmuan yang diajarkan. Bidang keilmuan tersebut meliputi kemampuan berbahasa dan bersastra disetiap BAB disertai fokus pembelajaran yang berfungsi sebagai ruang lingkup materi guna memudahkan guru dan siswa dalam PBM. &lt;br /&gt;2. Penyajian meteri disusun sesuai dengan fokus pembelajaran yang menjadi rambu-rambu untuk mencapai kompetensi dasar siswa kelas XII.&lt;br /&gt;3. Format dibuat berdasarkan model sajian buku yang didalamnya diurut dari tujuan pembelajaran, uji kompetensi siswa, tokoh masyarakat yang memuat biografi singkat tentang pengarang serta yang terakhir terdapat lembar asah otak berupa teka teki silang.&lt;br /&gt;4. Font yang digunakan, menggunakan times new roman bagi teks utama dan comic sans bagi perintah pengerjaan soal. Sedangkan font arial dan mostilus digunakan pada halaman awal tiap pergantian BAB.&lt;br /&gt;5. Penyampaian dalam PBM telah sesuai dengan indikator yang akan dicapai. Indikator menunjukkan cara pencapaian standar kompetensi. Pencapaian tersebut diukur melalui evaluasi dalam tiap kegiatan inti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kekurangan:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Font huruf pada bagian penjelasan dan perintah pengerjaan tugas, harusnya tidak menggunakan font comic sans, sebab bentuk huruf yang ideal adalah huruf yang tidak membuat pembaca cepat lelah. Yang cocok digunakan adalah font times new roman.&lt;br /&gt;2. Penggunaan tiga warna yang selalu ada dalam tiap bab akan membuat pembaca cepat bosan untuk membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok: &lt;br /&gt;  - Anik Purwanti (207211411747)&lt;br /&gt;  - Dina Kusuma W. (207211408987)&lt;br /&gt;  - Intan Anggar P. (207211408986)&lt;br /&gt;  - Tiwuk Shintia D.(207211411750)&lt;br /&gt;  - Endriana Rahma W. (207211408988)&lt;br /&gt;B. Offering D/Kelas BB&lt;br /&gt;C. Judul Buku yang diamati:Berbahasa Satu Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS kelas IX (Oleh Tim Mimosa Pudica)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Isi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi yang ditelaah dalam buku “Berbahasa Satu Bahasa Indonesia” kelas IX semester 2 ini adalah materi, sajian materi, keterkaitan antara bagian satu dengan yang lain (bagian dalam silabus), dan kesesuain Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan sistem pembelajaran. Berikut adalah uraiannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Materi (apakah materi sesuai dengan keilmuan atau tidak?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Materi yang disajikan sudah sesuai dengan keilmuan. Pada awalnya, cara penyampaian buku ajar ini kurang membuat siswa berpikir kreatif. Untuk itu, sebaiknya siswa diminta menganalisis terlebih dahulu, baru kemudian mendapatkan materi agar siswa dapat memahami materi tentang menyunting karangan dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Sajian Materi (apakah sudah tepat pada sasaran?)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sajian materi yang ada pada buku ajar ini kurang sesuai untuk siswa SMP kelas IX, karena sajian materi terlalu sedikit dan bobot soalnya terlalu mudah untuk siswa kelas IX SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Keterkaitan/Hubungan Antar Teori, KD, Indikator, Materi Ajar, Evaluasi, dan sebagainya (apakah sudah linear atau belum?)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kurang sinkron atau kurang sesuai karena KD tidak dipaparkan di dalam bab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Proses Belajar Mengajar (apakah sudah sesuai dengan sistem pembelajaran?)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada PBM-nya tidak ada kegiatan penutup. Tapi kegiatan dan kegiatan intinya sudah sesuai dengan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Format&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format yang dibahas pada buku ajar Berbahasa Satu Bahasa Indonesia untuk siswa kelas IX SMP antara lain: huruf/font, menarik atau tidak, cover, dan bentuk. Berikut adalah uraiannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Huruf/Font&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak sesuai untuk jenjang SMP kelas IX, karena terdapat huruf yang terlalu besar seperti materi ajar pada jenjang SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Menarik atau tidak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kurang menarik, karena tidak pada bagian penting, tidak diberikan sesuatu yang menarik yang mudah diingat, misalnya, background warna atau diberi kotak pada bagian yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Cover&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kurang menarik, karena covernya bukan seperti buku ajar bahasa Indonesia , warna covernya juga kurang menarik, padu padannya kurang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Bentuk&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti buku ajar, seperti makalah. Nomer halaman tidak diketik. Pada bab 5, SK dan KD tidak cukup jelas, (tidak tertera dengan jelas) yang ada hanya indicator. Foto sudah sesuai dengan bab yang dibicarakan (Masalah dan Kehidupan Sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok: &lt;br /&gt;   1. Elyanoor Oktaviana&lt;br /&gt;   2. Lia Dekryt V. P&lt;br /&gt;   3. Nurul Devianti&lt;br /&gt;   4. Resi Dian D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Judul buku yang diamati: &lt;em&gt;Terampil Berbahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas VII&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ajar berjudul “Terampil Berbahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas VII” adalah buku teks (text book) yang disusun sedemikian rupa yang berisi uraian materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SMP kelas VII. Dalam penyusunannya, buku ajar ini tentu meiliki kekurangan dan kelebihan. Berikut pemaparannya dilihat dari beberapa sisi.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Penyajian isi buku&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Keilmuan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari ilmunya, dalam hal ini adalah ilmu pelajaran Bahasa Indonesia, buku ajar sudah menyampaikan materi pelajaran Bahasa Indonesia. Kita tahu pelajaran Bahasa Indonesia juga tidak dapat terlepas dari Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah disusun dalam kurikulum untuk memperoleh tujuan tertentu. Namun, nampaknya terjadi ketidaksesuaian antara KD dengan materi yang uraikan. Sebagai contoh pada bagian pertama buku ajar ini. Disebutkan pada pelajaran 1, KD ‘menulis buku harian atau pengalaman pribadi’, tetapi ada beberapa uraian yang kurang sesuai. Selain itu, buku ajar tersebut tidak memberikan pengantar materi yang akan ditampilkan. Tanpa pengantar, siswa akan kebingungan. Meskipun demikian, buku ajar ini memberikan contoh-contoh sesuai dengan materi yang sekiranya menutupi kekurangannya tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Komunikasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini penyusun/penulis kurang menggunakan bahasa yang komunikatif. Penyusun kurang melibatkan pembaca, dalam hal ini adalah siswa kelas SMP. Alangkah lebih baiknya jika penulis/penyusun seolah mengajak pembaca dengan menggunakan kata-kata sapaan seperti “Nah, Kalian sekarang tahu…” atau “Apakah Kamu pernah…”. Bahasa yang digunakan oleh penulis terlalu kaku. Memang harus baku dan resmi, tetapi tidak harus kaku yang akan membuat siswa jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Prinsip Proses Belajar Mengajar (PBM)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyususn buku ajar, penulis/penyusun harus meleburkan diri seolah menjadi sasaran buku. Jika buku tersebut ditujukan untuk siswa SMP, maka penulis menganggap dirinya seolah-olah siswa SMP. Terkait dengan hal tersebut, prinsip PBM yang pernah dialami atau dibayangkan oleh penulis akan memberikan penyajian yang sistematis dan runtut. Dalam menyampaikan satu kompetensi, penulis membagi prosesnya menjadi beberapa kegiatan yakni kegiatan awal, inti dan penutup. Setelah kegiatan penutup, diadakan evaluasi, baru dimulai kompetensi selanutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Format Penyajian/Penampilan buku&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Warna&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Warna dapat menarik minat pembaca untuk membaca buku, atau setidaknya untuk memegang. Warna sampul kurang menarik. Dengan warna hijau yang pucat, serta gambar sampul tampak seperti buku sains bukan buku pelajaran Bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Font dan gaya penulisan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ukuran font/huruf dalam buku ajar tersebut terlalu kecil dan jarak spasinya terlalu rapat. Hal ini akan mempersulit pembaca untuk m enikmati isi uraian materi, apalagi jika pembacanya adalah orang yang memiliki gangguan pada penglihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Penggabungan Kompetensi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ajar tersebut, terjadi penggabungan beberapa kompetensi dalam satu bab. Hal ini akan menyebabkan kerancuan Kompetensi Dasar (KD) sehingga, tujuan pembelajaran juga tidak diketahui dengan jelas. Selain itu, penulis tidak menyebutkan tujuan pembelajaran. Selain itu, penulis banyak menyebutkan kata-kata yang bukan merupakan bagian dari materi yang disampaikan, sehingga terkesan banyak basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pemaparan kelebihan dan kekurangan buku ajar dengan judul “Terampil Berbahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas VII”. Namun, secara umum buku tersebut baik walaupun ada kekurangan,yang dilihat dari isi dan format penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama anggota kelompok  (Off. A):&lt;br /&gt;  1. Farida Yufarlina Rosita&lt;br /&gt;  2. Nila Maulana (NIM 107211402887)&lt;br /&gt;  3. Peni Puspitasari&lt;br /&gt;  4. Riko Setiyoko (NIM 107211407096)&lt;br /&gt;  5. Yusinta Memoriani (NIM 197211401878)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Offering/Kelas A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;B. Analisis isi buku ajar:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. Keilmuan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada buku ajar materi bab I sudah mencukupi empat keterampilan berbahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan yang ada juga sudah seimbang antara keterampilan berbahasa dan sastra seperti mengapresiasi puisi dan membaca cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Sajian&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk cover atau sampul masih terlalu sederhana bagi siswa SMA. Selain itu terdapat gambar atau ilustrasi yang disajikan kurang cocok dengan materi pelajaran yang akan dipelajari. Untuk warna sub judul kurang mencolok, sehingga memiliki kecenderungan untuk tidak diperhatikan karena kurang menarik. Warna dalam buku monoton, kurang variasi dan tidak ada kombinasi warna. &lt;br /&gt;Sedangkan ukuran huruf dalam buku pada bagian depan dan belakang buku terdapat ketidaksamaan. Itu membuat buku kurang menarik untuk dilihat dan dibaca lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Keterbacaan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk isi buku yang berkaitan dengan materi mudah dipahami karena sudah dilengkapi dengan konsep, ilustrasi, dan contoh.. Dalam buku terdapat pula evaluasi materi yang disajikan dalam bentuk soal-soal dan tugas-tugas. Namun, masih terdapat beberapa kesalahan ketik dan ejaan. Tentu hal tersebut harus diminimalkan, karena buku ajar ini berkaitan dengan pengajaran tata bahasa bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;C. Analisis bentuk buku ajar:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Tata letak&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk tata letak yang ada pada buku ajar ini, terdapat pemenggalan kalimat yang kurang tepat. Untuk sub judul dan penjelasan materi yang telah disajikan kurang proporsional. Selain itu, tata letak pada tiap halaman pada tiap halaman kurang sesuai dengan kebutuhan untuk membuat siswa senang mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Grafis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk desain grafis dalam buku ajar tersebut, kurang adanya perpaduan warna yang tepat. Juga gambar-gambar yang disajikan kurang menarik, ukurannya kecil dan terletak pada sisi / sudut pandang yang kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Ilustrasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada ilustrasi yang kurang tepat. Ilustrasi yang disajikan kurang adanya keterkaitan dengan materi pembelajaran. Misalnya saja pada pelajaran ke-8 terdapat kalimat “lingkungan adalah cermin dari perilaku masyarakatnya”; “sebeapa bersihkah lingkunganmu?”. Gambar yang terdapat pada halaman tersebut adalah gambar hutan. Sebenarnya akan lebih tepat jika gambar yang digunakan adalah gundukan sampah yang menyumbati selokan dan sejenisnya yang berkaitan dengan lingkungan sekitar. Ada pula beberapa ilustrasi, ukuran huruf yang terlalu kecil. Hal ini membuat siswa tidak tertarik untuk membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 5&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Nama Anggota kelompok:&lt;br /&gt;  1. Dian Erika Rachmawati(107211410508)&lt;br /&gt;  2. Fitri Nur Wijayanti(107211410506)&lt;br /&gt;  3. Nova Kristian(107211410504)&lt;br /&gt;  4. Sriwijayanti(107211410503)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kelas/Off: B/ B &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. JUDUL BUKU: “SEMESTA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. Isi/ materi pelajaran&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Kelebihan (+)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Kosakata, struktur kalimat, panjang paragraf, dan tingkat kemenarikan sesuai dengan minat dan kognisi siswa&lt;br /&gt;- Rujukan yang digunakan dicantumkan sumbernya, tetapi bila dicermati lebih lanjut masih terdapat bacaan yang tidak tercantum sumbernya&lt;br /&gt;- Pada setiap bab pelajaran selalu ada tiga kegiatan yaitu kegiatan awal, inti, dan lanjutan. Pada kegiatan awal siswa diberi tugas sebagai bahan pretest untuk memasuki kegiatan inti yang merupakan target pembelajaran pada setiap pelajaran dan pada setiap keterampilan berbahasa. Bagian lanjutan sebagai pengayaan dan pemantapan siswa terhadap inti pelajaran pada setiap keterampilan berbahasa&lt;br /&gt;- Tercantum indicator sebelum penyajian materi&lt;br /&gt;- Bahan bacaan yang diambil up to date, sehingga tidak membosankan dan menarik siswa untuk membaca&lt;br /&gt;- Adanya teori yang cukup&lt;br /&gt;- Adanya tips akan tetapi penempatan dan penampilan tips tidak tepat&lt;br /&gt;- Kesesuaian materi buku teks dengan kurikulum&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keakuratan materi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Wacana yang disajikan dalam buku teks ini sesuai dengan kenyataan, tidak dibuat-buat. Kesesuaian teori dan konsep yang disajikan untuk mencapai KD&lt;br /&gt;- Keakuratan dalam memilih contoh latihan dan bervariasi.&lt;br /&gt;  1.Menjawab pertanyaan bacaan &lt;br /&gt;  2.Mengisi bagian kalimat rumpang&lt;br /&gt;  3.Member tanda “s” (jika setuju) dan “t” (jika tidak setuju)&lt;br /&gt;  4.Mengerjakan tugas membaca, menulis, dll&lt;br /&gt;  5.Mengerjakan tugas individu maupun kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Kekurangan (-)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Ilustrasi kurang sesuai dengan teks&lt;br /&gt;- Peta, tabel, dan grafik kurang sesuai dengan teks, harus akurat, dan sederhana&lt;br /&gt;- Perincian materi sudah sesuai dengan kurikulum akan tetapi ada materi yang yang tidak dimasukkan&lt;br /&gt;- Tidak ada pemetaan pembelajaran/ standar isi/ urutan materi pelajaran yang berisi SK dan KD sehingga membingungkan&lt;br /&gt;- Materi tentang membaca cepat tidak lengkap karena tidak disajikan penilaian tentang membaca cepat&lt;br /&gt;- Tidak ada kata-kata yang bersifat memotivasi siswa (kata-kata bijak).&lt;br /&gt;- Hal ini tidak begitu penting akan tetapi akan lebih baik bila ditambahkan.&lt;br /&gt;- Daftar isi tidak diurutkan sesuai dengan tingkat kesulitan dan pengaturan kompetensi berbahasa dan bersastra tidak seimbang&lt;br /&gt;- Terdapat materi atau kompetensi semester 1 yang berada di semester 2 dan sebaliknya.&lt;br /&gt;- Tidak ada soal pelatihan ulangan akhir semester&lt;br /&gt;- Latihan soal yang mengukur kemampuan siswa kurang&lt;br /&gt;- Tidak ada rangkuman dan refleksi, akan tetapi sebagai ganti penulis menyampaikan ringkasan fokus kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2. Penyajian &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Kelebihan (+)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Ada tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;- Keteraturan urutan dalam penguraian&lt;br /&gt;- Kemudahan dipahami&lt;br /&gt;- Keaktifan siswa&lt;br /&gt;- Hubungan bahan dengan latihan soal&lt;br /&gt;Dari segi penyajian isi sudah lumayan lengkap:&lt;br /&gt;1.Bagian pendahuluan&lt;br /&gt;Kata pengantar &lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;2.Bagian isi&lt;br /&gt;Ringkasan materi (konsep)&lt;br /&gt;Rujukan dari bacaan&lt;br /&gt;Pelatihan &lt;br /&gt;3.Bagian akhir&lt;br /&gt;Disajikan daftar pustaka yang digunakan sebagai bahan rujukan dalam penulisan buku dan ditulis sesuai dengan penulisan daftar pustaka yang standar (nama pengarang, tahun terbit, judul buku, tempat, penerbit). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Kekurangan (-)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Sampul tidak menarik &lt;br /&gt;- Tidak tercantum identitas buku dan pengarang&lt;br /&gt;- Gambar tidak sesuai dengan isi ( tidak proporsional dengan halaman dan warna penyajian secara fisik monoton)&lt;br /&gt;- Daftar isi, secara keseluruhan sudah baik tetapi perlu penampilan yang lebih menarik (warna), tidak ada pembagian tiap semester, sehingga membingungkan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Format&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Kelebihan (+)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Adanya kepadatan ide dalam bacaan didukung dengan bentuk huruf, ukuran huruf dan lembar spasi, sehingga memudahkan dalam membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Kekurangan (-)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Gaya bahasa dan diksi kerang menarik&lt;br /&gt;- Terjadi banyak salah pengetikan&lt;br /&gt;- Format penulisan, khususnya format paragraph, tidak seragam.&lt;br /&gt;- Pengaturan spasi yang tidak enak dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 6&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Annggota Kelompok: &lt;br /&gt;  1. Ahsin Nosafia Rini&lt;br /&gt;  2. Eva Dewi Purwitasari&lt;br /&gt;  3. Nikmatul Zuliana&lt;br /&gt;  4. Rizky Wahyu Permana&lt;br /&gt;  5. Taufik Akbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kelas A/ Off A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Isi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Keilmuan&lt;br /&gt;- Ilmu yang disajikan dalam materi buku ajar sudah cukup mencakup Kompetensi Dasar yang harus dikuasai oleh siswa SMP kelas VII.&lt;br /&gt;b. Sajian&lt;br /&gt;- Penyajian materi ajar yang terdapat pada buku ini kurang jelas&lt;br /&gt;- Cara penyampaian perintah-perintah tugas kurang jelas sehingga dapat menimbulkan kebingungan pada siswa&lt;br /&gt;- Kalimat yang digunakan untuk contoh cukup mudah dipahami&lt;br /&gt;- Teks yang digunakan untuk materi ajar tidak dicantumkan langsung di halaman tersebut, tetapi dilampirkan sehingga cukup menyulitkan untuk membaca.&lt;br /&gt;c. Keterbacaan&lt;br /&gt;-  Kalimat untuk deskripsi tugas sedikit membingungkan sehingga membingungkan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Format&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Tata Letak&lt;br /&gt;- Penempatan gambar dan garis kurang tepat dan bahkan menutupi sebagian tes sehingga mengurangi keterbacaan buku.&lt;br /&gt;b. Grafis&lt;br /&gt;- Gambar yang dipilih kurang menarik dan mendukung teks yang ada&lt;br /&gt;- Warna dalam buku monoton dan cenderung membosankan&lt;br /&gt;- Keterbatasan penggunaan jenis dan warna huruf&lt;br /&gt;- Penataan letak materi dalam buku cukup monoton&lt;br /&gt;c. Dimensi Buku&lt;br /&gt;- Buku terlalu tebal&lt;br /&gt;- Buku terlalu besar bagi siswa&lt;br /&gt;2.4 Visual Buku&lt;br /&gt;- Warna pada halaman muka terlalu pucat sehingga kuran menarik&lt;br /&gt;- Ukuran huruf pada halaman muka kurang besar dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 7&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Amggota Kelompok:&lt;br /&gt;  1. Artha Galuh Rahmania  &lt;br /&gt;  2. Puteri R Agatha&lt;br /&gt;  3. Jannatul Mahfutti &lt;br /&gt;  4. Vania Maherani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Off A/Kls A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. TAMPILAN&lt;br /&gt;- Dari segi cover, untuk siswa SMK kelas 3 memiliki tampilan yang sederhana dan tidak penuh warna. Cocok untuk jenjangnya. Font yang digunakan juga sudah pas.&lt;br /&gt;- Pada hal 1, letak judul buku pada sisi kiri halaman dan bentuknya vertikal, menjadikan pembaca terganggu untuk membacanya. Warna yang digunakan juga terlalu mencolok dan perpaduan warnanya kurang baik. Kata-kata bijak yang terdapat pada halaman pertama fontnya kurang baik sehingga membuat pembaca melewatinya saja.&lt;br /&gt;- perintah-perintah untuk setiap kegiatan memiliki warna yang kurang kontras dan font yang kurang pas.&lt;br /&gt;- Judul buku pada tiap halaman yang ada di pojok kanan atau kiri terlalu besar, sehingga mengganggu fokus ketika membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. ISI&lt;br /&gt;- Terdapat 3 kegiatan dan isisnya sudah mengacu pada indikator. Terdapat kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan lanjutan. Keterampilan yang ada pada indikator sudah lengkap, yaitu menyimak, membaca, menulis dan berbicara. &lt;br /&gt;- Terlalu banyak ruang kosong sehingga membosankan dan menjadikan pembaca tidak fokus.&lt;br /&gt;- Kegiatan-kegiatan, isi, dan substansi sudah pas untuk siswa SMK yang siap kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. FORMAT&lt;br /&gt;- Letak perintah  setiap kegiatan yang kurang tepat (misalnya, kata-kata perintah pada halaman 3, sedangkan soal yang mengacu pada perintah ada pada halaman 4) dan bentuk yang tidak pas&lt;br /&gt;- Banyak terjadi salah ketik&lt;br /&gt;- Warna yang terlalu penuh sehingga terkesan “kekanak-kanakan” untuk siswa SMK kelas 3. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 8&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok:&lt;br /&gt;  1. Apriliana Tiasari 107211402089&lt;br /&gt;  2. Hanif Hububudin 107211407091&lt;br /&gt;  3. Nuraini Wulansari 107 211402892&lt;br /&gt;  4. Siti Nurhasanah  107211402893&lt;br /&gt;  5. Zahratul Mufidah  107211402889&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Off A/Kls A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Judul Buku: "Cerdas Berbahasa Indonesia Untuk SMP Kelas VII"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;A. Format&lt;br /&gt;1.Tata letak&lt;br /&gt;- Menarik, hanya saja masih ada beberapa halaman yang hanya berisi tulisan yang dapat menimbulkan kebosanan dalam membaca mengingat sasaran pembaca buku ini adalah siswa kelas VII. Sebaiknya tata letaknya disiasati dengan menyisipkan gambar atau ilustrasi atau memisahkan dalam kotak-kotak berwarna.&lt;br /&gt;- Ada beberapa bagian yang seharusnya menjadi satu bagian utuh dalam satu halaman yang bereda sehingga sedikit mengganggu konsentrasi. Bagian-bagian yang terpisah terpisah tersebut adalah: D. Memahami dongeng (hal:9), 2.Menentukan tema dongeng (hal:10), Uji Kompetensi nomor 4 (hal:15).&lt;br /&gt;- Bentuk sajian buku lebih berupa makalah karena disajikan satu lembar satu halaman, seharusnya buku disajikan satu dua halaman bolak-balik.&lt;br /&gt;- Teks yang berada di dalam kotak seharusnya disajikan dalam spasi tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Grafis&lt;br /&gt;- Dalam 1 unit, hanya ada 2 gambar yang disisipkan. Sebaliknya gambar atau ilustrasi diperbanyak dalam takaran serasi dan seimbang untuk memerahkan suasana.&lt;br /&gt;- Pemisahan antarbagian sudah cukup jelas karena sudah menggunakan warna-warna yang memperjelas pemisah tersebut.&lt;br /&gt;- Bagian-bagian yang penting (judul per KD, indikator, dan contoh-contoh ) sudah dimasukkan dalam kotak berwarna yang memperjelas bahwa bagian-bagian tersebut harus diperhatikan. &lt;br /&gt;- Dalam 1 halaman tertentu hanya berupa tulisan uraian penjelasan saja, tanpa warna ataupun gambar. Letak grafis yang seperti itu membuat siswa jenuh untuk membacanya karena tampilannya yang monoton.&lt;br /&gt;- Tampilan gambar pada halaman 1 kurang mewakili KD yang dijelask&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Isi&lt;br /&gt;1. Keilmuan&lt;br /&gt;- Dalam 1 unit, hanya terdapat KD: berbicara (1 KD), menulis (3 KD), dan mendengarkan (1 KD). Tidak ada KD membaca&lt;br /&gt;- Isi buku sudah mencangkup tentang bahasa dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sajian&lt;br /&gt;- Sangat mudah diikuti oleh pembaca karena sudah terstruktur menjadi kegiatan awal, inti, dan akhir. &lt;br /&gt;- Ada beberapa kesalahan dalam pengetikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keberbahasaan&lt;br /&gt;- Menarik, penulis meggunakan kota ganti orang kedua (kamu) sehingga pembaca dapat merasa dilibatkan langsung oleh penulis.&lt;br /&gt;- Bahasa yang digunakan oleh penulis sudah cukup baru, sesuaidengan konteks buku yang digunakan untuk proses belajar mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 9&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok&lt;br /&gt;  1. Ahmad Fatoni        (107211402879)&lt;br /&gt;  2. Alfin Ni’matul. M   (107211407099)&lt;br /&gt;  3. Elen Nurjanah         (107211407100)&lt;br /&gt;  4. Neny Ismartini        (107211402886)&lt;br /&gt;  5. Yossy Firmansyah   (107211407092)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Off A/Kls A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Judul Buku: "CAKAP BERBAHASA INDONESIA SMA KELAS X"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A. Dari Segi Isi:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Keilmuwan:&lt;br /&gt;Apakah dalam ilmu-ilmu bahasa, sastra, ketrampilan sudah sesuai?&lt;br /&gt;Dalam bab I materi ajarnya hanya menjelaskan bahasa, tetapi sastra tidak dijelaskan. Sudah mencakup empat ketrampilan bahasa. Dalam KD bab I mencakup ketrampilan menyimak. Sedangkan dalam kegiatan pembelajaran, ketrampilan lainnya sudah tercantum(berbicara, membaca, dan menulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sajian:&lt;br /&gt;Apakah sesuai dengan langkah pembelajaran, sistem pembelajarannya?&lt;br /&gt;Sajian dalam bab I sudah sesuai dengan KD dan indikatornya. Dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran dimulai dari ketrampilan yang mudah kemudian ke sulit. Selain itu buku ini dapat mewakili penjelasan guru. Tetapi ada pernyataan yang kurang tepat. Pada kegiatan awal, terdapat pernyataan ciri-ciri berita yang terdapat di media elektronik. Tetapi kenyataannya siswa disuruh memberikasn centang pada pernyataan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keterbacaan:&lt;br /&gt;Apakah sesuai kadar usia siswa?&lt;br /&gt;Kadar bacaan dalam bab I sudah sesuai dengan usia siswa SMK kelas X. bacannya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit untuk seorang siswa kelas X. Sehingga bacaan tersebut sudah layak untuk diberikan siswa SMK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B. Tata letak:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apakah penampilannya menarik?&lt;br /&gt;Pada halaman sampulnya kurang menarik, gambar model tidak cocok untuk sebuh cover buku pelajaran bahasa Indonesia. Disetiap babnya tidak ada permainan warna, sehingga cenderung monoton. Tidak ada gambar-gambar yang menarik. Dalam kata-kata bijaknya tidak ada permainan warna dan jenis tulisan sebagian fontnya terlalu kecil. Banyak terdapat spasi di antara sebuah pernyataan atau materi ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertanyaan diskusi:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Penanya Marista Dwi. R:&lt;br /&gt;Menurut pendapat kelompok, bagaimana tata letak atau grafis yang sesuai untuk buku ajar tersebut?&lt;br /&gt;2. Penanya Vania Maherani:&lt;br /&gt;Apakah indikator dalam buku itu dapat memberikan bekal ketrampilan bagi siswa SMK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jawab:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Tata letak dalam buku ini sudah rapi, tetapi grafisnya msaih tidak menarik karena kurang adanya warna, buku dibiarkan polos padahal siswa membutuhkan perangsang untuk menarik minat bacanya. Tata letak seharusnya lebih bervariasi dan lebih berwarna walaupun buku ini untuk anak SMK. Buku ajar sebaiknya diberikan gambar-gambar yang sesuai dengan anak SMK seperti kegiatan-kegiatan praktik siswa SMK.&lt;br /&gt;2. Karena buku ini diperuntukkan untuk anak SMK kelas X, maka indikator yang terdapat dalam buku ini hanya atau lebih banyak yang bersifat pengenalan tentang bahasa. Tetapi indikator yang ada dalam buku ini dapat dijadikan bekal untuk siswa SMK nantinya. Seperti yang telah dituliskan pada bab I yang melatih siswa untuk berani berbicara. Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat kelak akan ada sosialisasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 10&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok:&lt;br /&gt;  1. Ahmad Agung Firmansyah&lt;br /&gt;  2. Dian Raya&lt;br /&gt;  3. Marista Dwi Rahmayantis&lt;br /&gt;  4. Ratna Dupitasari&lt;br /&gt;  5. Widya Sartika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Off A/Kls A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. BEDASARKAN ISI&lt;br /&gt;1. Segi Keilmuan&lt;br /&gt;Pada bab 1, kompetensi Dasar pertama adalah menyimpulkan informasi lisan yang bersifat perintah. Dan KD tersebut terdapat beberapa indikator yang masih kurang sesuai dengan pengembangan KD. Teori yang dikemukakan kurang sesuai untuk siswa SMK kelas 2, kerena terlalu susah untuk dipahami. Contoh yang disajikan masih kurang mewakili teori yang telah diberikan. Pada kegiatan awal, terdapat sebuah pertanyaan yang tidak perlu, karena jawaban atas pertanyaan tersebut tidak menyangkut informasi yang telah disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Segi Sajian&lt;br /&gt;Untuk segi sajian, sudah cukup sesuai dengan sasaran yang notabene adalah siswa SMK. Ilustrasi yang telah diberikan juga berhubungan dengan dunia SMK. Penyajian dimulai dengan sebuah ilustrasi contoh informasi lisan, kemudian dilanjutkan dengan teori dan contohnya, serta terdapat latihan soal di akhir bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Segi Keterbacaan&lt;br /&gt;Di dalam bab 1, masih terdapat bagian-bagian yang sulit untuk dipahami, khususnya teori yang dikemukakan cenderung berbelit-belit dan kurang sistematis, sehingga susah dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. BERDASARKAN FORMAT&lt;br /&gt;1. Segi tata letak&lt;br /&gt;Tata letak pada buku ajar ini masih kurang sesuai. Karena halamannya tidak bolak-balik sehingga terkesan kurang menarik, dan memiliki efek kurang menyenangkan karena membuat tebal buku ajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Segi grafis&lt;br /&gt;Jika dilihat dari segi grafis, buku ajar ini masih kurang menarik, karena tidak ada cukup ilustrasi gambar yang disajikan. Ada pula gambar yang justru tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, yaitu SMK, karena gambar yang disajikan terlalu kekanak-kanakan yaitu (sponbob). Sedangkan tampilan cover depan kurang menarik, sebab pemilihan warna dasar dan warna tulisan (font) pada cover kurang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 11&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Nama Angota Kelompok:&lt;br /&gt;  1.Endhah Nur Janah&lt;br /&gt;  2.Furri Adhe Ermawaty&lt;br /&gt;  3.Nisa Urrizqi&lt;br /&gt;  4.Wahyu Agustina&lt;br /&gt;B. OFF B/B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;A. KELEBIHAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1.Isi&lt;br /&gt;- Dalam buku tersebut telah dilengkapi dengan KD serta indicator dari KD tersebut di setiap awal unit dan setiap episode yang disajikan oleh penulis&lt;br /&gt;- Terdapat kesesuaian antara indicator dengan isi buku&lt;br /&gt;- Terdapat kata-kata mutiara atau semacam pepatah di setiap unit&lt;br /&gt;- Terdapat jeda info di setiap unit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Penyajian&lt;br /&gt;- Penyajian dalam buku tersebut menarik karena di dalamnya terdapat tips yang berhubungan dengan kompetensi yang harus dicapai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Format&lt;br /&gt;- Dalam buku tersebut sudah dibagi dari bagian awal, inti, dan penutup, serta dibagi menjadi episode-episode&lt;br /&gt;- Di bagian akhir terlampir kunci jawaban ujian yang bisa digunakan siswa untuk mencocokan latiha-latihan soal yang ia kerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;B. KEKURANGAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1.Isi&lt;br /&gt;- Ejaan dalam daftar isi ada yang tidak sesuai &lt;br /&gt;- Pada unit 1 ada KD yang tidak sesuai dengan SK. SK tentang dialog, tapi KD tentang cerpen (halaman 2)&lt;br /&gt;- Materi tidak sesuai dengan keruntutan indicator (halaman 2-5)&lt;br /&gt;- Kurang konsisten terhadap penyajian aktifitas awal, inti, dan lanjutan.  Ada unit yang tidak dipenuhi (Unit 1)&lt;br /&gt;- Egoisme penulis yang menyebabkan terjadinya oerbedaan antara unit satu dengan unit yang lain. Jadi hal ini menunjukkan bahwa tidak ada keseragaman di antara penulis&lt;br /&gt;- Penyajian materi hendaknya tidak perlu langsung ditunjukkan pada siswa (Unit 2, halaman 12)&lt;br /&gt;- Jika mengutip sebuah cerita, sumber tidak disebutkan dengan jelas (halaman 33)&lt;br /&gt;- Terlalu banyak latihan, sedangkan materi yang ada terlalu sedikit&lt;br /&gt;- Pada Unit 6, penjabaran kompetensi yang dicapai tidak dijabarkan langsung (dibedakan menjadi episode-episode). Ada penulis yang mencantumkan tujuan pembelajaran, ada yang mencantumkan kegiatan (tidak seragam)&lt;br /&gt;- Terlalu padat untuk siswa kelas IX SMP&lt;br /&gt;•- Di bagian akhir buku tidak disertai daftar rujukan/sumber pustaka buku tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyajian&lt;br /&gt;- Sampul kurang menarik minat pembaca. Padanan warnanya kurang kontras, sehingga dalam daftar isi, judul per unit menjadi kabur&lt;br /&gt;- Tat letak tulisan kurang diperhatikan, sehingga buku tersebut kurang terlihat seperti buku (kurang rapi)&lt;br /&gt;- Warna halaman tidak konsisten (Unit 2)&lt;br /&gt;- Ada pokok bahasan yang tidak bisa dibaca karena warnanya kurang kontras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Format&lt;br /&gt;- Penyususnan daftar isi dan sambutan tidak tepat karena terbalik, seharusnya kata sambutan dahulu baru daftar isi&lt;br /&gt;- Tidak dicantumkan halaman pada bagian daftar isi dan kata sambutan, padahal pada daftar isi ditulis&lt;br /&gt;- Setiap awal unit seharusnya tidak diberi halaman&lt;br /&gt;- Dalam daftar isi, komptensi yang harus dicapai siswa tidak perlu diberi nomor KD&lt;br /&gt;- Indikator setiap KD, format penulisannya tidak konsisten (di unit 1 penulisannya hanya “Mampu…”, sedangkan di unit 2 ditulis “Sahabat mampu…”&lt;br /&gt;- Kurang memerhatikan bentuk alinea, semuanya standar rata kiri (halaman 32-33)&lt;br /&gt;- Tidak memerhatikan ejaan penulisan yang bai dan benar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok 12&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Nama Anggota Kelompok&lt;br /&gt;  1. Oppy Prismadewi 207 211 411752&lt;br /&gt;  2. Sesillya Devi L. 207 211 411743&lt;br /&gt;  3. Sigit Setyo W. 207 211 408998&lt;br /&gt;  4. Titien Andriani 207 211 408998&lt;br /&gt;  5. Tassa Ary M. 207 211 411751&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Judul Buku: Semesta Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unit 4 : Belajar dari Dongeng&lt;br /&gt;Pertemuan (1)&lt;br /&gt;Kompetensi Dasar :&lt;br /&gt;• Menemukan hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan.&lt;br /&gt;Indikator : &lt;br /&gt;a) Mampu menceritakan isi dongeng yang diperdengarkan secara lisan atau tertulis&lt;br /&gt;b) Mampu menemukan isi dongeng&lt;br /&gt;c) Mampu mengungkapkan hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan dengan alasan yang logis&lt;br /&gt;• Menunjukan relevansi isi dongeng yang diperdengarkan dengan situasi sekarang. &lt;br /&gt;Indikator : &lt;br /&gt;a) Mampu menentukan tema dongeng yang diperdengarkan &lt;br /&gt;b) Mampu menunjukan relevansi tema dengan situasi sekarang&lt;br /&gt;c) Mampu menyimpulkan pesan dongengdalam bentuk ungkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan (2)&lt;br /&gt;Kompetensi dasar :&lt;br /&gt;• Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca/didengar&lt;br /&gt;Indikator : &lt;br /&gt;a) Mampu mengidentifikasi unsur intrinsik dongeng yang telah dibacakan&lt;br /&gt;b) Mampu menemukan pokok-pokok dongeng&lt;br /&gt;c) Mampu menulis dongeng dengan urutan pokok-pokok dongeng&lt;br /&gt;d) Mampu menulis ringkasan novel yang di dengar dengan bahasa sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Materi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a) Materi sudah sesuai dengan keilmuan. Artinya materi yang disajikan sesuai dengan KD dan indikator masing-masing. Pada buku ajar itu juga sudah ada contoh dongeng dan ke empat aspek bahasa dapat diterapkan dengan baik.&lt;br /&gt;b) Sajian materinya sudah sesuai dengan sasaran. Buktinya bahasa yang disajikan tidak terlalu berat. Masih sederhana dan tidak mengandung ambiguitas kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi &lt;br /&gt;  1. Memahami dongeng dan memahami isinya&lt;br /&gt;  2. Mengidentifikasi tokoh dan watak tokoh&lt;br /&gt;  3. Menentukan tema dongeng yang diperdengarkan&lt;br /&gt;  4. Menunjukan relevansi tema dengan situasi sekarang&lt;br /&gt;  5. Menemukan hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan dengan alas an yang logis&lt;br /&gt;  6. Menyimpulkan pesan dongeng dalam bentuk ungkapan&lt;br /&gt;  7. Membaca dengan mengidentifikasi tokoh, urutan peristiwa, dan pesan dalam dongeng&lt;br /&gt;  8. Menjelaskan unsur-unsur yang menarik dari dongeng&lt;br /&gt;  9. Menyimpulkan alur cerita dan tokoh&lt;br /&gt;  10. Menulis cerita dongeng berdasarkan rancangan yang telah dibuat masing-masing siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembagian materi membingungkan karena penempatan materi-materi disendirikan dan format pengetikannya tidak menarik. Hal ini akan mempengaruhi PBM.&lt;br /&gt;- Pada tema 4, tidak terdapat pembukaan yang menarik, langsung pada proses mendengarkan. Hal itu membuat siswa tidak nyaman dalam pembelajaran di tema ini. &lt;br /&gt;- Pada evaluasi terdapat tes objektif dan subyektif. Sehingga evaluasinya sudah bias dikatakan cukup baik karena sudah mencapai 2 aspek tes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Format &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a) Font : Hurufnya sudah menuruti kaidah penulisan. Selain itu tidak membuat mata rusak.&lt;br /&gt;b) Cover : Pada buku ajar unit 4 ini cover terlalu monoton, gambarnya abstrak, sehingga siswa tidak tertarik untuk membacanya. Warnanya didominasi warna hijau dan tidak bervariasi. Setiap tema diberi gambar tetapi ukurannya terlalu kecil sehingga tidak menarik. Tetapi terdapat kata-kata mutiara yang tidak berhubungan dengan tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kelebihan dan Kelemahan Buku Ajar Tim Restu dkk&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Kelebihan&lt;br /&gt;- Contoh untuk setiap materi tidak hanya satu&lt;br /&gt;- Terdapat gambar-gambar pada setiap temannya&lt;br /&gt;- Font pada buku ajar sudah memenuhi kaidah penulisan menggunakan Times new roman 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kekurangan&lt;br /&gt;- Cover tidak menarik&lt;br /&gt;- Penulisan pada cover tidak rapi (terpotong)&lt;br /&gt;- Banyak halaman kosong yang tidak di manfaatkan&lt;br /&gt;- Kata-kata mutiara tidak berhubungan&lt;br /&gt;- Soal untuk tes subjektif hanya sedikit&lt;br /&gt;- Pengetikan didominasi warna hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Laporan kelompok lain menyusul.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-5989655318928039289?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/5989655318928039289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=5989655318928039289' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5989655318928039289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5989655318928039289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/10/hasil-laporan-diskusi-kelompok-tentang.html' title='HASIL LAPORAN DISKUSI KELOMPOK TENTANG PENGAMATAN BUKU AJAR'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-2646383149140814130</id><published>2009-10-02T18:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T18:36:08.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemberitahuan'/><title type='text'>Target Pekuliahan Menulis Buku Ajar Tahun Ajaran 2009/2010</title><content type='html'>Target perkuliahan Menulis Buku Ajar tahun ajaran 2009/2010 ini berbeda dengan dengan tahun ajaran 2008/2009. Apabila perkuliahan tahun ajaran 2008/2009 mahasiswa (secara berkelompok) dituntut dapat menghasilkan buku ajar untuk satuan pendidikan pada kelas tertentu, pada tahun ajaran 2009/2010 ini mahasiswa (secara individu) dituntut dua hal, yaitu&lt;br /&gt;(1) dapat mengembangkan satu kompetensi dasar pada satuan pendidikan kelas tertentu dalam bentuk buku ajar;&lt;br /&gt;(2) dapat mengembangkan satu kompetensi dasar pada satuan pendidikan kelas tertentu dalam bentuk buku bacaan penunjang pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua target ini harus dikembangkan sesuai dengan tahapan penulisan yang benar. Setiap tahapan penulisan akan dipantau oleh pembina MK dan dipertanggungjawabkan secara berkelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsesi pembina MK adalah hasil target kedua (penulisan buku bacaan penunjang pembelajaran) dapat dipublikasikan oleh penerbit yang berminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ayo, bersemangat. Keberhasilan Anda merupakan saham kesuksesan masa depan Anda.&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-2646383149140814130?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/2646383149140814130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=2646383149140814130' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/2646383149140814130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/2646383149140814130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/10/target-pekuliahan-menulis-buku-ajar.html' title='Target Pekuliahan Menulis Buku Ajar Tahun Ajaran 2009/2010'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-5358016387877859023</id><published>2009-09-30T19:05:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T19:32:27.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemberitahuan'/><title type='text'>Mohon Perhatian bagi Peserta Menulis Buku Ajar Tahun Ajaran 2009/2010 yang Dibina Masnur Muslich</title><content type='html'>Diberitahukan kepada semua peserta Matakuliah Menulis Buku Ajar yang dibina oleh Masnur Muslich bahwa mulai 1 Oktober 2009 ini semua hasil tugas kelompok harus dalaporkan secara tertulis dengan cara mem-&lt;em&gt;posting &lt;/em&gt;-nya label "komentar" di bawah ini.&lt;br /&gt;Setiap laporan hasil tugas kelompok harus mencantumkan:&lt;br /&gt;1. Judul Tugas&lt;br /&gt;2. Kelas/&lt;em&gt;Offering&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;3. Nama anggota kelompok dan NIM-nya masing-masing&lt;br /&gt;4. Uraian hasil tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara demikian, kelompok lain akan mengetahuinya bahkan mungkin akan memberikan komentar terkait dengan isi laporan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap pertama ini, semua kelompok harap melaporkan hasil tugas telaah buku ajar, baik kelompok yang sudah mempresentasikannya di depan kelas maupun kelompok yang belum mempresentasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap diperhatikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-5358016387877859023?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/5358016387877859023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=5358016387877859023' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5358016387877859023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5358016387877859023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/09/mohon-perhatian-bagi-peserta-menulis.html' title='Mohon Perhatian bagi Peserta Menulis Buku Ajar Tahun Ajaran 2009/2010 yang Dibina Masnur Muslich'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-6667994079347254537</id><published>2009-09-30T18:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T06:38:02.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Kegiatan'/><title type='text'>Kegiatan Telaah Buku Ajar pada Matakuliah Menulis Buku Ajar yang Dibina Masnur Muslich</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Peserta Matakuliah Menulis Buku Ajar Offering D Kelas AA sedang menyampaikan hasil telaah buku ajar secara bergilir di depan kelas.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsYAWHwfWaI/AAAAAAAAAfQ/PA91DVbp9JU/s1600-h/DSC00410.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsYAWHwfWaI/AAAAAAAAAfQ/PA91DVbp9JU/s320/DSC00410.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387994384234928546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX_ukwJLWI/AAAAAAAAAfI/FcN3Q1aTPZs/s1600-h/DSC00412.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX_ukwJLWI/AAAAAAAAAfI/FcN3Q1aTPZs/s320/DSC00412.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387993704823336290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX_N2G8uUI/AAAAAAAAAfA/HJ6btmqAJYE/s1600-h/DSC00413.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX_N2G8uUI/AAAAAAAAAfA/HJ6btmqAJYE/s320/DSC00413.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387993142546708802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX-uXIvDrI/AAAAAAAAAe4/Lvri5Rnqfnw/s1600-h/DSC00415.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX-uXIvDrI/AAAAAAAAAe4/Lvri5Rnqfnw/s320/DSC00415.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387992601656757938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX-MO1KZFI/AAAAAAAAAew/twehNmFm2Ec/s1600-h/DSC00416.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX-MO1KZFI/AAAAAAAAAew/twehNmFm2Ec/s320/DSC00416.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387992015311627346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX8RzPq_KI/AAAAAAAAAeo/uJDto325Aa8/s1600-h/DSC00421.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsX8RzPq_KI/AAAAAAAAAeo/uJDto325Aa8/s320/DSC00421.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387989911962582178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peserta Matakuliah Menulis Buku Ajar Offering A sedang menyampaikan hasil telaah buku ajar secara bergilir di depan kelas.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQEnNFngPI/AAAAAAAAAdQ/V0-1sLX467A/s1600-h/DSC00400.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQEnNFngPI/AAAAAAAAAdQ/V0-1sLX467A/s320/DSC00400.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387436125816586482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQHg0FY_6I/AAAAAAAAAeA/Dv8E6yI66-w/s1600-h/DSC00401.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQHg0FY_6I/AAAAAAAAAeA/Dv8E6yI66-w/s320/DSC00401.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387439314560417698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQG_Y2XQTI/AAAAAAAAAd4/3U2yr4BVyv4/s1600-h/DSC00402.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQG_Y2XQTI/AAAAAAAAAd4/3U2yr4BVyv4/s320/DSC00402.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387438740313948466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQGEJKOcaI/AAAAAAAAAdo/TKH61t8O0bo/s1600-h/DSC00404.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQGEJKOcaI/AAAAAAAAAdo/TKH61t8O0bo/s320/DSC00404.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387437722490007970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQFlnLM1AI/AAAAAAAAAdg/kDXoQpUMVDg/s1600-h/DSC00406.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQFlnLM1AI/AAAAAAAAAdg/kDXoQpUMVDg/s320/DSC00406.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387437197971215362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQFEV-aLWI/AAAAAAAAAdY/rKB1Coen45s/s1600-h/DSC00407.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQFEV-aLWI/AAAAAAAAAdY/rKB1Coen45s/s320/DSC00407.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387436626418478434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum hasil telaah buku ajar dapat disimpulkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Masih dijumpai sajian materi buku ajar yang kurang sesuai dengan perkembangan siswa sasaran sehingga terasa sult dicerna leh siswa.&lt;br /&gt;2. Masih dijumpai sajan buku ajar yang terkesan teoretis dan kurang ilustrasu sehingga tidak jauh berbeda dengan buku referensi.&lt;br /&gt;3. Masih dijumpai sajian buku ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Misalnya, kompetensi dasarnya "siswa dapat menulis surat pribadi" tetapi sajiannya berupa penjelasan teoretis tentang menulis surat pribadi.&lt;br /&gt;4. Masih dijumpai sajian materi buku ajar yang tidak/kurang melibatkan siswa untuk mencari, mengamati, mencoba, dan menyimpulkan sendiri. Siswa selalu diberi "ikan", tidak/kurang ada kesempatan siswa untuk "mengail ikan" sendiri.&lt;br /&gt;5. Masih dijumpai format buku ajar yang kurang menarik sehingga membosankan bagi siswa ketika mempelajarinya.&lt;br /&gt;6. Masih dijumpai tata letak buku ajar yang masih monoton sehingga siswa cepat bosan ketika membacanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-6667994079347254537?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/6667994079347254537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=6667994079347254537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/6667994079347254537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/6667994079347254537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/09/kegiatan-telaah-buku-ajar-pada.html' title='Kegiatan Telaah Buku Ajar pada Matakuliah Menulis Buku Ajar yang Dibina Masnur Muslich'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsYAWHwfWaI/AAAAAAAAAfQ/PA91DVbp9JU/s72-c/DSC00410.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-7077032212690499924</id><published>2009-09-23T06:58:00.001-07:00</published><updated>2009-09-23T07:13:53.693-07:00</updated><title type='text'>KIAT PENULISAN BUKU TEKS BERBASIS KETERAMPILAN BERBAHASA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Dawud&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jurusan Sastra Indonesia&lt;br /&gt;Fakustas Sastra Universitas Negeri Malang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. MEMAHAMI DAN MENGIDENTIFIKASI KEDUDUKAN STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Buku Teks Bahasa Indonesia harus didasarkan pada pemahaman yang memadai tentang kedudukan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Secara garis besar, Standar Kompetensi dibedakan atas&lt;br /&gt;(1)Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL SP)&lt;br /&gt;(2)Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SKKMP)&lt;br /&gt;(3)Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL MP)&lt;br /&gt;(4)Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan dengan penjelasan sebaai berikut.&lt;br /&gt;•Pendidikan Dasar (SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs./SMPLB/Paket B) bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut&lt;br /&gt;•Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut &lt;br /&gt;•Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya&lt;br /&gt; Berdasarkan tujuan tersebut, Standar Kompetensi Lulusan&lt;br /&gt;(1)SD dan yang sederajat ada 17 SKL-SP  dan yang memiliki relevansi langsung dengan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah&lt;br /&gt;a.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif (butir 5)&lt;br /&gt;b.Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia (butir 11)&lt;br /&gt;c.Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal (butir 12)&lt;br /&gt;d.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis (butir 16)&lt;br /&gt;e.Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan  berhitung  (butir 17)&lt;br /&gt;(2)SMP dan yang sederat ada 21 SKL-SP  dan yang memiliki relevansi langsung dengan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah&lt;br /&gt;a.Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif (butir 6)&lt;br /&gt;b.Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif  dan santun (butir 16)&lt;br /&gt;c.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana (butir 19)&lt;br /&gt;d.Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana (butir 20)&lt;br /&gt;(3)SMA/MA/SMK/MAK ada 23 SKL-SP  dan dan yang memiliki relevansi langsung dengan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah&lt;br /&gt;a.Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif (butir 6)&lt;br /&gt;b.Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya (butir 14)&lt;br /&gt;c.Mengapresiasi karya seni dan budaya (15)&lt;br /&gt;d.Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok (16)&lt;br /&gt;e.Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun (butir 18)&lt;br /&gt;f.Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan estetis (butir 21)&lt;br /&gt;g.Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris (butir 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SKKMP)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Bahasa Indonesia bersama dengan mata pelajaran lain bertujuan untuk (1) membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air; (2)  mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik; (3) membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. &lt;br /&gt;Berdasarkan tujuan tersebut, standar kompetensi kelompok mata pelajaran yang yang memiliki kegayutan langsung dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia, antara lain, adalah&lt;br /&gt;(1)SD dan yang sederajat&lt;br /&gt;a.Berkomunikasi secara santun &lt;br /&gt;b.Menunjukkan kegemaran membaca&lt;br /&gt;(2)SMP dan yang sederajat&lt;br /&gt;a.Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun&lt;br /&gt;b.Menunjukkan sikap  percaya diri&lt;br /&gt;c.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis&lt;br /&gt;d.Menghargai karya seni dan budaya nasional Indonesia&lt;br /&gt;(3)SMA dan yang sederajat&lt;br /&gt;a.Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi&lt;br /&gt;b.Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis &lt;br /&gt;c.Berkarya secara kreatif, baik individual maupun kelompok&lt;br /&gt;d.Menunjukkan apresiasi terhadap karya estetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MATA PELAJARAN: Bahasa Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(1)SEKOLAH DASAR (SD)/ MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)&lt;br /&gt;a.Mendengarkan&lt;br /&gt; Memahami wacana lisan  berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun dan cerita rakyat&lt;br /&gt;b.Berbicara&lt;br /&gt; Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana,    wawancara, percakapan telepon, diskusi, pidato, deskripsi peristiwa dan benda di sekitar, memberi petunjuk, deklamasi, cerita, pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk dongeng,  pantun, drama, dan puisi&lt;br /&gt;c.Membaca&lt;br /&gt; Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama&lt;br /&gt;d.Menulis&lt;br /&gt; Melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun&lt;br /&gt;(2)SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs): Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;a.Mendengarkan&lt;br /&gt;Memahami wacana lisan dalam kegiatan wawancara, pelaporan, penyampaian berita radio/TV, dialog interaktif, pidato, khotbah/ceramah, dan pembacaan berbagai karya sastra berbentuk dongeng, puisi, drama, novel remaja, syair, kutipan, dan sinopsis novel&lt;br /&gt;b.Berbicara&lt;br /&gt;Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, pengalaman, pendapat, dan komentar dalam kegiatan wawancara, presentasi laporan, diskusi, protokoler, dan pidato, serta dalam berbagai karya sastra berbentuk cerita pendek, novel remaja, puisi, dan drama&lt;br /&gt;c.Membaca&lt;br /&gt;Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami berbagai bentuk wacana tulis, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, drama, novel remaja, antologi puisi, novel dari berbagai angkatan&lt;br /&gt;d.Menulis&lt;br /&gt;Melakukan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk buku harian, surat pribadi, pesan singkat, laporan, surat dinas, petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan, poster, iklan baris, resensi, karangan, karya ilmiah sederhana, pidato, surat pembaca, dan berbagai karya sastra berbentuk pantun, dongeng, puisi, drama, puisi, dan cerpen&lt;br /&gt;(3)SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/ MADRASAH ALIYAH (MA): Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;•Program IPA dan IPS&lt;br /&gt;a.Mendengarkan&lt;br /&gt;Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berberita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel&lt;br /&gt;b.Berbicara&lt;br /&gt;Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama&lt;br /&gt;c.Membaca&lt;br /&gt;Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik&lt;br /&gt;d.Menulis&lt;br /&gt;Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei&lt;br /&gt;•Program Bahasa&lt;br /&gt;a.Mendengarkan&lt;br /&gt;Memahami wacana lisan dalam kegiatan pidato, ceramah/khotbah, wawancara, diskusi, dialog, penyampaian berita, presentasi laporan&lt;br /&gt;b.Berbicara&lt;br /&gt;Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan presentasi  hasil penelitian, laporan pembacaan buku, dan presentasi program, bercerita, wawancara, diskusi, seminar, debat, dan pidato tanpa teks&lt;br /&gt;c.Membaca&lt;br /&gt;Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis berbentuk esei, artikel, dan biografi&lt;br /&gt;d.Menulis&lt;br /&gt;Mengungkapkan pikiran dan informasi dalam wacana tulis berbentuk teks deskripsi, narasi, eksposisi, persuasi dan argumentasi, ringkasan/rangkuman, laporan, karya ilmiah, makalah, serta surat lamaran&lt;br /&gt;e.Kebahasaan&lt;br /&gt;Memahami dan menggunakan  berbagai komponen kebahasaan, baik fonologi, morfologi, maupun sintaksis dalam wacana lisan dan tulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar: Bahasa Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik  untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.&lt;br /&gt;Standar kompetensi yang merupakan kualifikasi menimial yang harus dicapai oleh peserta didik ditujukan untuk mencapai 6 (enam) tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, baik SD,SMP, dan SMA (sederajat), yakni agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1)Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis &lt;br /&gt;(2)Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara&lt;br /&gt;(3)Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan&lt;br /&gt;(4)Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial&lt;br /&gt;(5)Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa &lt;br /&gt;(6)Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Standar kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia diklasifikasi atas ruang lingkup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Standar kompetensi pada komponen kemampuan berbahasa dan bersastra tersebut dijabarkan dalam kompetensi dasar yang disajikan pada setiap tingkat dan/atau semester (suatu) satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II.MENGIDENTIFIKASI DAN MENGEMBANGKAN INDIKATOR KOMPETENSI DASAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan, Standar Kompetensi Lulusan Kelompok Mata Pelajaan, Standar Kompetensi  Lulusan Mata Pelajaran, Standar Kompetensi, dan Kompetensi Dasar telah tersedia dalam kurikulum. Tugas penulis buku teks adalah memahami konsepnya dan memahami hubungan serta kedudukan antar strandar kompetensi tersebut.&lt;br /&gt;Tugas penulis buku teks berikutnya adalah mengidentifikasi dan mengembangkan indikator-indikator kompetensi dasar. Indikator-indikator tersebut tidak terdapat dalam kurikulum. Indikator kompetensi dasar tersebut dikembangkan berdasarkan bangun keilmuan&lt;br /&gt;(1)bahasa dan sastra Indonesia;&lt;br /&gt;(2)kemahiran berbahasa dan bersastra Indoneisa; dan&lt;br /&gt;(3)belajar dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Berikut sebuah contoh mengidentifikasi dan mengembangkan indikator kompetensi dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas  VII, Semester 1&lt;br /&gt;STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR&lt;br /&gt;Menulis&lt;br /&gt;4. Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi &lt;br /&gt;4.1 Menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar&lt;br /&gt;4.2 Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa&lt;br /&gt;4.3 Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik dan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelas VII, Semester 1, terdapat Standar Komptensi (Menulis) Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi. Indikator Standar kompetensi tersebut dapat diidentifikasi&lt;br /&gt;• mengungkapkan pikiran dalam tulisan&lt;br /&gt;• mengungkapkan pengalaman dalam tulisan.&lt;br /&gt;• menulis buku harian&lt;br /&gt;• menulis surat pribadi&lt;br /&gt;Keempat indikator standar kompetensi tersebut, dalam kurikulum, dirumuskan, digabung, dan dibatasi dalam 3 (tiga) kompetensi dasar, yakni&lt;br /&gt;4.1 Menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar&lt;br /&gt;4.2 Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa&lt;br /&gt;4.3 Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik dan benar&lt;br /&gt;Indikator keempat kompetensi dasar tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut.&lt;br /&gt;• Menulis buku harian/pengalaman pribadi&lt;br /&gt; Mengungkapkan pikiran (saat dan sesudah mengalami suatu peristiwa)&lt;br /&gt; Mengungkapkan pengalaman pribadi&lt;br /&gt; Menggunakan bahasa yang efektif, baik, dan benar (sesuai dengan karakteristik buku harian/pengalaman pribadi)&lt;br /&gt;• Menulis surat pribadi&lt;br /&gt; Komposisi surat pribadi&lt;br /&gt; Isi surat pribadi&lt;br /&gt; Bahasa surat pribadi&lt;br /&gt;• Menulis teks pengumuman (diutamakan berdasarkan pengalaman pribadi)&lt;br /&gt; Komposisi teks pengumuman&lt;br /&gt; Isi teks pengumuman&lt;br /&gt; Bahasa teks pengumuman yang efektif, baik, dan benar&lt;br /&gt;Berdasarkan indikator tersebut, penulis buku teks keterampiran berbahasa harus mencari rujukan teoretis dan konseptual yang benar, setidak-tidaknya, tentang (cara-cara menyusun):&lt;br /&gt;(1) Buku Harian atau tulisan (artikel, misalnya) pengalaman pribadi&lt;br /&gt;• Karakteristik buku harian atau artikel pengalaman pribadi&lt;br /&gt; Wujud&lt;br /&gt; Unsur&lt;br /&gt; Sifat&lt;br /&gt; Tujuan penulisan&lt;br /&gt;• Cara pengungkapan pikiran/pengalaman dalam buku harian/artikel pengalaman pribadi&lt;br /&gt; Ekspresi: lucu, sedih, gembira&lt;br /&gt; Isi: ringan dan keseharian&lt;br /&gt;• Bahasa yang efektif, baik, dan benar&lt;br /&gt; Pilihan kata &amp; ungkapan&lt;br /&gt; Struktur kalimat &amp; wacana&lt;br /&gt;(2)Surat Pribadi&lt;br /&gt;• arakteristik surat pribadi&lt;br /&gt; Wujud&lt;br /&gt; Unsur&lt;br /&gt; Tujuan penulisan&lt;br /&gt;• Komposisi surat pribadi&lt;br /&gt; Alamat&lt;br /&gt; Pembuka&lt;br /&gt; Isi&lt;br /&gt; Penutup&lt;br /&gt; Pengirim&lt;br /&gt;• Bahasa surat pribadi&lt;br /&gt; Pilihan kata &amp; ungkapan&lt;br /&gt; Struktur kata, kalimat &amp; wacana&lt;br /&gt;(3)Teks Pengumuman&lt;br /&gt;• Jenis pengumuman (yang dipilih)&lt;br /&gt;• Komposisi&lt;br /&gt; Tata letak&lt;br /&gt; Huruf /fon&lt;br /&gt; Warna&lt;br /&gt;• Isi&lt;br /&gt; Sasaran yang dituju&lt;br /&gt; Pembuka&lt;br /&gt; Pokok&lt;br /&gt; Penutup&lt;br /&gt; Memberi pengumuman&lt;br /&gt;• Bahasa&lt;br /&gt; Pilihan kata&lt;br /&gt; Struktur kalimat &amp; wacana&lt;br /&gt; Pilihan ungkapan deklarasi dan persuasi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;III. PENGEMBANGAN INDIKATOR KOMPETENSI DASAR KE DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Indikator kompetensi dasar dan pokok-pokok bahan konseptual dan teoretis tersebut diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dapat diklasifikasi atas kegiatan pembuka, kegiatan pokok, dan kegiatan penutup. Kegiatan pembuka dapat berisi kegatan apersepsi atau kegiatan prasyarat untuk masuk ke kegiatan pokok. Kegiatan pokok merupakan perwujudan indikator kompetensi dasar yang berisi kegiatan pembelajaran. Kegiatan penutup dapat berupa kegiatan pengayaan atau kegiatan penilaian.&lt;br /&gt;Berikut contoh pengembangan menulis buku harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kegiatan Awal &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;A. Mengembangkan Kalimat Topik secara Terbimbing&lt;br /&gt;B. Mengembangkan Kalimat Topik secara Kreatif&lt;br /&gt;(Catatan: kegiatan awal yangdipilih adalah kegiatan prasyarat untuk menulis, yakni menulis kalimat topik dan mengembangkan kalimat topik secara kreatif dengan menuliskan kalimat-kalimat penjelasnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kegiatan Pokok&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;C. Mengenali Unsur-Unsur Suatu Peristiwa&lt;br /&gt;D. Mencermati Model Penulisan di Buku Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Model 1&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Senin, 14 Juli 2007, hari pertama di sekolah&lt;br /&gt;07.00—08.00. Teman baru banyak yang tak kukenal. Hanya Ina teman SD-ku yang satu sekolah, nggak satu kelas lagi. Upacara beda regu. Arahan guru dan OSIS.&lt;br /&gt;08.30—10.00. Di kelas, diatur kakak OSIS. Berlagak. Sok ngatur.&lt;br /&gt;Selasa, 15 Juli 2007, pukul 12.30 di kantin sekolah.&lt;br /&gt;Perut keroncongan. Antre bejibun. Habis orientasi dan baris, sama-sama lapar. Nanti aja beli bakso di depan kos&lt;br /&gt;Rabu, 16 Juli 2007, di rumah kos&lt;br /&gt;Belajar masak (biar irit). Konyol, nasi hitam, gosong&lt;br /&gt;Sabtu, 19 Juli, tepi danau, 17.30&lt;br /&gt;Kemah di danau dekat bukit kecil. Langit senja kemerahan. Andai bukit ini ditumbuhi bunga, kayak di manca, wuah indahnya. Tapi, apa pun kemah ini mengesankan, rasa nano-nano: dingin, jengkel, kadang takut, dan .... bergembiara ria&lt;br /&gt;Sabtu, akhir bulan&lt;br /&gt;Dua minggu indekos. Uang menipis, malam minggu kelabu. Mau beli mie bakso nggak kesampaian. Wajah Mama tampak dalam bayangan. Ok! Mam, masakanmu terueeenaak di dunia, ternyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Model 2&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Singkawang, 22 November 2007,  pk. 20.00&lt;br /&gt;Malam ini aku benar-benar lelah, baik badan maupun pikiran. Badanku lelah karena seharian bekerja keras membantu korban tanak longsor di daerah ini, sedangkan pikiranku letih mengingat betapa pilunya hatiku melihat keadaan para korban.&lt;br /&gt;Hari ini aku dan teman-teman harus menolong dua orang korban lagi yang baru ditemukan. Yang seorang bernama Dini, seorang gadis kecil yang selamat dari reruntuhan rumahnya, sedangkan yang seorang lagi seorang bapak yang patah kakinya karena tertimpa dahan ketika berlari menyelamatkan diri. Keadaan Dinilah yang benar-benar membuat hatiku trenyuh. Ia adalah gadis kecil yang tak berdaya, sementara kedua orang tuanya meninggal tertimbun tanah longsor. Sementara ini, ia kutitipkan pada Ibu Fatimah. Melihat kondisi Ibu Fatimah yang juga dalam keadaan sengsara, terpikir olehku untuk membawa Dini ke rumahku. Tetapi apakah mungkin? Nantilah kupikirkan lagi&lt;br /&gt;Hari ini Andi banyak membantuku. Kulihat ia sangat kuat dan tak mengenal lelah. Menurut informasi dari Posko, masih ada sekitar enam orang yang belum ditemukan. Besok teman-teman masih akan membantu pencarian korban. Menurut pendapatku, lereng sebelah selatanlah yang harus diperhatikan sebab di sana rumah penduduknya lebih rapat. Akan tetapi, untuk soal ini Kak Amri tetap ngotot untuk menyusuri lereng utara. Ya, biarlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Menulis Catatan di Buku Harian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: kegiatan pokok yang dipilih adalah kegiatan deduktif-induktif; teori dan praktik; teori-contoh-praktik menulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kegiatan Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: Kegiatan penutup yang dipilih adalah kegiatan pengayaan. Kegiatan ini dilakukan secara terintegasi dengan kemampuan bersastra, yakni membaca novel dan cerpen; dan mengenali piranti kohesi melalui membaca cerpen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Mengenali Unsur-Unsur Suatu Peristiwa dalam Novel Laskar Pelangi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Dikutipkan Novel &lt;em&gt;Laskar Pelangi &lt;/em&gt;hlm 256—268)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. Mengenali Kepaduan Paragraf dalam Cerita Pendek Dermaga karya Lan Fang&lt;br /&gt;Dermaga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berada di dermaga. Aku sangat suka dermaga. Dari pinggir dermaga, aku bisa melihat laut lepas dan langit luas. Menurutku, dermaga adalah sebuah tempat yang nyaman. Dermaga juga sebuah sandaran. Setelah jauh melaut, bukankah harus kembali? Dan dermaga adalah tempat melabuhkan semua penat. &lt;br /&gt;Ini dermaga di ujung laut Gresik. Hanya sebuah dermaga sederhana yang ditata dari kayu. Laut sedang surut sehingga tepinya tampak seperti lumpur. Ada beberapa ketam kecil berlarian di atasnya. Perahu-perahu kayu sedang tertambat. Ada nelayan yang sedang menjahit jaring. Juga ada yang sekadar cangkruk menunggu waktu melaut. &lt;br /&gt;Dermaga ini jauh berbeda dengan Dermaga Docklands di Melbourne yang pernah kukunjungi. Itu dermaga tempat merapat kapal-kapal motor. Laut dan langitnya tampak sangat biru. Di tepinya ada sebuah bar. Di sana kami pertama kali bertemu sekaligus berpisah tanpa kata-kata perpisahan. &lt;br /&gt;Sebetulnya sebuah dermaga tidak terlalu perlu untuk diingat-ingat. Tepatnya, aku tidak perlu mengingat-ingat dia lagi. Bukankah kami sudah berpisah? Dan tidak ada yang perlu diingat dari perpisahan. &lt;br /&gt;Tetapi dermaga selalu membuatku teringat kepadanya. Ia memiliki sepasang mata yang sangat kukagumi. Juga tak mungkin kulupakan. Sepasang mata indah yang teduh. Bening seperti pantulan cermin. Bagai langit yang becermin pada laut. Atau laut yang mengaca kepada langit. Entahlah. Itu tidak terlalu perlu bagiku. Karena aku melihat pantulan diriku di matanya. &lt;br /&gt;Tetapi aku bukan sekadar menyukai matanya. Aku juga menyukai rambutnya yang berwarna seperti helai-helai jagung. Terlebih lagi bibirnya yang terlihat segar. Kupikir, itu bibir yang enak untuk dicium. &lt;br /&gt;"Aku tidak merokok," jawabnya ketika hampir setengah hari kami bersama. Ia sama sekali tidak mengeluarkan sebatang rokok pun. &lt;br /&gt;Pantas saja! Aku suprise sekali. &lt;br /&gt;"Tapi aku suka nge-bir," sambungnya sambil tertawa. Tampak menarik sekali. &lt;br /&gt;Sejak hari itu ia selalu mentraktirku minum sambil duduk-duduk di pelataran Dermaga Docklands. Ia pemilik Fish Bar. Sebuah bar yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil di tepian Dermaga Docklands. Ia meletakkan banyak kursi dan meja bulat di pelatarannya. Sehingga dari pelataran bisa mencium udara laut. Udara yang membuat dadaku terasa lapang ketika mengirupnya dalam-dalam. &lt;br /&gt;Aku sudah seminggu di Melbourne. Kantorku sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan sedang membuat iklan untuk promosi sebuah biro perjalanan. Aku diberi waktu sebulan untuk memotret Australia. Dan kupilih Melbourne sebagai tempat tinggalku untuk sementara. Karena bagiku Melbourne tidak sesibuk Sydney. &lt;br /&gt;Aku kerasan di sini. Aku sangat menikmati trotoar Melbourne yang lebar, rapi, dan bersih. Tidak banyak kendaraan lalu lalang dengan berisik, berdebu, dan semrawut. Mataharinya juga tidak seterik Surabaya. Sehingga aku lebih sering berjalan kaki bila hendak menjemput senja di Dermaga Docklands. &lt;br /&gt;Awal perkenalanku dengannya sangat klise. Seperti adegan roman remaja saja. Sebagai pemilik Fish Bar sudah tentu ia harus ramah kepada pengunjung barnya. Memberikan senyum, menyapa, "Hallo, how are you?" dan "thank you" untuk segelas minuman yang kubayar. Tidak ada yang istimewa.&lt;br /&gt;...................&lt;br /&gt;Cerpen Lan Fang Dimuat di Jawa Pos 01/20/2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-7077032212690499924?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/7077032212690499924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=7077032212690499924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7077032212690499924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7077032212690499924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/09/kiat-penulisan-buku-teks-berbasis.html' title='KIAT PENULISAN BUKU TEKS BERBASIS KETERAMPILAN BERBAHASA'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-2338572596506059260</id><published>2009-09-22T04:58:00.001-07:00</published><updated>2009-09-22T05:05:14.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pengembangan Model Bacaan Anak Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal</title><content type='html'>Oleh:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Drs. Masnur Muslich, M.Si&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prawacana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemunculan topik ini dipicu oleh kenyataan bahwa bacaan anak yang saat ini beredar didominasi oleh bacaan terjemahaan baik berupa novel maupun komik yang bersumber dari budaya asing. Buku-buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon selalu menjadi pilihan untuk dibeli anak. Selain buku komik Jepang tersebut, seri terjemahan dari Walt Disney juga menguasai pasaran. Merebaklah tuduhan bahwa bacaan-bacaan tersebut telah memelintir anak-anak bangsa hingga hanya memiliki segelintir nilai-nilai universal yang canggung dan kehilangan akar budayanya patut direnungkan. Di mana buku bacaan anak karya pengarang dalam negeri yang bersumber dari akar budaya sendiri yang menarik anak? Pada sisi lain, informasi dan acara yang ditayangkan media televisi lebih mengarah ke ”etika informasi bebas’ sehingga masyarakat (khususnya anak-anak) selalu disuguhi adegan kekerasan, perampokan, tabrak lari, pornografi, dan sebagainya yang pada dasarnya kurang mencerminkan, bahkan berseberangan dengan, nilai-nilai budaya bangsa dan kearifan lokal yang selama ini dianut oleh masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;Untuk menganntisipasinya, anak perlu diberikan sarana bacaan yang sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini dianutnya, yaitu nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di lingkungannya. Ke depan, apabila nilai-nilai lokal tersebut tertanam pada diri anak, akan tercipta apresiasi yang tinggi terhadap kearifan lokal, yang sekaligus dapat membentengi pengaruh budaya global yang berseberangan dengan budaya lokal. Upaya ini didasari oleh asumsi bahwa (1) buku mencerminkan dan menyeberangkan ide, impresi, sikap, dan citra tertentu, (2) bacaan anak (baca:sastra anak) mengomunikasikan informasi, sikap, nilai yang disetujui orang-orang dewasa lewat penulisannya, (3) citra dan nilai dalam bacaan anak membentuk konsep mengenai perilaku budaya tertentu.&lt;br /&gt;Untuk memenuhi tujuan ini, penulis tengah mengadakan penelitian tentang pengembangan model bacaan anak berbasis kearifan lokal. Penelitian ini diharapkan memperoleh seperangkat panduan penyusunan bacaan berbasis kearifan lokal yang cocok bagi anak dan seperangkat bacaan anak yang mewakili nilai-nilai kearifan lokal. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif dan desain penelitian pengembangan, hasil penelitian ini diharapkan memiliki implikasi praktis dan teoretis. Hasil yang berupa panduan penyusunan bacaan yang dihasilkan penelitian ini dapat dipakai sebagai panduan penyusunan buku bacaan yang berorientasi pada kearifan lokal bagi penulis buku bacaan anak. Prototipe model bacaan yang dihasilkan penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan acuan bagi siapa saja (khususnya penulis buku bacaan anak) ketika bermaksud menyusun buku bacaan yang berorientasi pada kearifan lokal. Buku bacaan yang dihasilkan penelitian ini pun dapat dipakai sebagai alternatif bahan pembelajaran terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di masyarakat oleh guru mata pelajaran PKn, IPS, atau Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Bacaan Anak sebagai Kebutuhan&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan perkembangan anak dikatakan sempurna apabila sehat fisik dan mental. Untuk memenuhi sehat fisik diperlukan makanan yang bergizi pada menu makanan sehari-hari. Sementara itu, untuk memenuhi sehat mental pun diperlukan “makanan yang bergizi” pula. Tetapi, fenomena yang saat ini terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, mental anak sering disuguhi “makanan yang kurang bergizi’ bahkan sering disuguhi “racun”. Perilaku kekerasan, pencurian, kasus korupsi, pornografi yang jelas-jelas tidak bernilai pendidikan dan kemanusiaan selalu diberitakan media masa dan menjadi santapan mental anak setiap saat. Buku-buku bacaan yang menarik bagi anak pun kurang bahkan tidak mencerminkan budaya mereka. Lihat saja, ada berapa ribu jilid buku bacaan anak terjemahan dari budaya asing yang dikerubuti anak di setiap toko buku dan laris manis. Bahkan, banyak anak kita yang sudah kecanduan buku-buku bacaan berseri hasil terjemahan dari penulis asing. Padahal, idealnya, mental dan  pikiran anak dalam keseharian mesti disuguhi “makanan bergizi”. Dalam konteks ini adalah buku bacaan yang bernilai pendidikan dan kemanusiaan yang diangkat dari budaya sendiri yang penuh nilai-nilai kearifan.  &lt;br /&gt;Pada sisi lain, kebiasaan membaca, sebagai salah satu kegiatan positif, perlu ditumbuhkembangkan sejak usia dini khususnya dalam dunia pendidikan. Meningkatkan budaya baca anak sebagai strategi pendidikan merupakan tugas kita semua: pemerintah, pemerhati budaya, guru, akademisi, penulis cerita, orang tua, masyarakat. Strategi ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena kondisi masyarakat kita belum menjadikan membaca sebagai budaya. Padahal, budaya baca merupakan salah satu indikator kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;Hambatan untuk menumbuhkembangkan minat baca pada anak begitu besar. Di rumah, acara-acara televisi dan permainan video game telah membuat anak semakin menjauhi buku-buku yang mestinya dibaca. Lingkungan tempat tinggal anak pun belum mendukung agar anak gemar membaca. Kebiasaan atau budaya-baca di lingkungan anak belum menjadi bagian dari hidupnya. &lt;br /&gt;Di sekolah, upaya atau program gemar membaca masih sebatas slogan-slogan di perpustakaan. Guru pun boleh dikatakan belum menjadi panutan untuk menumbuhkan minat-baca pada anak. Guru masih sebatas menyuruh anak-anak agar gemar membaca sedangkan guru sendiri belum menjadikan dirinya sebagai contoh (baca: model) sosok yang gemar membaca. Guru belum banyak berbuat untuk meningkatkan aktivitas membaca pada dirinya, dengan berbagai alasan pembenar yang dicari-cari. Padahal, karier seorang guru mesti diawali dengan aktivitas membaca sebelum melangkah ke aktivitas lain. &lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan minat baca anak, penyediaan buku bacaan sastra anak dipandang sebagai cara yang paling tepat. Mengapa demikian? Sastra dipercaya mempunyai pengaruh yang signifikan dalam perkembangan anak. Ia memberi kenikmatan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman baru, memberi pengertian atas kebiasaan manusia, dan memperkenalkan keuniversalan pengalaman (Huck, 1993). Bahkan, pendidikan melalui sastra memainkan peran penting dalam membentuk citra budaya yantertentu (Toha-Sarumpaet, Tanpa Tahun). Falcon (1986) menekankan bahwa buku adalah elemen penting dari ‘the industry of culture’ sekaligus elemen normatif dalam pengenalan budaya. Menyadari peran yang dimainkan sastra dalam membentuk dan memperkenalkan budaya, dan mengetahui bahwa informasi dan citra yang “stereotypic” dan karikatural serta tidak akurat mengenai kelompok-kelompok budaya sangatlah berbahaya bagi anak-anak yang sedang bertumbuh (Lloyd, 1981), perlu disadari oleh semua pihak dengan cara menyediakan buku bacaan anak yang mendukung citra dan nilai budaya yang positif dalam segala aspek. Dalam kasus ini, penyediaan buku bacaan anak berbasis kearifan lokallah sebagai salah satu pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kondisi Sastra Anak Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu bentuk karya sastra, wujud pertama sastra anak dapat dilihat dari bahannya, yaitu bahasa. Dalam pemakaian bahasa, sastra anak tidak mengandalkan satu bentuk keindahan sebagaimana laiknya karya sastra. Yang paling penting untuk ditonjolkan dalam sastra anak adalah fungsi yang hadir bersamanya, yaitu aspek pragmatis. Namun, karena berpatok kaku pada tataran ini. banyak karya sastra anak Indonesia yang terjebak dalam tema yang itu-itu saja, kurang bahkan tidak berkembang. Hal yang sangat menampak adalah penonjolan unsur didaktis yang kuat sehingga menimbulkan kesan menggurui dan melemahkan cerita. &lt;br /&gt;Di Indonesia, pemerhati sastra anak masih dapat dihitung dengan jari. Sastra anak seolah terpinggirkan, jarang peneliti sastra yang memperhatikannya. Hanya segelintir orang saja yang getol berbicara tentang sastra anak, katakanlah Murti Bunanta, Sugihastuti, Riris K. Toha-Sarumpaet, dan Christantiowati. Mereka inilah yang menelorkan literatur tentang sastra anak, walaupun dalam periode awal, tulisan tersebut adalah hasil olahan dari skripsi. Literatur tersebut antara lain: (1) Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakikat Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak Serta Minat Anak Pada Bacaannya (Jakarta: UI, 1975) karya Riris K. Toha Sarumpaet, (2) Bacaan Anak Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 (Balai Pustaka, 1996) karya Christantiowati, (3) Serba-Serbi Cerita Anak (Pustaka Pelajar, 1996) karya Sugihastuti, (4) Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak-Anak (Balai Pustaka, 1991) oleh Wimanjaya K. Liotohe. Sementara literatur yang paling belakang muncul (5) Cerita Anak Kontemporer (Nuansa, 1999) oleh Trimansyah, dan (6) Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak Indonesia (Balai Pustaka, 1998) oleh Murti Bunanta.&lt;br /&gt;Pembaca pemula (baca: anak usia dini) di Indonesia pada umumnya mengenal bacaan melalui majalah anak-anak seperti Bobo, Bocil, Mentari, buku-buku cerita bergambar (picture book) terjemahan Gramedia dan Elex Media, juga buku-buku bernuansa Islami dari Mizan. Buku cerita bergambar ini banyak mengajarkan anak berbagai ragam tema dan persoalan. Sejak usia dini anak dikenalkan nilai-nilai pluralisme, penyesuaian diri, lingkungan hidup, etika, kontrol diri, kerjasama, berbagi, persahabatan, toleransi, cinta kasih, rasa takut, dan sebagainya. Setelah itu, disusul oleh bacaan komik-komik Jepang yang begitu banyak ragam judul dan temanya. &lt;br /&gt;Pada periode berikutnya, ketika di sekolah, mereka baru mengenal buku-buku cerita rakyat Indonesia yang menjadi salah satu basis dari genre sastra anak. Buku cerita rakyat di sekolah biasanya dikoleksi melalui program pemerintah. Itupun tidak banyak. Dari koleksi buku sekolah yang ada, hanya puluhan saja  yang merupakan cerita rakyat. Judulnya pun berkisar cerita rakyat yang sudah populer, misalnya Timun Mas, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Cindelaras, Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Joko Kendil.&lt;br /&gt;Sastra Anak Indonesia bisa dikatakan tersubordinasi oleh bacaan terjemahan. Anak-anak kita menjadi tamu di negeri sendiri. Kenyataannya memang demikian. Penerbit lebih memilih karya terjemahan dengan alasan ekonomis. Lihat saja, Seri Pustaka Kecil Disney yang terbit 29 judul (al: Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan 7 Orang Kerdil), 8 judul Seri Petualanganmu yang Pertama, (antara lain: Burung Hantu Kecil Meninggalkan Sarang, Kelinci Kecil Bermain dengan Adik, Ulang Tahun Babi Kecil) oleh Marcia Leonard, 12 judul Seri Boneka Binatang (antara lain: Bello Naik balon Udara, Bello Mendapat Sahabat, Bello Punya Kapal Selam) oleh Tony Wolf, 6 judul Seri Jennings oleh Anthony A. Buckeridge, 3 judul Seri Adikku yang Nakal oleh Dorothy Edwards.&lt;br /&gt;Seri-seri detektif juga mewarnai karya terjemahan, misalnya Seri Klub Detektif karya Wolfgang Ecke, Seri Enstein Andersen oleh Seymore Simon, dan Seri Klub Ilmuwan Edan karya Bertrand R. Brinley. Namun ada juga cerita-cerita lucu, seperti 15 judul Seri The Baby Sitter Club karya Ann. M. Martin. Satu lagi, Ratu Tukang Cerita, Enid Blyton, yang telah mengarang lebih dari 700 judul buku yang diterjemahkan dalam 129 bahasa. Karya terjemahan Enid Blyton bertebaran di Indonesia, tidak kurang dari 28 judul Seri Mini Noddy (al: Belajar Jam Bersama Noddy, Belajar Berhitung Bersama Noddy, Belajar Berbelanja Bersama Noddy), 21 judul Seri Lima Sekawan yang juga telah difilmkan, 6 judul Seri Komplotan, 6 judul Seri Kembar, 3 judul Seri Sirkus, 6 judul Seri Mallory Towers, dan 3 judul Seri Gadis Badung.&lt;br /&gt;Begitulah, karya-karya terjemahan tersebut telah menenggelamkan karya-karya sastra anak lokal yang tidak dapat muncul di permukaan. Kebanyakan hanya menghuni rak-rak perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi pemerintah melalui program Inpres dan DAK. Dibanding dengan karya terjemahan yang terbit, kualitas fisik karya lokal tersebut memang jauh di bawah. Karya-karya terjemahan muncul dengan tampilan gambar, warna, dan kertas yang menawan.&lt;br /&gt;Kemandegan sastra anak lokal juga diperparah oleh tidak adanya program-program sastra di sekolah dan di perpustakaan yang membicarakan buku lokal, kecuali untuk buku-buku sastra remaja dan dewasa karya pengarang muda yang cepat sekali mendapat apresiasi dan terjual puluhan ribu kopi, katakanlah Dewi Lestari, Ayu Utami, dan Habiburrahman El Shirazi. Bahkan, siapapun orangnya, posisi pengarang bacaan anak tidaklah menarik untuk dikupas. Hal ini menampak ketika para selebritis menulis buku untuk anak, seperti Soraya Haque, Marisa Haque, Vinny Alvionita, Gito Rollies, Dwiki Dharmawan, dan Monica Oemardi. Bandingkan dengan buku anak karangan Madonna yang mutunya biasa saja tetapi gemanya sudah ke mana-mana. Jika demikian, semakin lemahlah orang-orang yang benar-benar intens di jalur ini, seperti pengarang muda Donny Kurniawan dan Eko Wardhana yang karya-karyanya cukup menjanjikan. &lt;br /&gt;Memang ada pengarang sastra anak yang cukup beruntung di periode terkini, yaitu Murti Bunanta yang karya dwi bahasanya Si Bungsu Katak (Balai Pustaka, 1998) mendapat penghargaan internasional, The Janusz Korczak International Literary Prize Honorary Award dari Polandia. Juga karya Legenda Pohon Beringin (KPBA, 2001) yang mendapat hadiah utama Octogones 2002 for Reflets d’Imaginaire d’Ailleurs. Bukan cuma itu. Sebuah buku ceritanya, Kancil dan Kura-kura (KPBA, 2001) yang mengadaptasi cerita dari Kalimantan Barat, telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang dan dipanggungkan di sana oleh sebuah grup teater anak profesional selama satu tahun. Murti Bunanta juga diminta oleh penerbit Amerika (Westport, Library Unlimited Inc.) untuk menuliskan buku cerita rakyat Indonesia yang kemudian terbit tahun 2003 dengan judul Indonesian Folktales. Kini, dia menggagas dan menerbitkan buku-buku kecil untuk anak dan pembaca yang mulai belajar bahasa Indonesia. Buku-buku tersebut kemudian diketahui laku dibeli oleh 52 perpustakaan di Singapura dan rencananya juga akan dapat dibeli di Australia.&lt;br /&gt;Tantangan pengarang sastra anak Indonesia dewasa ini menjadi demikian berat karena tidak saja melawan sesama pengarang buku anak di dunia, tetapi juga melawan daya tarik media elektronik dan kemajuan teknologi yang pesat. Sebuah Perpustakaan Digital Anak-Anak Internasional (International Children’s Digital Library) telah hadir di Library of Congress (Amerika) yang telah mencatat 275 buku koleksi yang dipilih dari buku-buku terbaik di dunia yang dapat diakses cuma-cuma melalui jaringan internet. Diperkirakan tahun ini akan mencapai 10.000 buku dalam lebih dari 100 bahasa. Karya-karya yang dikoleksi meliputi buku action, petualangan, dongeng, cerita pendek, dan drama. Namun, yang paling merisaukan adalah adanya usaha mengambil alih cerita rakyat Indonesia oleh pengarang Barat. Contoh nyata terjadi pada cerita-cerita asal Bali yang kemudian ditulis oleh Ann Martin Bowler dengan ilustrator I Gusti Made Sukanada yang berjudul Gecko’s Complain, juga Balinese Children Favorite Stories yang ditulis oleh Victor Mason dengan ilustrator Trina Bohan-Tyrie.&lt;br /&gt;Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, para pengarang cerita anak kita harus cepat bertindak menggali potensi cerita yang banyak bertebaran di bumi Indonesia. Patut diacungi jempol bagi Kelompok Pencinta Bacaan Anak yang telah menerbitkan berbagai buku cerita rakyat, antara lain Suwidak Loro, Si Kancil dan Kura-Kura, Kancil dan Raja Hutan, Si Kecil, Si Bungsu Katak, dan Senggutru dengan sampul hard cover dan dwibahasa. Cerita-ceritanya pun dapat disederhanakan dan didongengkan di kelas untuk anak usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan Lokal sebagai Basis Buku Bacaan Anak&lt;br /&gt;Istilah “kearifan lokal” atau  local wisdom mempunyai arti yang sangat mendalam dan menjadi suatu kosakata yang sedang familiar di telinga kita akhir-akhir ini. Banyak ungkapan dan perilaku yang bermuatan nilai luhur, penuh kearifan, muncul di komunitas lokal sebagai upaya dalam menyikapi permasalahan kehidupan yang dapat dipastikan akan dialami oleh masyarakat tersebut. Hal ini muncul ke permukaan karena tidak adanya solusi global yang dapat membantu memberikan jawaban terhadap segala kejadian yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Premis-premis umum yang selama ini menjadi standar bersama dalam membedah dan "mengobati" setiap penyakit yang timbul sudah tidak lagi menjangkau permasalahan yang mengemuka di komunitas lokal. Masyarakat yang menghuni di suatu tempat tertentu sudah dapat menyelesaikan permasalahannya dengan solusi yang penuh kearifan tanpa harus memakai standar yang berlaku secara umum. &lt;br /&gt;Di sisi lain, komunitas lokal (local community) menjawab tantangan kehidupan ini dengan kearifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Kearifan atau kebijaksanaan (wisdom) tersebut muncul bisa jadi karena pengalaman yang selama ini terjadi telah menjadikannya sebagai jawaban dan solusi terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Faktor keterlibatan para pendahulu, nenek moyang, yang mewariskan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya menjadi sangat penting bagi terjaganya kearifan tersebut. Dalam perkembangannya, bisa jadi kearifan yang timbul antarkomunitas lokal itu berbeda dengan yang lainnya, tanpa menghilangkan subtansi yang dimiliki dari nilai kearifan tersebut, yaitu berfungsi sebagai solusi terhadap masalah yang ada di sekitanya. Sehingga, dalam beberapa hal akan memungkinkan timbulnya kearifan yang beraneka ragam dari komunitas lokal tersebut, walau dengan objek permasalahan yang sama. &lt;br /&gt;Sebagai misal, orang Jawa yang tinggal di daerah pegunungan atau pedesaan akan berbeda kearifannya dengan orang Jawa yang tinggal di perkotaan ketika sama-sama melihat permasalahan mereka di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang Jawa pegunungan atau pedesaan akan mempunyai kecenderungan menjadi seorang petani yang tangguh lagi ulet dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan lingkungan. Faktor alam juga menjadi penopang bagi diri orang Jawa gunung-pedesaan untuk menjadi seorang petani dari pada menjadi seorang pedagang atau bekerja di pabrik dan industri. Lain halnya dengan orang Jawa yang tinggal dan hidup di daerah perkotaan. Ia akan mempunyai kearifan lain yang menuntun dirinya sebagai seorang pedagang atau sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan swasta atau bekerja sebagai pejabat di instansi pemerintahan dari pada bekerja sebagai seorang petani.&lt;br /&gt;Berdasarkan gambaran tersebut dapat didefinisikan bahwa kearifan lokal adalah pandangan hidup dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai “kebijakan setempat” (local wisdom), “pengetahuan setempat” (local knowledge), atau “kecerdasan setempat” (local genious). Sistem pemenuhan kebutuhan mereka meliputi seluruh unsur kehidupan: agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian. Mereka mempunyai pemahaman, program, kegiatan, pelaksanaan terkait untuk mempertahankan, memperbaiki, mengembangkan unsur kebutuhan mereka itu, dengan memperhatikan ekosistem (flora,fauna dan mineral) serta sumberdaya manusia yang terdapat pada warga mereka sendiri. &lt;br /&gt;Dalam upaya pemertahanan nilai-nilai kearifan lokal ini, masyarakat setempat mengemasnya dalam bentuk “pendidikan tidak langsung” berupa cerita rakyat, legenda, anekdot, kesenian rakyat. Lewat berbagai kemasan ini diharapkan akan terjadi “warisan” kearifan lokal pada generasi penerusnya. Warisan yang diyakini mengandung nilai-nilai kearifan inilah yang perlu dimanfaatkan sebagai  basis bacaan anak. Dengan cara demikian, diharapkan akan tertanam norma-norma budaya sendiri pada diri anak, yang secara potensial (langsung atau tidak langsung) akan berpengaruh dalam perilaku hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulisan Cerita Anak Berbasis Kearifal Lokal&lt;/strong&gt;“Buku cerita bukan pengganti kehidupan tetapi dapat memperkaya kehidupan.” Demikian ungkapan May Hill Arbuthnot dalam bukunya Children of Books. Peneliti bacaan anak ini mengatakan bahwa ketika kehidupan terkonsentrasi pada kenyataan sehari-hari, buku justru mampu mempertinggi kepekaan. Buku bacaan dapat membantu membebaskan diri dari kesulitan dengan memberi wawasan baru, memberi kesempatan beristirahat dan kesegaran yang kita butuhkan, menjadi sumber informasi yang menyenangkan, dan disukai bagi orang yang tahu manfaatnya.&lt;br /&gt;“Buku bacaan untuk anak secara alamiah adalah buku yang disukainya,” kata Arbuthnot. “Secara psikologis anak selalu mencari-cari untuk keseimbangan yang sulit antara kebahagiaan pribadi dan persetujuan sosial. Dan, ini tidak mudah baginya.” Namun, bacaan dapat membantu anak secara langsung maupun tidak langsung. Yang penting diketahui oleh para penulis dan ilustrator cerita untuk anak adalah kebutuhan-kebutuhan yang ingin dicapai oleh anak. Antara lain, rasa aman, penyaluran emosi yang menyebabkan anak suka dengan cerita-cerita menyentuh perasaan, ingin lebih pandai karena anak suka berpikir, keberhasilan atau prestasi untuk pertumbuhan moral, permainan dan perubahan  sebagai pemenuhan daya imajinasi dan fantasi, keindahan atau seni, bimbingan dan kasih sayang.  &lt;br /&gt;Rampan (2003:89-94) mengatakan bahwa buku cerita anak adalah buku cerita yang sederhana tetapi kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, namun tidak ruwet sehingga komunikatif. Di samping itu, pengalihan pola pikir orang dewasa kepada dunia anak-anak dan keberadaan jiwa dan sifat anak-anak menjadikan syarat cerita anak-anak yang digemari. Dengan kata lain, cerita anak-anak harus berbicara tentang kehidupan anak-anak dengan segala aspek yang berada dan memengaruhi mereka. &lt;br /&gt;Pada sisi lain, kekompleksan cerita anak ditandai oleh strukturnya yang tidak berbeda dari struktur fiksi pada umumnya. Dengan demikian, organisasi cerita anak-anak harus ditopang sejumlah pilar yang menjadi landasan terbinanya sebuah bangunan cerita. Sebuah cerita akar, menjadi menarik jika semua elemen kisah dibina secara seimbang di dalam struktur yang isi-mengisi sehingga tidak ada bagian yang terasa kurang atau terasa berlebihan. (Badingkan dengan Toha_Sarumpaet, 2003: 111-121).&lt;br /&gt;Secara sederhana, sebuah cerita sebenarnya dimulai dari tema. Rancang bangun cerita yang dikehendaki pengarang harus dilandasi amanat, yaitu pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Namun, amanat ini harus dijalin secara menarik sehingga anak-anak tidak merasa membaca wejangan moral atau khotbah agama. Pembaca dihadapkan pada sebuah cerita yang menarik dan menghibur sehingga dari bacaan itu anak-anak dapat membangun pengertian dan menarik kesimpulan tentang pesan apa yang hendak disampaikan pengarang. Umumnya, tema yang dinyatakan secara terbuka dan gamblang tidak akan menarik minat pembaca. &lt;br /&gt;Pilar kedua adalah tokoh. Secara umum, tokoh dapat dibagi dua, yaitu tokoh utama (protagonis) dan tokoh lawan (antagonis). Tokoh utama ini biasanya disertai tokoh-tokoh sampingan yang umumnya ikut serta dan menjadi bagian kesatuan cerita. Sebagai tokoh bulat, tokoh utama ini mendapat porsi paling istimewa jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh sampingan. Kondisi fisik maupun karakternya digambarkan secara lengkap. Di samping itu, sering pula dihadirkan tokoh datar, yaitu tokoh yang ditampilkan secara satu sisi (baik atau jahat) sehingga dapat melahirkan tanggapan memuja ataupun membenci dari para pembaca. Penokohan seharusnya memperlihatkan perkembangan karakter tokoh. Peristiwa-peristiwa yang terbina dan dilema yang muncul di dalam alur harus mampu membawa perubahan dan perkembangan pada tokoh hingga lahir identifikasi pembaca pada tokoh yang muncul sebagai hero atau sebagai antagonis yang dibenci. &lt;br /&gt;Pilar ketiga adalah latar. Peristiwa-peristiwa di dalam cerita dapat dibangun dengan menarik jika penempatan latar waktu dan latar tempatnya dilakukan secara tepat. Karena latar berhubungan dengan tokoh dan tokoh berkaitan erat dengan karakter. Bangunan latar yang baik menunjukkan bahwa cerita tertentu tidak dapat dipindahkan ke kawasan lain karena latarnya tidak dapat dipindahkan ke kawasan lain karena latarnya tidak menunjang tokoh dan peristiwa-peristiwa khas yang hanya terjadi di suatu latar tertentu saja. Dengan kata lain, latar menunjukkan keunikan tersendiri dalam rangkaian kisah sehingga mampu membangun tokoh-tokoh spesifik dengan sifat-sifat tertentu yang hanya ada pada kawasan tertentu itu. Dengan demikian, tampaklah bahwa latar memperkuat tokoh dan menghidupkan peristiwa-peristiwa yang dibina di dalam alur, menjadikan cerita spesifik dan unik. &lt;br /&gt;Pilar keempat adalah alur. Alur menuntut kemampuan utama pengarang untuk menarik minat pembaca. Dengan sederhana alur dapat dikatakan sebagai rentetan peristiwa yang terjadi di dalam cerita. Alur dapat dibina secara lurus, di mana cerita dibangun secara kronologis. Peristiwa demi peristiwa berkaitan langsung satu sama lain sampai cerita berakhir. Alur juga dapat dibangun secara episodik, di mana cerita diikat oleh episode-episode tertentu, setiap episodenya ditemukan gawatan, klimaks, dan leraian. Khususnya pada cerita-cerita panjang, alur episodik ini dapat memberi pikatan karena keingintahuan pembaca makin dipertinggi oleh hal-hal misterius yang mungkin terjadi pada bab selanjutnya. Alur juga dapat dibangun dengan sorot balik atau alur maju (foreshadowing). Sorot balik adalah paparan informasi atau peristiwa yang terjadi di masa lampau, dikisahkan kembali dalam situasi masa kini, sementara "foreshadowing" merupakan wujud ancang-ancang untuk menerima peristiwa-peristiwa tertentu yang akan terjadi. &lt;br /&gt;Sebuah cerita tidak mungkin menarik tanpa peristiwa dan konflik. Peristiwa-peristiwa yang terjadi menimbulkan konflik tertentu, seperti konflik pada diri sendiri (person-against-self); konflik tokoh dengan orang lain (person-against-person); dan konflik antara tokoh dan masyarakat (person-against-society). Dengan alur yang pas karena peristiwa-peristiwa yang sinkronis dengan konflik umumnya meyakinkan pembaca anak-anak dan hal itulah yang membawa mereka senang, takut, sedih, marah, dan sebagainya. Dengan bantuan bahasa yang memikat, anak-anak merasa senang untuk terus membaca. &lt;br /&gt;Pilar kelima adalah gaya. Di samping pilar-pilar lainnya, gaya menentukan keberhasilan sebuah cerita. Secara tradisional dikatakan bahwa keberhasilan sebuah cerita bukan pada apa yang dikatakan, tetapi bagaimana mengatakannya. Kalimat-kalimat yang enak dibaca; ungkapan-ungkapan yang baru dan hidup; suspense yang menyimpan kerahasiaan; pemecahan persoalan yang rumit, namun penuh tantangan, pengalaman-pengalaman baru yang bernuansa kemanusiaan, dan sebagainya merupakan muatan gaya yang membuat pembaca terpesona. Di samping sebagai tanda seorang pengarang, gaya tertentu mampu menyedot perhatian pembaca untuk terus membaca. Bersama elemen lainnya seperti penggunaan sudut pandang yang tepat, pembukaan dan penutup yang memberi kesan tertentu, gaya adalah salah satu kunci yang menentukan berhasil atau gagalnya sebuah cerita. &lt;br /&gt;Pilar keenam adalah ilustrasi. Ilustrasu adalah gambaran visual yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita. Oleh karena itu, ilustrasi yang baik akan dapat mendorong anak untuk tertarik membaca cerita dan dapat mempercepat keutuhan pemahaman anak atas isi cerita. Terkait dengan itu, ilustrasi cerita hendaknya disajikan secara ekspresif, imajinatif fantastis, dan dapat memperkaya wawasan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pascawacana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Poko-pokok pemikiran tersebut kiranya dapat menyadarkan kita bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang ditanamkan nenek moyang kita lewat kemasan cerita rakyat, legenda, anekdot, kesenian rakyat dapat kita berdayakan dalam bentuk bacaan anak. Lewat bacaan berbasis kearifan lokal ini diharapkan anak dapat memetik norma-norma yang berpijak pada budaya sendiri, yang langsung atau tidak langsung akan berimbas pada kehidupannya. &lt;br /&gt;Agara pemikiran ini tidak hanya sebatas wacana, menjadi tugas kita semua (pemerintah, pemerhati budaya, guru, akademisi, penulis cerita, orang tua, masyarakat) untuk segera melakukan tindakan nyata sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Dengan cara demikian, dampak arus global yang dapat memorak-porandakan tatanan nilai-nilai kearifan yang selama ini kita yakini kebenarannya akan dapat terbendung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pustaka Acuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Brodart Foundation. 1979. &lt;em&gt;Elementary School Library Collection: A Guide to Books and Other Media.&lt;/em&gt; Various Editions. Newark, NJ.: Bro-dart Foundation.&lt;br /&gt;Budd, R. W., R. K. Thorp, dan L. Donohew. 1967. &lt;em&gt;ContentAnalysis of Communications&lt;/em&gt;. New York: Macmillan.&lt;br /&gt;Falcon, L. Nieves. 1986. “Children’s Books as a Liberating Force.” Dalam &lt;em&gt;Interracial Books for Children Bulletin&lt;/em&gt;, Vol. 7, No. 1, hal. 4-6.&lt;br /&gt;Forsdale, Louis. November 1955. “Helping Students Observe Processes of Communication.” dalam &lt;em&gt;Teacher’s College Record&lt;/em&gt; 57.&lt;br /&gt;Good, C. V. dan Douglas E. Scates. 1954. &lt;em&gt;Method of Research: Educational, Psychological, Sociological.&lt;/em&gt; New York: Appleton.&lt;br /&gt;Gunawan, Tuti. 2007. Makalah dalam seminar "Tahap Perkembangan Anak dan Mengenal Cara Belajar Anak". &lt;br /&gt;Hadits, Fawzia Aswin. 2003. "Psikologi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar" dalam Teknik &lt;em&gt;Menulis Cerita Anak&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati. &lt;br /&gt;Huck, Charlotte S., 1993. &lt;em&gt;Children’s Literature in the Elementary School&lt;/em&gt;. Fifth Edition. Forth Worth, TX: Harcourt Brace.&lt;br /&gt;Lloyd, Marcus. 1981. &lt;em&gt;The Treatment of Minorities in Secondary School Textbooks&lt;/em&gt;. New York: Anti-Defamation League of B’nai B’rith.&lt;br /&gt;Pratt, David. 1972. &lt;em&gt;How to Find and Measure Bias in Textbooks.&lt;/em&gt; Englewood Cliffs: Educational Technology Publication.&lt;br /&gt;Rampan, Korrie Layun. 2003. &lt;em&gt;Dasar-Dasar Penulisan Cerita Anak.&lt;/em&gt; Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati Halaman : 89 -- 94&lt;br /&gt;Titik W.S. 2003. "Menulis" dalam &lt;em&gt;Teknik Menulis Cerita Anak&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati. &lt;br /&gt;Toha-Sarumpaet, Riris K. Tanpa Tahun. “Sastra dan Pemahaman Budaya.” Makalah untuk diskusi Program Studi Ilmu Susastra, Depok: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;____________. 2003. “Struktur Bacaan Anak” dalam &lt;em&gt;Teknik Menulis Cerita Anak&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati.&lt;br /&gt;Wilson, H. W. 1960-1980. &lt;em&gt;Children’s Catalog&lt;/em&gt;. Various Editions. New York: H. W. Wilson.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-2338572596506059260?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/2338572596506059260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=2338572596506059260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/2338572596506059260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/2338572596506059260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/09/pengembangan-model-bacaan-anak-berbasis_22.html' title='Pengembangan Model Bacaan Anak Berbasis Nilai-nilai Kearifan Lokal'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-7005639909516434822</id><published>2009-03-19T17:10:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:48:39.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Kegiatan'/><title type='text'>Situasi Seminar Penulisan Buku Ajar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang</title><content type='html'>Pada akhir Semester Ganjil 2008/2009 (3 Januari 2009) mahasiswa peserta matakuliah Menulis Buku Ajar yang dibina oleh Masnur Muslich, Program Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Malang, mengadakan Seminar "Kiat Sukses Menulis Buku Ajar". Seminar yang menghadirkan pakar di bidang buku ajar dan penulis berkaliber nasional ini juga dihadiri para guru di Malang Raya dan sekitarnya. Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Sastra Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd ini diikuti dengan unjuk kerja berupa Pameran buku ajar bahasa Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA/SMK hasil karya mahasiswa peserta matakuliah. Dengan melihat puluhan buku ajar hasil karya mahasiswa ini sebagian besar peserta seminar (terutama guru) memberikan apresiasi yang sangat posisit, bahkan kagum atas prestasi mereka. Rencana ke depan, agenda ini akan diprogramkan secara berkala. Sebab, selain sebagai ajang tukar pendapat antara mahasiswa dan guru, juga dapat memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa terkait dengan penulisan buku ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Panitia seminar (mahasiswa yang ditunjuk oleh kelas) sedang membicarakan tugas dan tanggung jawab setiap seksi sebelum pelaksanaan seminar. Walaupun tempatnya di bawah pohon, mereka tetap antusias.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLhc5R6VMI/AAAAAAAAASs/PxuGtckTk54/s1600-h/DSC00948.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLhc5R6VMI/AAAAAAAAASs/PxuGtckTk54/s320/DSC00948.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315058396779140290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Panitia sedang bersiap menerima pendaftaran ulang seminar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLigQr4V7I/AAAAAAAAAS0/iMislXrflfU/s1600-h/IMG_0401.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLigQr4V7I/AAAAAAAAAS0/iMislXrflfU/s320/IMG_0401.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315059554113312690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd sedang memberikan materi seminar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLjYwrTrQI/AAAAAAAAAS8/-HtNv4kLlq4/s1600-h/IMG_0405.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLjYwrTrQI/AAAAAAAAAS8/-HtNv4kLlq4/s320/IMG_0405.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315060524773518594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOlNnwK35I/AAAAAAAAAUU/MgunjzSwnfQ/s1600-h/IMG_0409.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOlNnwK35I/AAAAAAAAAUU/MgunjzSwnfQ/s320/IMG_0409.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315273638655221650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d. Peserta seminar sedang serius menyimak dan &lt;em&gt;sharing &lt;/em&gt;pendapat atas uraian nara sumber&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLk-NpIpiI/AAAAAAAAATU/lUAUbpVJATQ/s1600-h/IMG_0412.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLk-NpIpiI/AAAAAAAAATU/lUAUbpVJATQ/s320/IMG_0412.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315062267715823138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOrPuskqzI/AAAAAAAAAU8/mvSfZvwi870/s1600-h/IMG_0420.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOrPuskqzI/AAAAAAAAAU8/mvSfZvwi870/s320/IMG_0420.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315280271948688178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;e. Buku-buku hasil karya mahasiswa yang dipamerkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLm3ax9sXI/AAAAAAAAATk/9HkEL43nHic/s1600-h/DSC00953.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLm3ax9sXI/AAAAAAAAATk/9HkEL43nHic/s320/DSC00953.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315064350006686066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnE79QduI/AAAAAAAAATs/jPjOgJvEleo/s1600-h/DSC00956.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnE79QduI/AAAAAAAAATs/jPjOgJvEleo/s320/DSC00956.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315064582250723042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnQhvEAcI/AAAAAAAAAT0/uqVx8G9Sa7U/s1600-h/DSC00957.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnQhvEAcI/AAAAAAAAAT0/uqVx8G9Sa7U/s320/DSC00957.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315064781370294722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;f. Masnur Muslich (pembina matakluliah Menulis Buku Ajar) sedang memberikan piagam penghargaan kepada nara sumber dan moderator&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnsNg6yHI/AAAAAAAAAT8/tgBX7AlAuLE/s1600-h/IMG_0421.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLnsNg6yHI/AAAAAAAAAT8/tgBX7AlAuLE/s320/IMG_0421.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315065256978598002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLoKa13pZI/AAAAAAAAAUE/mLB-f2HByco/s1600-h/IMG_0439.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLoKa13pZI/AAAAAAAAAUE/mLB-f2HByco/s320/IMG_0439.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315065775952209298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLoeBhEP2I/AAAAAAAAAUM/FfFpAH_U_m4/s1600-h/IMG_0430.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLoeBhEP2I/AAAAAAAAAUM/FfFpAH_U_m4/s320/IMG_0430.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315066112751452002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;g. Dr. Maryaeni (Ketua Jurusan Sastra Indonesia) memberikan sambutan penutupan acara seminar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOqHa8OKEI/AAAAAAAAAU0/6U604k3UN-k/s1600-h/IMG_0441.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScOqHa8OKEI/AAAAAAAAAU0/6U604k3UN-k/s320/IMG_0441.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315279029695031362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-7005639909516434822?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/7005639909516434822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=7005639909516434822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7005639909516434822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7005639909516434822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/03/situasi-seminar-penulisan-bukui-teks.html' title='Situasi Seminar Penulisan Buku Ajar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/ScLhc5R6VMI/AAAAAAAAASs/PxuGtckTk54/s72-c/DSC00948.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-8771664968274250896</id><published>2009-03-18T18:36:00.000-07:00</published><updated>2010-02-16T15:19:34.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Textbook Writing: Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, dan Pemakaian Buku Teks</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3snyUEO7HI/AAAAAAAAAlg/QhRUeC1Pn5U/s1600-h/Textbook_Writing1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ct="true" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3snyUEO7HI/AAAAAAAAAlg/QhRUeC1Pn5U/s400/Textbook_Writing1.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prakata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku bertajuk &lt;em&gt;Textbook Writing: Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, dan Pemakaian Buku Teks &lt;/em&gt;ini didasari pertimbangan berikut. Pada dua dasa warsa terakhir ini dunia pendidikan pada semua satuan tingkat pendidikan disuguhi buku teks yang sangat bervariasi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Akibatnya, guru, sekolah, masyarakat (baca: orangtua) dihadapkan pada kebingungan pilihan: buku mana yang layak dipakai untuk siswa. Kebingungan ini akan sirna – setidak-tidaknya terkurangi – apabila guru, sekolah, masyarakat memahami kri­teria sosok buku teks yang ideal.&lt;br /&gt;Kedua, ketika penulis beberapa kali mengelola lokakarya penulisan buku teks yang diikuti oleh para penulis dari berbagai bidang studi, masalah yang selalu muncul dari para peserta adalah bagaimana menulis buku teks yang sesuai dengan “kehendak” kurikulum, enak dibaca, dan menonjolkan keaktifan siswa. Permasalahan ini terbukti ketika penulis diberi kepercayaan beberapa penerbit untuk mengevaluasi dan mengedit naskah buku teks yang masuk ke penerbit. Permasalahan yang muncul adalah seputar hal-hal berikut: sajian materinya masih jauh dari kehendak kurikulum, sajian bahasanya masih berorientasi pada penulis sendiri dan belum berientasi pada pembaca (siswa sasaran), dan kemasan materinya tidak jauh berbeda dengan kemasan buku referensi atau buku bacaan pada umumnya. Kondisi ini tentu tidak akan terjadi apabila penulis buku teks memahami penulisan buku teks secara benar.&lt;br /&gt;Ketiga, ketika membina matakuliah Menulis Buku Teks di Program Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (dahulu IKIP Malang) selama lebih kurang sepuluh tahun, penulis berhasil menghimpun hand out untuk bacaan mahasiswa. Penulis pun akhirnya mengetahui dan dapat menditeksi kebutuhan mahasiswa ketika harus dihadapkan pada tugas menulis buku teks. Himpunan hand out dan pengalaman penulis itulah kiranya perlu penulis tularkan kepada para dosen yang mengampu matakuliah Menulis Buku Teks pada Program Pendidikan di perguruan tinggi, para mahasiswa yang menempuh matakuliah Menulis Buku Teks, para guru yang ingin mengembangkan profesinya lewat penulisan buku teks sesuai dengan mata pelajaran yang dibinanya, dan para penulis buku teks pada umumnya.&lt;br /&gt;Dalam rangka pencapaian kompetensi pembaca, setiap materi sajian buku ini diikuti dengan “kutipan permasalahan” yang ditemukan di lapangan sebagai bahan diskusi atau perenungan. Dengan cara demikian, pembaca buku ini diharapkan memperoleh pemahaman yang optimal.&lt;br /&gt;Terakhir, ucapkan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang karya-karyanya terkutip dalam buku ini yang semata-mata demi memperjelas wawasan pembaca. Atas keikhlasannya, sekali lagi penulis ucapkan terima kasih. Semoga upaya ini ada guna dan manfaatnya bagi para “pahlawan pendidikan” demi masa depan anak bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 22 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Isi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Ada Apa dengan Buku Teks?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.1 Pengaruh Buku bagi pembacanya&lt;br /&gt;1.2 Buku dalam Pendidikan&lt;br /&gt;1.3 Pendangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks&lt;br /&gt;1.4 Kondisi Pemakaian Buku Teks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Apa dan Bagaimana Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2.1 Hakikat dan Fungsi Buku Teks&lt;br /&gt;2.2 Karakteristk Buku Teks&lt;br /&gt;2.3 Sosok Buku Teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;3.1Hubungan Buku Teks dan Kurikulum&lt;br /&gt;3.2Hubungan Buku Teks dan Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;3.3Hubungan Buku Teks dan Siswa&lt;br /&gt;3.4Hubungan Buku Teks dan Guru&lt;br /&gt;3.5Hubungan Buku Teks dan Media Pembelajaran&lt;br /&gt;3.6 Hubungan Buku Teks dan Strategi Pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Apa Landasan Penulisan Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;4.1 Landasan Keilmuan&lt;br /&gt;4.2 Landasan Ilmu Pendidikan dan Keguruan&lt;br /&gt;4.3 Landasan Kebutuhan Siswa&lt;br /&gt;4.4 Landasan Keterbacaan Materi dan Bahasa yang Digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Apa dan Bagaiamana Langkah Penulisan Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;5.1 Analisis Kebutuhan Buku Teks&lt;br /&gt;5.2 Penyusunan Peta Bahan Ajar&lt;br /&gt;5.3 Penyusunan Buku Teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Apa dan Bagaimana Pemilihan dan Pemakaian Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;6.1 Landasan Umum Pemilihan dan Pemakaian Buku Teks&lt;br /&gt;6.2 Langkah-Langkah Pemilihan Buku Teks&lt;br /&gt;6.3 Langkah-Langkah Pemakaian Buku Teks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Apa dan Bagaimana Penilaian Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;7.1 Penilaian Kelayakan Isi&lt;br /&gt;7.2 Penilaian Kelayakan Penyajian&lt;br /&gt;7.3 Penilaian Kelayakan Bahasa&lt;br /&gt;7.4 Penilaian Kelayakan Grafika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Apa saja Problema Seputar Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;8.1 Permasalahan Terkait dengan Fungsi Buku Teks&lt;br /&gt;8.2 Permasalahan Terkait dengan Peraturan Pemakaian Buku Teks&lt;br /&gt;8.3 Permasalahan Terkait dengan Dampak Peraturan Pemakaian Buku Teks&lt;br /&gt;8.4 Permasalahan Terkait dengan Dampak Pemakaian Buku teks&lt;br /&gt;8.5 Permasalahan Terkait dengan Monopoli Buku Teks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bab 1 Ada Apa dengan Buku Teks?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat membaca uraian pada Bab 1 ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang hal-hal yang terkait dengan buku teks, terutama mengenai:&lt;br /&gt;pengaruh buku bagi pembacanya; &lt;br /&gt;buku dalam pendidikan; &lt;br /&gt;pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks; dan&lt;br /&gt;kondisi pemakaian buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada empat hal yang perlu Anda pahami terkait dengan buku teks, yaitu (1) bagaimana pengaruh buku bagi pembacanya, (2) bagaimana peran buku dalam pendidikan, (3) bagaimana pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks, dan (4) bagaimana kondisi pemakaian buku teks. Berturut-turut keempat hal tersebut diuraikan berikut ini. Untuk menambah wawasan Anda, bagian akhir bab ini juga disajikan bahan diskusi tentang kondisi perbukuan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1.1 Pengaruh Buku bagi Pembacanya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada era global ini kehidupan manusia tidak bisa melepaskan diri dari buku. Lewat buku manusia bisa bertambah wawasannya yang pada akhirnya (langsung atau tidak langsung) akan mempengaruhi pola pikir dan pola hidupnya. Bahkan, larena kuatnya pengaruh bagi kehidupan manusia, ada sekelompok ”buku” yang disebut ”the great book”, yaitu Quran, Injil, Taurat, Zabur, Weda, dan Tripitaka. Selain itu, dikenal pula ”buku-buku pengubah dunia”, yaitu Trias Politika, Das Kapital, De Principle, dan Uncle Toms Cabin.&lt;br /&gt;Secara rinci D. Waples dkk. (1990) membagi pengaruh buku bagi pembacanya menjadi lima kategori, yaitu (1) pengaruh instrumental, (2) pengaruh prestise, (3) pengaruh pemantapan, (4) pengaruh estetis dan apresiatif, dan (5) pengaruh pelepasan. Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku, pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya. Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya Terakhir, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite) apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;Pengaruh buku tersebut akan lebih terasa pada diri anak. Para ahli pendidikan berkesimpulan bahwa lewat membaca buku, anak akan berpengaruh perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalarannya. Konsekuensinya, apabila buku yang dibaca berisi hal-hal yang negatif, maka perkembangan jiwa anak juga mengarah ke negatif. Sebaliknya, apabila yang dibaca berisi hal-hal yang positif, maka perkembangan jiwa anak pun positif. Karena yang diharapkan oleh semua pihak (:orang tua, pemerintah, penddik) agar anak berkembang secara positif, persediaan buku bagi anak (buku bacaan, buku teks, dan sebagainya) haruslah buku yang memenuhi syarat positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang segera muncul adalah buku bagaimanakah yang memenuhi syarat positif bagi anak? Buku dikatakan mempunyai syarat positif apabila mengandung hal-hal berikut, yaitu&lt;br /&gt;(a) bisa memperluas wawasan anak;&lt;br /&gt;(b) bisa menambah pengetahuan baru;&lt;br /&gt;(c) bisa membimbing berpikir konstruktif;&lt;br /&gt;(d) bisa mengarahkan kreativitas;&lt;br /&gt;(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik; dan&lt;br /&gt;(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri&lt;br /&gt;Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi informasi faktual, deskriptif, atau naratif yang belum menjadi perhatian anak. Misalnya, informasi tentang cara meminum obat, cara mandi yang betul, makanan sehat, teman yang baik, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. Misalnya, proses terjadinya gunung meletus, proses terjadinya hujan, perlunya kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara rasional. Misalnya, cerita tentang kerugian anak yang malas belajar, keuntungan anak yang berbaik hati, akbat anak yang ska berbohong, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. Misalnya, cara membuat burung dari kertas, cara membuat lampu minyak, cara menjernihkan air, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam kehidupan anak. Misalnya, cerita pahlawan, tokoh agama, dermawan cilik, dai cilik, dan sebagainya. Terakhir, buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara, kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan sebagainya.Syarat-syarat itulah yang secara ideal terdapat pada buku yang layak sebagai bacaan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1.2 Buku dalam Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, buku merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan. Dengan buku, pelaksanaan pendidikan dapat lebih lancar. Guru dapat mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien lewat sarana buku. Siswa pun dalam mengikuti kegiatan belajar dengan maksimal dengan sarana buku. Bahkan, administratur pendidikan dapat mengelola pendidikan dengan efektif dan efisien dengan berpedoman ada aturan-aturan dan lebijakan yang tertuang dalam buku, misalnya pedoman pelaksanaan pendidikan dan kurikulum. Atas dasar itulah, bangsa-bangsa Eropa (yang termasuk bangsa maju) berpendapat bahwa ”education without book is unthinkable”.&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang maju, kita patut tidak berseberangan pendapat dengan bangsa Eropa tentang buku. Buku hendaknya menjadi perhatian utama, mulai dari pengadaan (baca: penulisan), penggandaan, sampai dengan penyeberannya. Dari segi pengadaan, buku-buku yang ditulis hendaknya diarahkan pada peningkatakan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif, tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga masalah sosial dan imtak (iman dan takwa). Dengan demikian ada keseimbangan antara perkembangan pemikiran dan kejiwaaan. Inilah yang biasa disebut ”manusia utuh” itu. Dari segi penggandaan, buku-buku yang telah ditulis hendaknya diproduksi secara proporsional dan memadai. Oleh karena tu, pemerintah hendaknya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk itu. Pihak swasta pun sebaiknya terlibat dalam penggandaan ini walaupun dalam bentuk transaksi bisnis. Dari segi penyebaran, buku yang telah digandakan hendaknya disebarkan secara merata. Jangan hanya diarahkan ke kota-kota besar saja. Daerah terpencil justru mendapatkan perhatian utama. Dengan demkian, akan terjadi pemerataan perkembangan pola pikir dan wawasan. Terkait dengan penyebaran buku ini, niat pemerintah untuk program buku murah perlu mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat.&lt;br /&gt;Buku-buku yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan bermacam-macam. Namun demikian, apabila dilihat dari segi isi dan fungsinya, buku pendidikan setidak-tidaknyanya dapat dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.Buku acuan, yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal tertentu. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi) oleh guru untuk memahami sebuah masalah secara teoretis.&lt;br /&gt;b.Buku pegangan, yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan, menganalisis, dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada siswa.&lt;br /&gt;c.Buku teks atau buku pelajaran, yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaan atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Buku ini dipakai sebagai sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;d.Buku latihan, yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan tertentu. Buku ini dipakai oleh siswa secara periodik agar yang betrsangktan memiliki kemahiran dalam bidang tertentu.&lt;br /&gt;e.Buku kerja atau buku kegiatan, yaitu buku yang difungsikan siswa untuk menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Tugas-tugas ini bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas.&lt;br /&gt;f.Buku catatan, yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau hal-hal yang diperlukan dalam studinya. Lewat buku catatan ini siswa dapat mendalami dan memahami kembal dengan cara membaca ulang pada kesempatan lain.&lt;br /&gt;g.Buku bacaan, yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan, informasi, atau uraian yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu. Buku ni dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan wawasan kepada siswa.&lt;br /&gt;Secara visual, ketujuh buku pendidikan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu pentingnya buku dalam pendidikan, pada tahun 2008 Pemerintah mencanangkan buku murah dalam bentuk buku elektronik (e-book) yang diberi nama Buku Sekolah Elektronik (BSE). Buku yang hak ciptanya telah dibeli Pemerintah ini dapat diakses oleh siapa saja secara gratis. Informasi lebih rinci, dapat Anda baca penjelasan pada boks berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK PUSAT PERBUKUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buku Sekolah Elektronik (BSE) atau buku elektronik (e-book) merupakan salah satu sarana penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu permasalahan perbukuan dalam era otonomi daerah dewasa ini adalah ketersediaan buku yang memenuhi standar nasional pendidikan dengan harga murah yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Dalam rangka menyediakan buku yang memenuhi standar nasional pendidikan, bermutu dan murah, Departemen Pendidikan Nasional telah membeli hak cipta buku teks pelajaran dari penulis/penerbit dan diwujudkan dalam bentuk ebooks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan Misi BSE&lt;br /&gt;Menyediakan buku sekolah yang memenuhi standar, bermutu, murah dan mudah diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;1. Menyediakan sumber belajar alternatif bagi siswa.&lt;br /&gt;2. Merangsang siswa untuk berpikir kreatif dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi.&lt;br /&gt;3. Memberi peluang kebebasan untuk menggandakan, mencetak, memfotocopy, mengalihmediakan, dan/atau memperdagangkan BSE tanpa prosedur perijinan, dan bebas biaya royalti sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan Menteri.&lt;br /&gt;4. Memberi peluang bisnis bagi siapa saja untuk menggandakan dan memperdagangkan dengan proyeksi keuntungan 15% sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran&lt;br /&gt;1. BSE ditujukan untuk siswa, guru, dan seluruh masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;2. Penggandaan BSE untuk Diperdagangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BSE, baik dalam bentuk buku maupun rekaman cakram (CD/DVD) dapat digandakan dan diperdagangkan dengan ketentuan tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan memenuhi syarat serta ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah melalui Dewan Pendidikan Nasional menyediakan beberapa situs untuk mendukung pusat perbukuan dan buku sekolah elektronik, yaitu:&lt;br /&gt;(1) http://bse.depdiknas.go.id/&lt;br /&gt;(2) http://www.sibi.or.id/&lt;br /&gt;(3) http://www.pusbuk.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review:&lt;br /&gt;1. http://bse.depdiknas.go.id/&lt;br /&gt;Situs ini menyediakan BSE/Buku Sekolah Elektronik yang siap di download, antara lain :&lt;br /&gt;- Tingkat SD : Kategori Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dengan total buku 93 record.&lt;br /&gt;- Tingkat SMP : Kategori Bahasa Indonesia, Ilmu Sosial (IPS), Matematika, English&lt;br /&gt;dengan total buku 73 record.&lt;br /&gt;- Tingkat SMA : Kategori Bahasa Indonesia, Matematika, Sosiologi&amp;amp;Antropologi&lt;br /&gt;dengan total buku 24 record.&lt;br /&gt;- Tingkat SMK : Kategori Bahasa, Matematika, Sosiologi &amp;amp; Antropologi, Akuntansi, Bahasa Inggris&lt;br /&gt;dengan total buku 19 record.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mendownload buku di http://bse.depdiknas.go.id/ cukup degan memilih buku sesuai kategori dan tingkat pendidikan. Setelah melalui form peraturan dan persetujuan, maka kita sudah siap untuk mendownload. Satu ebooks mata pelajaran biasanya terbagi dalam berbagai Bab, sehingga harus sabar mendownload satu persatu bagian (Ini yang melelahkan dan terlalu banyakk klik). Terdapat beberapa mirror server untuk mendownload antara lain, Server Utama : Jardiknas Jakarta dan Server Mirror : Universitas Indonesia - Depok, Open Source Telkom - Jakarta, Institut Teknologi Sepuluh November. Tetapi ada juga versi baca online/langsung, bagi yang tidak ingin repot mendownload.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. http://www.sibi.or.id/&lt;br /&gt;Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) merupakan informasi jaringan global yang disediakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat mmperoleh informasi perbukuan Indonesia dengan cepat, mudah, dan akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. http://www.pusbuk.or.id/&lt;br /&gt;Pusat Perbukuan mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan koordinasi kegiatan perbukuan serta pengendalian mutu buku, informasi, dan teknologi perbukuan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Pusbuk menyelenggarakan fungsi:&lt;br /&gt;a. Perumusan bahan kebijakan teknis di bidang perbukuan;&lt;br /&gt;b. Pengembangan naskah, koordinasi penulisan, dan penerjemahan bukupendidikan dan pengendalian mutu buku pendidikan;&lt;br /&gt;c. Pengelolaan dan pengembangan teknologi dan informasi perbukuan&lt;br /&gt;d. Pelaksanaan urusan ketatausahaan pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp; http://th4nks.blogspot.com&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1.3 Pandangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku teks di dunia pendidikan disikapi oleh ahli pendidikan dengan berbagaimacam versi. Ada yang bersikap negatif, ada yang bersikap positif, dan adapula yan bersikap moderat. Ketiga pandangan yang berbeda ini didasari oleh alasan yang bertolak belakangsatu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pandangan Negatif terhadap Buku Teks&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli pendidikan yang bersikap negatif atau “antipati” atas kehadiran buku teks di dunia pendidikan didasarkan oleh kenyataan berikut.&lt;br /&gt;a.Buku teks kurang memperhatikan perbedaan individual siswa. Siswa sasaran dianggap homgen sehingga bahan ajar yang ada pada buku teks tersaji tanpa memperhatikan siswa yang ”uper” dan siswa yang ”lower”.&lt;br /&gt;b.Desain buku teks sering tidak sesuai dengan desain kurikulum pendidikan. Akibatnya, dengan menggunakan buku teks tersebut, program pendidikan yang telah dirancang dalam kurikulum tidak tercapai.&lt;br /&gt;c.Konteks dan bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering tidak sesuai dengan kondisi dan lingkunna siswa sasaran. Apabila hal ini terjadi, buku teks akan terkesan ”memaksa” siswa untuk belajar sesuatu yang ”tidak sesuai” dengan kondisi dirinya.&lt;br /&gt;d.Bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering bias dan basi. Ini terjadi karena antara waktu penyusunan buku teks dan waktu pemakaiannya berselang terlalu lama. Akibatnya, informasi dan masalah yang terdapat dalam buku teks sudah ”kadaluarsa”, bahkan tidak sesuai lagi dengan yang sedang dihadapi siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli pendidikan yang apriori terhadap kehadiran buku tekas ini adalah ahli pendidikan yang mengikuti sistem pendiikan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pandangan Positif terhadap Buku Teks&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ahli pendidikan yang bersikap positif atas kehadiran buku teks didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut.&lt;br /&gt;a.Buku teks merupakan ”the foundation of learning in classroom”. Anggapan ini didasarkan oleh kenyataan bahwa pengajaran yang dianggap efektif dan efisien adalah pengajaran klasikal. Kalau toh ada yang individual, sangatlah bersifat khusus, karena kondisi tertentu.&lt;br /&gt;b.Buku teks memuat bahan ajar yang sebaiknya disajikan (what to teach) dan sekuensi atau urutan cara penyajiannya. Oleh karena itu penyusunan buku teks tentu memperhatikan bahan ajar mana yang patut dan sebaiknya disajikan, termasuk tata cara penyajian yang sesuai dengan jenis bahan dan kondisi siswa sasaran.&lt;br /&gt;c.Jangkauan,jumlah, dan jenis bahan ajar yang terdapat dalam buku teks telah relatif pasti sehingga guru memungkinkan untuk mengalokasikannya berdasarkan jadwal sekolah. Dengan demikian, lewat pemakaian buku teks dapat terkontrol dengan ketat program pengajarannya.&lt;br /&gt;d.Paparan masalah atau pokok persoalan (subject matter) dalam buku teks relatif teliti. Ketelitian ini terlihat mulai dari proses pemilihan bahan, klasifikasi bahan, sampai dengan proses penyusunannya. Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan guru dengan bahan ajar yang disusunnya sendiri.&lt;br /&gt;e.Bahan ajar dalam buku teks tertata cukup baik. Ini dapat dilihat dari cara penyajian bahan ajar yang memperhatikan hierarkhi dan tataletaknya sehingga mudah dipahami siswa. Tidak semua guru memiliki keterampilan menata bahan seperti yang terdapat pada buku teks.&lt;br /&gt;f.Buku teks cukup banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar peta, dan diagram. Alat bantu ini akan dapat mempercepat pamahaman siswa atas bahan ajar yang sedang dipelajari. Pada umumnya, alat bantu semacam itu sulit diciptakan oleh guru dalam waktu yang relatif singkat.&lt;br /&gt;g.Kesinambungan bahan ajar dalam buku teks telah diatur sedemikian rupa oleh penyusunnya. Lebih-lebih, apabila buku tersebut merupakan buku berseri. Hal ini dapat dimaklumi, sebab sebelum penyusunan buku teks dimulai, terlebih dahulu disusun kerangka (outline) secara menyeluruh. Dengan demikian, tidak dijumpai bahan ajar yang terlepas dari yang lain. Sebaliknya, bahan-bahan itu merupakan rangkaian yang utuh.&lt;br /&gt;h.Buku teks merupakan batu loncatan bagi siswa. Dengan menggunakan buku teks, siswa terbebas dari kegiatan mencatat yang merupakan pemborosan waktu, tenaga, dan pikiran.&lt;br /&gt;i.Buku teks sangat membantu sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Hal ini bisa dimaklumi karena buku teks berisi serangkaian bahan ajar yang minimal harus dikuasai atau dipahami siswa. Jika tidak lewat kemasan buku teks, bahan-bahan itu tentu berada di berbagai buku sumber.&lt;br /&gt;j.Buku teks yang dipublikasikan oleh pemerintah dan pihak swasta telah dipertimbangkan kualitasnya. Pertimbangan kualitas ini merupakan konsekuensi logis. Sebab, kalau tidak, tentu akan merugikan pihak pemerintah dan penerbit swasta itu sendiri. Para pemakai buku teks (terutama guru) tentu tidak akan menggunakan secara maksimal, bahkan tidak mau menggunakannya, apabila buku teks tersebut tidak berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli pendidikan yang mendukung sepenuhnya kehadiran buku teks ini adalah ahli pendidikan modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pandangan yang Moderat terhadap Buku Teks&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pandangan tersebut sebenarnya boleh dikatakan sangatlah ekstrem, baik eksrem kiri dan ekstrem kanan. Kedua pendapat itu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Lalu, timbullah pandangan yang moderat terhadap kehadiran buku teks. Pandangan ketiga ini diilhami oleh kenyataan bahwa tidak semua buku teks menguntungkan bagi pendidikan dan tidak semua pula buku teks merugikan bagi kelangsungan pendidikan. Beberapa argumentasi berikut ini menjadi alasan bagi pandangan yang moderat terhadap buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a.”No one textbook is the best for all situation” (Romero dalam ”What Textbook Shall We Use”. Forum 2, 1975)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi ini bisa dimaklumi sebab pada kenyataan memang tidak ada satu pun buku teks yang ampuh untuk semua situasi dan kondisi. Namun demikian, keterbatasan ini tidak boleh dipakai sebagai “kambing hitam” untuk tidak menggunakan buku teks. Keterbatasan ini harus diantisipasi guru pada saat mengasimilasikannya di kelas. Yang peru dipahami adalah buku teks merupakan sarana untuk mencapai tujuan pengajaran dan buku teks bukanlah pengajaran. Oleh karena itu, buku teks tidak bisa mengajar. Yang bisa mengajar adalah guru lewat sarana antara lain buku teks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b.Tidak ada buku teks yang betul-betul bisa memenuhi harapan kurikulum. (J. N. Hook, 1965).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini pun bisa dimaklumi. Memang tidak ada satu pun buku teks yang bisa memenuhi kebutuhan kurikulum secara total. Buku teks hanyalah salah satu sarana bukan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. Walaupaun Garis-garis besar Program pengajaran (GBPP) atau silabus pada kurikulum tertentu dipakai sebagai acuan penyusunan bahan ajar pada buku teks, tetap tidak bisa menjamin bahwa buku teks dapat memenuhi kebutuhan kurikulum secra total. Sebab, faktor-faktor lain di luar buku teks juga ikut menentukannya, yaitu guru pemakai buku teks, siswa sasaran, situasi dan kondisi sekolah, dan aspek-aspek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Tidak ada satu pun buku teks yang cocok untuk semua jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;Pernyataan ini tidak mengada-ada, bahkan bisa dimakluminya. Buku teks memang disusun dengan mempertimbangkan program tertentu, jenjang pendidikan tertentu, dan pola pikir siswa tertentu. Akibatnya, buku teks hanya cocok untuk “sasaran” tetentu saja.&lt;br /&gt;Pandangan ketiga inilah yang memandang buku teks secara lebih objektif dan rasional. Sebab, buku teks akan berpran secara maksimal apabila memenuhi criteria ideal dan diasimilasikan oleh guru yang professional. &lt;br /&gt;Sebagai bahan perenungan dan bahan diskusi, perhatikan tulisan tentang “Pentingnya Buku Pelajaran dalam Proses Pembelajaran” yang dirilis oleh Subiyanto, Bambang, dan Novan berikut ini!&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENTINGNYA BUKU PELAJARAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pelajaran memiliki peran penting dalam sistem pendidikan (nasional). Buku merupakan salah satu komponen dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut dirasakan manfaatnya oleh Diah Wahyu Fitria Rahmawati, siswa kelas 6 SDS Trisula I Jakarta. Menurutnya, manfaat buku pelajaran, yaitu untuk menambah pengetahuan, misalnya untuk mengetahui perkembangan atau peristiwa-peristiwa yang terjadi. Meskipun demikian, tampaknya tidak semua pengetahuannya tercakup dalam buku pelajaran. Karenanya, selain memiliki buku pelajaran, menurut Inu, sapaan akrabnya, ia pun membuat catatan-catatan yang menurutnya di buku tidak ada.&lt;br /&gt;Kemanfaatan buku pelajaran dibenarkan pula oleh Tami, siswi SMP Labschool Rawamangun Jakarta Timur. “Manfaat buku pelajaran adalah untuk menambah ilmu, dalam pengertian dari tidak tahu menjadi tahu, agar mendapat nilai bagus ketika ulangan, dan dapat menjawab pertanyaan dari guru,” ungkapnya beralasan.&lt;br /&gt;Pentingnya buku pelajaran ditanggapi pula oleh Budi, orang tua murid. “Pasti sangat penting,” ujarnya bersemangat. Menurutnya, apalah pengetahuan kami (baca: masih kurang, red.) kalau tidak dibantu dengan buku. “Oleh karena itu, memilih buku yang baik sangat menentukan hasil belajar dari anak-anaknya,” ungkapnya menjelaskan.&lt;br /&gt;Bagi orang tua murid yang tinggal di Percetakan Negara ini, dengan adanya buku pelajaran sangat membantu dirinya. “Saya tidak mengerti kurikulum itu apa, dan apa yang harus diajarkan, serta berapa lama waktunya,” katanya beralasan tentang manfaat buku pelajaran. Jadi, menurutnya, buku menjadi patokan orang tua untuk mengajari, membantu belajarnya, atau mengukur tingkat keberhasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buku Teks Jangan Hanya Jadikan Patokan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal lagi bahwa baik oleh siswa maupun orang tua siswa, buku pelajaran masih dijadikan patokan. Begitu pun dengan guru. Menurut Deden E. Ariffan, ukuran untuk guru-guru di Indonesia masih berpatokan dengan buku teks. “Keberadaan buku teks sangat membantu, tetapi jangan sampai terjadi guru hanya berpatokan pada buku tersebut,” ujar guru SMA yang mengajar Antropologi di Labschool Rawamangun Jakarta Timur ini menambahkan. Padahal, tambahnya lagi, guru dapat mencari bahan rujukan dari sumber aslinya, yaitu dengan melihat daftar pustaka pada buku teks. Nantinya, katanya, guru akan mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak didapatkan dalam buku pelajaran tersebut. &lt;br /&gt;Lalu, bagaimana gambaran ideal sebuah buku pelajaran? Moh. Yasin, dosen UI, menjelaskan bahwa kita harus melihat dari tujuan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, menurutnya, Departemen Pendidikan Nasional sebagai badan yang berkompeten dirasa belum mempunyai tujuan yang jelas. “Tidak adanya kesinambungan antara SMP, SMU, dan universitas,” ungkap staf pengajar di FEUI ini.&lt;br /&gt;Menyinggung buku-buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit swasta, Deden melihat masih ada kekurangannya. Ia melihat bahwa buku pelajaran, penekanannya lebih kepada apa yang disebut intelektual atau akal yang disebut kecerdasan intelektual. Jadi, menurutnya, tidak menyentuh kepada hal-hal yang bersifat emosional, mampu menggugah sosial anak, dan mampu menggugah potensi spiritual anak. “Ini kemudian yang menyebabkan buku-buku pelajaran tidak terlalu menarik karena hanya memuat materi dengan sangat padat dan tidak ada ekspresi untuk anak harus melakukan apa terhadap buku tersebut,” ujarnya menjelaskan.&lt;br /&gt;Sementara dari segi desain, masih menurut Deden, buku-buku sekarang sudah lebih baik, artinya sudah mulai ada setting atau pengaturan warna buku meskipun diakuinya bahwa jika dibandingkan dengan buku-buku dari luar kita masih ketinggalan, dalam arti selain buku-buku itu menarik, juga penuh dengan ilustrasi-ilustrasi yang mampu menimbulkan imajinatif anak.&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan pula oleh Lili Nurlaili, staf teknik Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Menurut Lili, pada umumnya, secara garis besar, terutama para penerbit besar, buku-bukunya sudah bagus, artinya sudah memenuhi sesuai dengan target kurikulum. Namun demikian, menurutnya, buku-buku tersebut masih kurang lengkap, yakni dalam penilaiannya sebagaimana tuntutan kurikulum ( project and product dan paper and pencil). “Kalau paper and pencil semua buku sudah sudah canggih, bagaimana item soalnya, dan seterusnya sudah bagus,” ungkapnya, sambil menambahkan, hanya project and product belum. “Mereka membuat seperti mari lakukan dan seterusnya, tetapi setelah itu anak-anak tidak di-guideline seperti apa melakukan wawancara, kemudian stamp pertanyaannya seperti apa dan kepada siapa audiensnya,” jelasnya. Jadi artinya, ia melanjutkan, tahapan-tahapan yang paper and pencil dan project, serta seperti apa portofolio itu kurang jelas.&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, “Lakukanlah wawancara atau lakukanlah observasi, tidak diberi lagi seperti apa mereka lakukan observasi, kemudian arahannya seperti apa, kemudian kalau targetnya sudah tercapai sebenarnya yang dinilai dalam observasinya itu apa, di dalam wawancaranya itu apa.” Secara sederhananya ia menunjukkan dalam diskusi sering melihatnya diskusikanlah ini dan diskusikanlah itu, tetapi anak-anak tidak tahu diskusi yang benar itu seperti apa. “Misalnya saling menghargai, mau menerima pendapat teman, tidak mendominasi pembicaraan, itu tidak diberikan pengarahan seperti itu sehingga akhirnya diskusi itu lepas begitu saja, dan terkadang guru juga tidak memperhatikan bagaimana arahan diskusi yang baik dan benar tersebut,” sesalnya.&lt;br /&gt;(Subiyanto/Bambang/Novan)&lt;br /&gt;Sumber: http://ganeca.blogspirit.com&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1.4 Kondisi Pemakaian Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Selama ini terdapat anggapan dari sebagian besar masyarakat (khususnya komunitas pendidikan) bahwa buku teks sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dikelompokkan menjadi dua, yaitu buku teks wajib dan buku teks penunjang. Buku teks wajib (juga biasa disebut buku paket) adalah buku teks yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Sementara itu, buku teks penunjang (juga biasa disebut buku pelengkap) adalah buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta. Pendapat seperti itu sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan sebab kedua ”jenis” buku teks tersebut sama-sama berorientasi kepada kurikulum yang sedang berlaku, baik dari segi pendekatan, isi, maupun strateginya. Karena orientasinya sama, kedua jenis buku teks itu sebenarnya mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran di kelas. &lt;br /&gt;Anggapan dekotomis tersebut sebenarnya dipicu oleh kebijakan ”politis” pemerintah (sebelum era Reformasi) bahwa bahwa buku teks wajib mempunyai kedudukan ”utama”, sedangkan buku teks penunjang ini mempunyai kedudukan ”pelengkap”. Kebijakan pemerintah ini didasari pertimbangan bahwa apabila buku teks wajib ini kalah pengaruhnya dengan buku teks penunjang, akan berdampak pada keheterogenan hasil belajar siswa. Apabila keadaan ini terjadi, tentu akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan sandardisasi kualitas atau keberhasilan belajar siswa. Kebijakan semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila buku teks yang beredar (baik yang dterbitkan oleh pemerintah maupun swasta) telah mendapat kontrol lewat penilaian terlebih dahulu oleh lembaga yang kompeten atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah, lewat Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP).&lt;br /&gt;Dilihat dari penyusunnya, buku teks wajib ini biasanya disusun oleh tim yang para anggotanya tentunya mempunyai kualitas yang dipersyaratkan. Bahkan, sebelum buku teks wajib ini diterbitkan, terlebih dahulu ditelaah kualitas atau kevaliditasannya baik dari segi isi, strategi, dan bahasa dalam forum lokakarya. Sementara itu, buku teks penunjang yang diterbitkan oleh swasta biasanya ditulis oleh penulis (baik sendiri mapun kelompok) yang berminat atau yang mempunyai pengalaman terhadap bidang pelajaran tertentu. Karena pertimbangan pasar, buku yang ditulisnya selain disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, juga disesuaiakan dengan keinginan pasar. Bahkan, hal-hal tertentu yang dianggap lemah atau sumbeng dalam buku teks wajib akan dibenahi atau dilengkapi dalam buku teks penunjang ini.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensinya, buku teks wajib yang diterbitkan oleh pemerintah disebarkan secara cuma-cuma ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Hanya saja, jumlah buku yang disebarkan jauh di bawah kebutuhan siswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1994), misalnya, pernah mengakui bahwa karena keterbatasan dana, buku teks wajib yang disebarkan hanyalah 20% dari kebutuhan real. Ini berarti masih 80% yang belum bisa terlayani buku teks wajib. Di sinilah peran buku teks penunjang bisa berkiprah untuk ”menggantikan” posisi buku teks wajib. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan baik-baik oleh penerbit swasta untuk mengisi kekosongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku teks yang beredar (baik buku teks wajib maupun penunjang) dijumpai keganjilan-keganjilan. Keganjilan yang dimaksud terlihat sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum.&lt;br /&gt;b.Terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi (semacam ringkasan).&lt;br /&gt;c.Terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis.&lt;br /&gt;d.Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan pola pikir siswa.&lt;br /&gt;e.Terdapat buku teks yang kurang ”aplicable”.&lt;br /&gt;Perhatian khusus terhadap keganjilan buku teks ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti buku teks dalam dunia pendidikan, tetapi justru untuk memacu peningkatan kualitas buku teks setelah dikaitkan dengan kedudukan dan fungsinya yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajran siswa di kelas.&lt;br /&gt;Semenjak pemberlakuan kurikulum 1984 sampai dengan sekarang (Kurikulum 2006 atau KTSP) kehadiran buku teks sebagai penunjang pelaksanaan pembelajaran cukup dominan bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian serius pemerintah terhadap dunia pendidikan dan minat dominan penerbit swasta terhadap penerbitan buku teks. Keberagaman buku teks yang beredar haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kalangan pendidikan, terutama guru. Sebab, dengan demikian, guru bisa memilih dengan leluasa: mana buku teks yang mempunyai kriteria ideal baik dilihat dari kesesuaiannya dengan kurikulum, kesesuaiannya bagi siswanya, maupun tingkat dan daya aplikasinya.&lt;br /&gt;Di sisi lain, di lapangan dijumpai adanya anggapan bahwa buku teks wajib merupakan ”buku suci”. Anggapan yang ekstrem ini sebenarnya tidak perlu terjadi, sebab pada dasarnya tidak ada satu pun buku teks, termasuk buku teks wajib, yang ampuh untuk segala-galanya: kapan dan di mana saja. Sebab, pada saat diaplikasikan, buku teks (termasuk yang wajib) masih tetap perlu disiasati guru sebelum dipakai dalam pembelajaran. Misalnya, apakah sajian bahan ajarnya sudah sesuai dengan GBPP atau Kompetensi Dasar yang ingin dicapai; apakah strategi penyampaiannya sudah sesuai dengan pembelajaran yang disarankan Kurikulum, apakah pola pengembangan bahan ajar sesuai dengan perkembangan siswa, dan sebagainya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Selain itu, masih dijumpai juga pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi penuh kepada buku teks, tanpa melihat kurilulum (khususnya GBPP dan silabus yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. Ketergantungan guru ini dibuktikan dengan gejal-gejala berikut.&lt;br /&gt;a.Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks, tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;b.Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku teks, tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;c.Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks, tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;d.Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang timpang ini tentunya patut dicari penyebabnya. Sehubungan dengan itu, Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan.&lt;br /&gt;b.Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi, tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah tempat mereka mengajar.&lt;br /&gt;c.Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.&lt;br /&gt;d.Tradisi yang menganggap bahw buku teks sebagai sumber lengkap yang siap disaikan masih sangat dominan.&lt;br /&gt;e.Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prstasi belajar.&lt;br /&gt;Kelima faktor penyebab itu haruslah diantisipasi oleh pihak yang bertanggung jawab, baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (c. q. Direktorat Sarana Pendidikan) maupun oleh lembaga pendidkan tenaga kependidikan (LPTK), agar tidak terjadi ketimpangan yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;Sebagai bahan perenungan dan bahan diskusi, perhatikan tulisan Iskandar tentang perbukuan berikut ini!&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGEMBANGAN PERBUKUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis perbukuan seperti yang terjadi di tanah air hampir tidak pernah terdengar di persekolahan Amerika. Siswa-siswa sangat dimanjakan oleh sistem perbukuan Amerika. Buku-buku teks, buku pendukung, buku pengayaan, dan referensi, semuanya tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap siswa mendapat pinjaman buku teks untuk setiap mata pelajaran. Siswa juga dapat meminjam buku apa saja sesuai dengan minatnya, melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan masyarakat, atau fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Setiap siswa diharapkan memelihara buku teks dengan baik. Setelah naik kelas, buku teks dikembalikan ke sekolah untuk digunakan kembali oleh adik kelasnya. Begitulah seterusnya. Sekolah, distrik, atau negara bagian baru akan memperbaharui dan mengganti buku teks di sekolah setiap enam tahun sekali.&lt;br /&gt;Musim pengadaan buku teks dimulai pada bulan April. Ada dua proses pengadaan buku teks di AS; adopsi formal buku teks dan pasar bebas. Yang diincar oleh penerbit adalah proses adopsi formal buku teks yang berlaku di 22 negara bagian, terutama Texas, California, dan Florida. Di kelompok negara bagian ini, buku teks yang akan digunakan oleh sekolah terlebih dahulu diuji kualitasnya oleh tim evaluasi yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian. Hanya buku-buku yang telah lulus evaluasi yang akhirnya akan dibeli oleh pemerintah negara bagian. ”The Big Three” negara bagian Texas, California, dan Florida senantiasa selalu menjadi perhatian utama para penerbit. Ke tiga negara bagian ini mempunyai populasi siswa SD-SMA sekitar 13 juta, sedang 19 negara bagian lainnya hanya 12,7 juta siswa. Meskipun jumlah siswa di ketiga negara bagian ini berbeda-beda; California lebih dari 6 juta siswa, Texas lebih 4 juta siswa, dan Florida sekitar 3 juta siswa, tetapi anggaran pengadaan buku teks mereka hampir sama. Pada tahun anggaran 2003/04, sebagai contoh, ke tiga negara bagian ini membelanjakan $900 juta untuk bahan instruksional termasuk buku teks. Meski unit cost berbeda untuk pembelian barang yang hampir sama, masyarakat tidak ribut karena lelang dilaksanakan secara fair, kompetitif, dan terbuka, dan dilaksanakan oleh sebuah unit khusus pengadaan yang sangat profesional.&lt;br /&gt;Pengadaan buku teks di 28 negara bagian lainnya, seperti New York, Pensylvania, dan Ohio dilakukan melalui mekanisme pasar bebas. Sekolah atau distrik bebas memilih buku yang paling sesuai dengan Guidelines yang dikeluarkan oleh negara bagian. Meski populasi siswa SD-SMA di negara bagian tersebut sangat besar, penerbit tidak terlalu kuatir dalam memasarkan buku-bukunya. Logika bisnis penerbit umumnya akan berupaya masuk ke dalam daftar adopsi di negara-negara bagian dengan sistem adopsi formal buku teks untuk menutup biaya disain dan pengembangan yang tinggi, lalu menarik untung di negara-negara bagian yang menganut mekanisme pasar bebas. Oleh karena itu, persaingan agar masuk daftar adopsi di negara bagian, terutama ”The Big Tree,” menjadi sangat kritis, bahkan seringkali menentukan hidup matinya bisnis mereka.&lt;br /&gt;Seluruh penerbit berupaya masuk dalam daftar buku yang diadopsi dengan berbagai cara, termasuk membeli perusahaan saingan. Dalam bisnis dengan turn-over milyaran dollar ini, penerbit gurem akhirnya harus mengalah dan membiarkan perusahaannya ditelan dan menjadi bagian dari konglomerasi penerbit raksasa yang menguasai seluruh bisnis buku teks dan bahan pelajaran di Amerika. Penerbitan buku teks di Amerika saat ini hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan raksasa, yaitu Pearson, perusahaan Inggris; Vivendi Universal, perusahaan Perancis; Reed Elsevier, perusahaan patungan Inggris dan Belanda; dan McGraw-Hill, perusahaan konglomerasi Amerika. Penerbit gurem atau setengah gurem akhirnya hanya melakukan sub-kontrak (maklun) pekerjaan pengembangan atau penulisan dari penerbit-penerbit raksasa.&lt;br /&gt;Proses penulisan buku teks di Amerika nampaknya telah berevolusi menjadi sebuah proses industri dari pada sebuah proses pedagogi. Penulisan buku teks di sebagian besar penerbit Indonesia juga sudah mengikuti ”trend” yang tidak menggembirakan ini. Penulisan buku terdiri dari kegiatan mengumpulkan bahan, mengidentifikasi topik, menulis, mengedit, sampai pada tahap finalisasi setelah mendengar berbagai umpan balik (edit final), dilakukan oleh para ”pekerja” yang berbeda dan waktu yang berlainan. Seringkali satu sama lain tidak mengenal atau berkomunikasi dengan baik. Hanya seorang editor yang mengelola aliran pekerjaan penulisan buku itu semua. Topik-topik diidentifikasi dari referensi buku-buku teks yang pernah terbit sebelumnya, lalu diramu sehingga menjadi sangat komprehensif. Editor memutuskan topik-topik atau outline buku teks yang akan ditulis. Setelah puas dengan outline yang akan ditulis, editor menyewa beberapa “pekerja” penulis buku untuk mengembangkan outline dan menulis buku.&lt;br /&gt;Dalam penulisan buku teks, Texas sering menjadi patokan utama. Meski hampir semua negara bagian mengeluarkan Guidelines, State Framework, Curriculum, atau Standar Kompetensi Ilmu Pengetahuan dan Keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa, tetapi aturan Texas yang dikenal dengan TEKS (Texas Essential Knowledge and Skills) paling banyak memberikan pengaruh. Hal ini karena Texas merupakan satu-satunya negara bagian yang mengatur pengadopsian buku teks TK sampai SMA secara lengkap. Negara bagian California mengatur pengadopsian buku teks hanya untuk TK sampai kelas 8. Standar kompetensi beberapa negara bagian memang nampak belum banyak berkembang secanggih Texas. Dokumen TEKS disusun oleh anggota Texas Board of Education yang terdiri dari para akhli kurikulum, guru, dan politikus yang umumnya berpandangan ”konservatif.”&lt;br /&gt;Selain Texas, pengaruh standar pendidikan California yang mewakili pandangan ”liberal” tampak cukup kuat. Penulisan buku-buku teks akan selalu dihadapkan pada dua pandangan yang hampir berseberangan antara ”konservatif” atau ”tradisional” dan ”liberal.” Terlalu banyak ”teori evolusi,” buku teksnya akan ditolak oleh tim adopsi konservatif, sedang kalau lupa merepresentasikan semua kelompok etnik, ras dan jender, akan ditolak mentah-mentah oleh tim adopsi liberal.&lt;br /&gt;Editor buku teks akan senantiasa selalu mengikuti perkembangan baru dalam dunia pendidikan. Seorang editor aktif mengikuti berbagai seminar, workshop, atau lokakarya pendidikan di universitas-universitas, lembaga pemerintah, atau lembaga-lembaga riset untuk mengikuti perkembangan hasil riset, jargon-jargon baru, dan kecenderungan-kecenderungan yang akan datang; seperti accelerated learning, active learning, dan sebagainya. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengidentifikasi nama-nama yang sedang ”naik daun” dalam dunia pendidikan yang mempunyai nilai jual pasar, untuk dicantumkan sebagai ”penulis” buku teks yang akan segera diterbitkan. Persis seperti yang terjadi di tanah air.&lt;br /&gt;Penampilan buku teks siswa SD, SMP dan SMA sangat ”berbobot.” Terbuat dari kertas glossy yang tebal dengan kualitas printing yang bagus, penampilan buku teks siswa SD hampir sama dengan penampilan buku teks mahasiswa. Kalau dilihat perkembangannya dalam empat dekade ke belakang, ketebalan buku teks memang selalu meningkat seiring berjalannya waktu. Namun, bobot buku teks ternyata sudah mulai mengancam kesehatan siswa. Beberapa negara bagian seperti California, Tennessee, dan enam negara bagian lain sedang dalam proses legislasi untuk menentukan berat maksimum buku teks yang boleh diproduksi. Buku-buku teks untuk mata pelajaran pokok seperti matematika, sains, sejarah, dan membaca, semakin lama semakin tebal dan berat. Anak-anak SD, SMP dan SMA pergi ke sekolah dengan backpack yang berat layaknya regu pencinta alam yang ingin menaklukkan puncak Gunung Himalaya. Organisasi pediatrik dan chiropractic telah mengeluarkan rekomendasi, berat buku teks dan lainnya dalam backpack siswa agar tidak melebihi 20% dari berat badan siswa. Ke depan, buku teks harus lebih ringan, tahan lama, dengan kualitas printing yang sama atau lebih bagus. Tentu tidak mudah dan tidak murah. Beberapa sekolah telah mulai merintis penggunaan laptop sebagai pengganti buku teks, dan beberapa perpustakaan sudah merintis e-library dengan meminjamkan e-book, sebagai respon terhadap kesehatan dan meningkatnya volume informasi di abad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelajaran bagi Pengembangan Buku Teks di Indonesia&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengembangan buku teks di AS sudah semakin mengarah menjadi sebuah ”industri” perbukuan dengan margin yang tinggi. Jaminan mutu sepenuhnya diserahkan pada pilihan, kapasitas dan intelektual pasar. Indonesia sebaiknya tidak mengikuti kecenderungan ini. Pasar Indonesia nampaknya belum siap dan belum secanggih pasar AS. Tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Indonesia baru 6,8 tahun (SMP Kelas 1), dan tingkat pendapatan per kapita 1/40 warga AS, sangat rentan terhadap berbagai penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh segelintir perusahaan penerbit yang bermodal besar. Pemerintah harus tetap dapat berperan agar kualitas pedagogik dapat tetap terpelihara.&lt;br /&gt;Satu pelajaran yang paling berharga, buku teks di AS tidak perlu diganti dengan berubahnya kebijakan dalam kurikulum pendidikan. Perubahan kebijaksanaan atau kurikulum hanya mengubah metode pembelajaran. Buku teks dapat mengambil posisi sebagai buku referensi sementara guru aktif memperkaya materi pembelajaran dari berbagai literatur yang sangat dini dan kontekstual. Kadang-kadang siswa disuruh menyimak artikel di koran atau di internet untuk memenuhi tujuan instruksional tertentu. Persepsi masyarakat di Indonesia, ”Ganti Menteri, Ganti Kurikulum, Ganti Buku” sebenarnya ulah penerbit untuk melanggengkan usahanya. Sayangnya, guru dan kepala sekolah ikut memberi dukungan terhadap penggantian buku teks itu. Sebagian karena iming-iming rabat 30% - 40% dari penerbit, jika guru dapat menjual bukunya langsung kepada siswa. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah dan DPR harus secara tegas melarang bagi penerbit atau pedagang buku untuk menjual langsung atau berhubungan dengan guru atau sekolah, karena ini praktek bisnis yang sangat berbahaya. Berdasar pengalaman penulis pribadi sebelumnya sebagai Wakil Komite Sekolah di SMPN 13 Jakarta dan Wakil Dewan Pendidikan Kabupaten Sukabumi, perilaku penerbit menawarkan rabat langsung kepada guru dan sekolah merupakan praktek bisnis yang sangat mewabah dan sangat menggoda. Kalau Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan bersikap pasif dan membiarkan praktek ”korupsi” terang-terangan dan kasat mata ini menjalar sampai ke sekolah dan kelas, maka sampai kapan pun sistem perbukuan di Indonesia tidak akan efektif.&lt;br /&gt;Cara berikutnya untuk mengatasi pergantian buku ialah dengan sistem peminjaman. Awalnya sekolah perlu mengadakan satu siswa satu buku untuk setiap mata pelajaran. Selanjutnya, sekolah meminjamkan kepada siswa untuk satu tahun ajaran penuh. Tahun ajaran baru tidak menciptakan kegiatan orang tua membeli buku-buku baru karena sekolah menyediakan buku tahun lalu yang masih dapat dipakai. Sistem peminjaman juga menanamkan sifat tanggung jawab kepada siswa untuk memelihara dan menjaga barang pinjaman dengan baik.&lt;br /&gt;Mata pelajaran di SD, SMP dan SMA di Indonesia sebaiknya juga dikelompokkan menjadi 4-6 mata pelajaran saja. Memang sungguh ironis, di satu pihak sekolah-sekolah di Indonesia masih kekurangan buku dan guru, tetapi di pihak lain, banyak rumpun-rumpun bidang studi yang dipecah menjadi beberapa mata pelajaran yang menuntut buku dan guru sesuai dengan bidang keahliannya. Sehingga ratio murid terhadap buku dan guru menjadi kurang efisien. Pelajaran IPA menjadi tiga mata pelajaran yang menuntut buku dan guru berbeda, demikian juga IPS. Padahal kalau dilihat dari substansi materi, rumpun pelajaran IPA di sekolah bukan ”rocket science” yang memerlukan buku dan guru dengan keahlian khusus. Penyederhanaan mata pelajaran juga akan memudahkan pemahaman materi dalan konteks kehidupan siswa sehari-hari, sehingga pendidikan yang didapat oleh siswa di sekolah menjadi lebih berarti.&lt;br /&gt;Dalam pengadaan buku, sebaiknya tidak boleh ada ”monopoli kekuasaan” di tangan satu atau segelintir orang dalam membuat keputusan adopsi buku. Sistem adopsi buku teks untuk menjamin kualitas buku di AS dilakukan bervariasi, ada yang di tingkat negara bagian, tingkat distrik, atau tingkat sekolah. Sebenarnya sistem adopsi sangat tergantung dari efektivitas penyampaian akuntibilitas publik. Di tingkat sekolah, perlu ada panitia khusus yang diawasi oleh Komite Sekolah yang aktif dan punya integrasi. Demikian juga kalau pengadopsian dilakukan di tingkat kabupaten atau propinsi. Namun demikian, penentuan pengambilan keputusan pada tingkat sekolah untuk seluruh Indonesia tidak selamanya akan efektif. Sekolah-sekolah di desa yang terpencil sebaiknya dilakukan di tingkat kabupaten atau propinsi.&lt;br /&gt;Langkah Depdiknas untuk mengembangan ”e-book” layak disambut dengan sangat baik. Mulai tahun 2007, Depdiknas telah mengembangkan jaringan elektronik ke seluruh sekolah di Indonesia. Lalu, Depdiknas membeli hak cipta (”copy right”) buku-buku teks untuk disajikan secara terbuka di website bagi siapa saja yang memerlukan. Siswa, guru atau sekolah tinggal mendownload dan mencetaknya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi siswa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik karena tidak punya buku. Kendalanya hanya satu, sejauh mana siswa mempunyai akses internet dengan bandwith internet yang memadai agar dapat download buku teks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted in Pemikiran, Pendidikan, Surat dari Amerika by Iskandar2358 on April 13th, 2008&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ingin baca selengkapnya? Anda dapat memperolehnya di toko buku terdekat atau ke Penerbit Ar-Ruzz Media Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-8771664968274250896?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/8771664968274250896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=8771664968274250896' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/8771664968274250896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/8771664968274250896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2009/03/textbook-writing-dasar-dasar-pemahaman.html' title='Textbook Writing: Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, dan Pemakaian Buku Teks'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/S3snyUEO7HI/AAAAAAAAAlg/QhRUeC1Pn5U/s72-c/Textbook_Writing1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-7938948563675717079</id><published>2008-10-13T10:12:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:53:48.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang hubungan buku teks dan komponen pembelajaran, khususnya mengenai:&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan kurikulum;&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran;&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan siswa;&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan guru;&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan media pembelajaran; dan&lt;br /&gt;- hubungan buku teks dan strategi pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa buku teks dihubungkan dengan komponen pembelajaran? Ya, karena buku teks merupakan sajian tertulis suatu pembelajaran. Oleh karena itu, semua komponen pembelajaran layak tecermin di dalam buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Hubungan Buku Teks dan Kurikulum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Para guru yang setiap hari berkecimpung dalam dunia pembelajaran akan terasa benar betapa erat hubungan antara kurikulum dan buku teks. Begitu eratnya, terasa hubungan itu saling menunjang antara satu dengan yang lain. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kurikulum lebih dahulu daripada buku teks. Buku teks dianggap sebagai sarana penunjang bagi kurikulum tersebut. Walaupun begitu, tidaklah menutup kemungkinan bahwa kurikulum lahir berdasarkan adanya buku teks yang dianggap relatif baik sehingga perlu disusun programnya secara bersistem.&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Sementara itu, buku teks adalah sarana belajar yang digunakan di sekolah untuk menunjang suatu program pembelajaran. Dengan demikian, keberadaan kurikulum dan buku teks selalu berdekatan dan berkaitan. Atau, dengan perkataan lain, kurikulum itu ibarat resep masakan dan buku teks adalah bahan-bahan yang dilakukan untuk mengolah masakan tersebut. Dalam hal ini pengolah atau juru masaknya adalah guru.&lt;br /&gt;Namun demikian, kurikulum itu tidak bersifat menentukan segalanya. Pada kurikulum KTSP, misalnya, yang pengembangannya dilakukan sepenuhnya oleh sekolah masih diperlukan penafsiran, penjelasan, perincian, dan pemaduan terhadap kompetensi, hasil belajar, indikator, dan materi pokok yang tercantum pada kurikulum itu. Dalam penulisan buku teks, penulis masih perlu menyusun silabus, menentukan metode pembelajaran, mencari bahan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, dan menentukan cara penyajian bahan yang sesuai dengan perkembangan anak. Mengingat keadaan kurikulum demikian itu, makin besarlah tanggung jawab penulis buku teks untuk menjabarkan kurikulum dalam bentuk silabus. Di samping itu, penulis perlu memahami benar landasan-landasan dan arah yang digunakan dalam penyusunan kurikulum agar penafsiran dan pengembangannya dalam bentuk buku teks dapat dipertanggungjaabkan dari berbagai segi.&lt;br /&gt;Menurut Tyler, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;1) Tujuan apa yang ingin dicapai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2) Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3) Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;4) Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?&lt;br /&gt;Keempat pertanyaan tersebut terlihat pada (1) Komponen tujuan, (2) Komponen isi. (3) Komponen metode pembelajaran, dan (4) Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum.&lt;br /&gt;Komponen tujuan merupakan arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan, karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai, atau sebagai gambaran tentang hasil akhir dan suatu kegiatan.&lt;br /&gt;Komponen isi merupakan pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah. Dalam hal ini siswa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalaman-pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh siswa sesuai dengan tujuan.&lt;br /&gt;Komponen metode pembelajaran merupakan cara yang dilakukan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Metode kurikulum berkaitan dengan proses pencapaian tujuan sedangkan proses itu sendiri berkaitan dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi kurikulum diorganisasikan.&lt;br /&gt;Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum merupakan cara yang dilakukan untuk mengukur kadar ketercapaian tujuan pembelajaran, baik secara proses maupun hasil. Hasil evaluasi ini dapat dipakai sebagai dasar untuk melakukan perbaikan lebih lanjut agar tujuan pembelajaran yang diidealkan dalam kurikulum dapat tercapai secara maksimal.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, setiap pilihan dan bentuk yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum akan membawa dampak terhadap proses memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. Untuk itu perlu, ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif.&lt;br /&gt;Menurut Tyler, kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum yang efektif adalah(1) berkesinambungan (continuity), (2) berurutan (sequence), dan (3) keterpaduan (integration). Prinsip berkesinambungan terlihat adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum secara vertikal. Sebagai contoh, jika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia pengembangan keterampilan membaca dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, maka pelatihan membaca perlu dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan. Dengan demikian, keterampilan siswa dalam membaca dapat berkembang secara efektif melalui pelajaran tersebut. Prinsip berurutan terlihat pada isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan bahan pelajaran sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasannya. Sebagai contoh, pembelajaran keterampilan membaca dimulai dari membaca permulaan sampai dengan membaca lanjut. Dengan demikian, penguasaan siswa terhadap diperoleh secara bertahap dari yang mudah (keterampilan dasar) menuju yang sulit atau kompleks (keterampilan lanjut).&lt;br /&gt;Sementara itu, prinsip keterpaduan menampak pada tidak adanya pemisahan secara dikotomis antara isi yang satu dengan yang lain dalam kurikulum. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak pernah menerapkan secara terpisah keterampilan tertentu dengan keterampilan yang lain. Mereka selalu menerapkannya secara terpadu. Sebagai contoh, pembelajaran membaca di sekolah sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan pembelajaran menulis sehingga keterampilan siswa lebih utuh, tidak terpisah-pisah. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis kontekstual dan tematik sangat cocok untuk memenuhi kriteria keterpaduan ini.&lt;br /&gt;Jawaban atas keempat pertanyaan yang dapat digali dari keempat komponen kurikulum tersebut harus dipakai sebagai dasar pengembangkan silabus dan penulisan buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Hubungan Buku Teks dan Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebelum dijelaskan lebih jauh tentang hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran, hasil penelitian tentang ”Hubungan Ketersediaan Buku dan Cara Mempelajarinya dengan Hasil Belajar Siswa dalam Ilmu Pengetahuan Sosial Si Sekolah Menengah Pertama Se-Kota Administratif Palu” yang dilakukan oleh Djamaludin Kantao berikut ini dapat dipakai sebagai ilustrasi awal.&lt;br /&gt;1. Ada perbedaan hasil belajar berdasarkan ketersediaan buku teks di tangan siswa. Kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "baik" memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "cukup". Sedangkan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "cukup" memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "kurang".&lt;br /&gt;2. Ada perbedaan hasil belajar siswa berdasarkan cara mempelajari buku teks. Kelompok siswa yang selalu menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang kadang-kadang menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik. Sedangkan kelompok siswa yang kadang-kadang menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang hampir tidak pernah menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik.&lt;br /&gt;3. Tidak ada interaksi antara ketersediaan buku teks dengan cara mempelajarinya terhadap hasil belajar siswa. Penemuan ini merupakan suatu petunjuk bahwa mungkin ada interaksi antara cara mempelajari buku teks dengan minat dan sikap siswa terhadap bahan pelajaran dalam buku teks.&lt;br /&gt;Dari hasil-hasil di atas ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar siswa tergantung kepada ketersediaan buku teks dan cara mempelajarinnya. Penyediaan buku teks yang lengkap di tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks dengan baik akan meningkatkan hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Untuk maningkatkan hasil belajar siswa diperlukan penyediaan buku teks yang lengkap si tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks yang baik. Penyediaan buku teks yang lengkap di tangan siswa dapat dilakukan dengan cara: orang tua membelikan buku teks yang sesuai dengan kebutuhan anaknya, perpustakaan sekolah menyediakan buku teks sesuai dengan kebutuhan siswa dan perpustakaan sekolah memberikan pelayanan sebaik-baiknya terhadap siswa. Peningkatan cara mempelajari buku teks yang baik dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan kepada siswa tentang bagaimana cara mempelajari buku teks dengan baik.&lt;br /&gt;Berdasarkan rangkuman hasil penelitian di atas dapat diketahui betapa hubungan antara buku teks dan tujuan pembelajaran dengan penjelasan sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Buku teks berisi serangkaian uraian materi yang mendukung tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;b. Buku teks berisi serangkaian kegiatan yang mendukung ketercapaian kompetensi tertentu.&lt;br /&gt;Dengan demikian, dengan menggunakan buku teks diharapkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai dapat terwujud.&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran atau kompetensi akan tercapai apabila penulis buku teks mempertimbangkan hal-hal berikut.&lt;br /&gt;a. Uraian materi yang tertuang dalam buku teks harus diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus.&lt;br /&gt;b. Tahapan-tahapan uraian materi harus diarahkan pada indikator-indikator pencapaian tujuan pembelajaran atau pencapaian kompetensi.&lt;br /&gt;c. Setiap tahapan uraian materi sebaiknya difokuskan pada satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi sehingga memudahkan untuk mengukur atau mengevaluasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Hubungan Buku Teks dan Siswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah dijelaskan pada bagian 2.1 bahwa buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadian siswa, walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan membaca buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks, mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks, atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks. Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut, maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik.&lt;br /&gt;Memperhatikan fungsi buku teks yang begitu penting bagi siswa, maka sajian buku teks harus memperhatikan (1) pertumbuhan dan perkembangan anak, (2) perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak, dan (3) gaya belajar anak. Ketiga hal tersebut diuraikan secara garis besar berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertumbuhan dan Perkembangan Anak&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai sejak saat pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan (Santrok dan Yussen,1992). Pola gerakan ini kompleks dan merupakan produk dari beberapa proses, yaitu biologis, kognitif, dan sosial.&lt;br /&gt;Terkait dengan itu, Seifert dan Haffnung membedakan tiga tipe (domain) perkembangan anak, yaitu perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial. Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan otot-otot. Perkembangan kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir, kemampuan berbahasa yang terjadi melalui proses belajar. Perkembangan psikososial berkaitan dengan perubahan-perubahan emosi dan identitas pribadi individu, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan keluarga, teman-teman dan guru-gurunya. Ketiga domain tersebut pada kenyataannya saling berhubungan dan saling berpengaruh.&lt;br /&gt;Setiap fase perkembangan pada dasarnya sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Oleh karena itu, pada usia-usia tertentu seseorang harus mampu melakukan tugas-tugas perkembangan tersebut agar dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Menurut Havighurst, setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainnya, yaitu fisik, psikis, emosional, moral dan sosial.&lt;br /&gt;Hasil penelitian dan kajian teoretik Carol Gestwicki (1995) mengemukakan bahwa hukum-hukum perkembangan dideskripsikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;- Dalam perkembangan terdapat urutan yang dapat diramalkan.&lt;br /&gt;- Perkembangan pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan berikutnya.&lt;br /&gt;- Dalam perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal.&lt;br /&gt;- Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;- Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;- Setiap individu berkembang sesuai dengan waktunya masing-masing.&lt;br /&gt;- Perkembangan berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang umum kepada yang khusus.&lt;br /&gt;Dalam hal pertumbuhan anak, Sutterly Donnely (1973) mendeskripsikan sepuluh prinsip dasar pertumbuhan sebagai berikut.&lt;br /&gt;- Pertumbuhan adalah kompleks, semua aspek-aspeknya berhubungan sangat erat.&lt;br /&gt;- Pertumbuhan mencakup hal-hal kuantitatif dan kualitatif.&lt;br /&gt;- Pertumbuhan adalah proses yang berkesinambungan dan terjadi secara teratur.&lt;br /&gt;- Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat keteraturan arah.&lt;br /&gt;- Tempo pertumbuhan tiap anak tidak sama.&lt;br /&gt;- Aspek-aspek berbeda dari pertumbuhan, berkembang pada waktu dan kecepatan berbeda.&lt;br /&gt;- Kecepatan dan pola pertumbuhan dapat dimodifikasikan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik.&lt;br /&gt;- Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat masa-masa krisis.&lt;br /&gt;- Pada suatu organisme akan kecenderungan untuk mencapai potensi perkembangan yang maksimum.&lt;br /&gt;- Setiap individu tumbuh dengan caranya sendiri yang unik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buku teks harus memperhatikan perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak, naik anak usia Sekolah Dasar maupun anak usia Sekolah Menengah.&lt;br /&gt;Perbedaan individual anak usia Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="33"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="34"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;a. Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu. Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik, intelektual, moral, maupun aspek kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="35"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. Perbedaan pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk, berat, dan tinggi badan. Selain itu, perbedaan fisik juga dapat diidentifikasi dari segi kesehatan anak. Sedangkan perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan tahapan usia, kemampuan anak pun meningkat. Namun demikian, karena pengaruh berbagai faktor, kemampuan di antara anak-anak tersebut bisa berbeda. Misalnya, si A pada usia 7 tahun sudah bisa membuat suatu karangan yang bersifat aplikasi dari suatu konsep, tetapi si B pada usia yang sama belum bisa melakukan hal yang dilakukan A.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="36"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="37"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;c. Perbedaan kemampuan seorang anak bisa mencakup perbedaan dalam berkomunikasi, bersosialisasi atau perbedaan kemampuan kognitif. Faktor yang menonjol dalam membentuk kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan. &lt;/span&gt;&lt;a name="38"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jenis-Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="39"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="310"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;a. Istilah “kebutuhan”, “dorongan”, atau “motif” pada kehidupan sehari-hari sering digunakan secara bergantian. Namun demikian, secara konsep ada perbedaan di antaranya. Kebutuhan lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu karena adanya kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat fisiologis; sedangkan dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat psikologis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="311"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. Cole dan Bruce (1959) membagi kebutuhan menjadi dua golongan, yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis; sedangkan A. Maslow (1954) membagi kebutuhan menjadi tujuh tingkatan atau jenjang dari yang mendasar hingga kebutuhan yang paling kompleks.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="312"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;c. Dalam kaitannya dengan perbedaan individu pada anak usia Sekolah dasar, digunakan penggolongan kebutuhan oleh Lindgren (1980) menjadi empat tingkatan kebutuhan, yaitu kebutuhan jasmaniah, perhatian, dan kasih sayang, kebutuhan untuk memiliki, dan aktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="313"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;d. Hurlock (197 menyatakan bahwa dalam pemenuhan beberapa kebutuhan anak, disiplin dapat digunakan. Sedangkan DeCecco dan Grawford (1974) mengajukan empat sikap guru dalam memberikan dan meningkatkan motivasi siswa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="410"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perbedaan Individu dan Kebutuhan Anak Usia Sekolah Menengah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="411"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="412"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;a. Secara garis besar, perbedaan individu dikategorikan menjadi dua, yaitu perbedaan secara fisik dan psikis. Perbedaan secara psikis meliputi perbedaan dalam tingkat intelektualitas, kepribadian, minat, sikap dan kebiasaan belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="413"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. Dalam pandangan yang lain, perbedaan individual siswa sekolah menengah dibedakan berdasarkan perbedaan dalam kemampuan potensial dan kemampuan nyata. Kemampuan nyata dapat disebut sebagai prestasi belajar. &lt;/span&gt;&lt;a name="414"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;c. Menurut Witherington, indikator perilaku intelegen antara lain:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="415"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="416"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(1) kemudahan dalam menggunakan bilangan,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="417"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(2) efisiensi dalam berbahasa,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="418"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(3) kecepatan dalam pengamatan,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="419"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(4) kemudahan dalam mengingat,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="420"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(5) kemudahan dalam memahami hubungan, dan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="421"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(6) imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="422"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;d. Gage dan Berlinier (1984:165) mempunyai pandangan tentang kepribadian sebagai berikut. “Personality is the integration of all of persons traits abilities, motives as well as his or her temperament, attitudes, opinios, beliefs, emotional responses, cognitive styles, characters and morals.”&lt;/span&gt;&lt;a name="423"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;e. Menurut Murray, kebutuhan individu dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu viscerogenic dan psychogenic. Kebutuhan psychogenic dibagi lagi menjadi dua puluh kebutuhan. &lt;/span&gt;&lt;a name="424"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kebutuhan yang cenderung dominan pada siswa sekolah menengah berdasarkan dua puluh kebutuhan, menurut konsep Murray, adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="425"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="426"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(1) need for affiliation&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="427"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(2) need for aggression&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="428"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(3) autonomy needs&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="429"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(4) conteraction&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="430"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(5) need for dominance&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="431"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(6) exhibition&lt;br /&gt;(7) sex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gaya belajar anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata memiliki gaya belajar sendiri. Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Perbedaan itu bahkan terdapat pada anak-anak dari satu keluarga, antara adik dan kakak, bahkan anak kembar sekalipun. Perbedaan gaya belajar anak harus terakomodasi pada buku teks.&lt;br /&gt;Sekedar contoh, ada siswa yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan siswa sebagai pendengar setia.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, ada sementara anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktik. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata dari pada mendengar penjelasan si guru. Sementara itu, yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contohnya, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Selain ada anak yang harus “bersemedi” dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa bekonsentrasi belajar, juga cukup banyak anak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang “dibaca”.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak contoh gaya belajar di atas, ada tiga tipe gaya belajar yang biasa dijumpai, yaitu visual learner, auditory learner, dan kinesthetic/tactile learner&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Visual Learner&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, di samping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.&lt;br /&gt;Untuk mendukung gaya belajar ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. Caranya, gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Perhatikan ciri lengkap visual learner pada boks berikut&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Ciri Visual Learner&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.&lt;br /&gt;- Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.&lt;br /&gt;- Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.&lt;br /&gt;- Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.&lt;br /&gt;- Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.&lt;br /&gt;- Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.&lt;br /&gt;- Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Auditory Learner&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.&lt;br /&gt;Untuk membantu anak-anak seperti ini, gunakan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman. Perhatikan ciri lengkap auditory learner pada boks berikut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Ciri Auditory Learner&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.&lt;br /&gt;- Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.&lt;br /&gt;- Cenderung banyak omong.&lt;br /&gt;- Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.&lt;br /&gt;- Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.&lt;br /&gt;- Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kinesthetic/Tactile Learner&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.&lt;br /&gt;Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Perhatikan ciri lengkap kinesthetic/tactile learner pada boks berikut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Ciri Kinesthetic/Tactile Learner&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;- Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.&lt;br /&gt;- Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.&lt;br /&gt;- Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.&lt;br /&gt;- Memiliki koordinasi tubuh yang baik.&lt;br /&gt;- Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.&lt;br /&gt;- Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.&lt;br /&gt;- Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil optimal. Itulah sebabnya mengapa penuls buku teks harus memahami aneka gaya belajar anak dan diterapkan pada buku teks yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Hubungan Buku Teks dan Guru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah dijelaskan pad bahwa buku teks mempunyai nilai lebih bagi guru. Kelebihan itu terllihat pada hal-hal berikut.&lt;br /&gt;- Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan, bulanan, caturwulanan, semesteran).&lt;br /&gt;- Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi.&lt;br /&gt;- Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar, skema, diagram, dan peta.&lt;br /&gt;- Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari.&lt;br /&gt;- Buku teks memuat bahan ajar yang seragam, yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi, dan juga kelancaran diskusi.&lt;br /&gt;- Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah.&lt;br /&gt;- Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu.&lt;br /&gt;- Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.&lt;br /&gt;Kenyataan lain juga menunjukkan bahwa masih banyak guru yang bergantung penuh pada buku teks sehingga satu-satunya sumber dalam pembelajaran adalah buku teks tersebut. Pada kondisi seperti ini, peran buku teks menjadi penting dan sangat menentukan benar-tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Konsekuensinynya, jika sesuatu yang ada dalam buku teks tersebut salah, misalnya, pengetahuan siswa pun akan menjadi salah. Jika kebijakan pemilihan buku teks diberikan kepada guru mata pelajaran, perlulah memberikan bekal yang memadai pada para guru akan kriteria buku teks yang baik dan benar. Namun, jika kebijakan yang diambil adalah membuat buku teks sendiri, perlulah dibuat tim yang benar-benar menguasai materi bidang studi dan tatacara penulisan buku teks yang benar.&lt;br /&gt;Guru menggunakan buku teks karena ia memiliki beberapa fungsi. Sheldon mengajukan tiga alasan utama yang diyakininya mengenai penggunaan buku teks oleh para guru. Pertama, karena mengembangkan materi ajar sendiri sangat sulit dan berat bagi guru. Kedua, guru mempunyai waktu yang terbatas untuk mengembangkan materi baru karena sifat dari profesinya itu. Ketiga, adanya tekanan eksternal yang menekan banyak guru (Sheldon dalam Garinger 2001: 2). Ketiga alasan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh guru dalam memilih buku. Penggunaan buku teks merupakan cara yang paling efisien karena waktu untuk mempersiapkan bahan ajar berkurang. Di samping itu, buku menyediakan aktivitas yang sudah siap untuk dilaksanakan dan membekali siswa dengan contoh konkret.&lt;br /&gt;Alasan lain bagi penggunaan buku teks ialah karena buku teks merupakan kerangka kerja yang mengatur dan menjadwalkan waktu kegiatan program pembelajaran. Di mata siswa, tidak ada buku teks berarti tidak ada tujuan. Tanpa buku teks, siswa mengira bahwa mereka tidak ditangani secara serius. Dalam banyak situasi, buku teks dapat berperan sebagai silabus. Buku teks menyediakan teks dan tugas pembelajaran yang siap pakai. Buku teks merupakan cara yang paling mudah untuk menyediakan bahan pembelajaran. Siswa tidak mempunyai fokus yang jelas tanpa adanya buku teks dan ketergantungan pada guru menjadi tinggi. Bagi guru baru yang kurang berpengalaman, buku teks berarti keamanan, petunjuk, dan bantuan. (Ansary, 2002: 2)&lt;br /&gt;Alasan penggunaan buku teks seperti ini hanya berlaku jika:&lt;br /&gt;(1) buku teks memenuhi kebutuhan guru dan siswa;&lt;br /&gt;(2) topik-topik dalam buku teks relevan dan menarik bagi guru dan siswa;&lt;br /&gt;(3) buku teks tidak membatasi kreativitas guru;&lt;br /&gt;(4) buku teks disusun dengan realistik dan memperhitungkan situasi pembelajaran di kelas;&lt;br /&gt;(5) buku teks beradaptasi dengan gaya belajar siswa; dan&lt;br /&gt;(6) buku teks tidak menjadikan guru sebagai budak dan pelayan.&lt;br /&gt;Apabila aspek-aspek ini tidak dipenuhi, maka buku teks hanya akan menjadi masses of rubbish skillfully marketed, seperti diungkapkan oleh Brumfit (Ansary 2002: 2), yang hanya akan menguntungkan secara materi bagi pihak-pihak yang dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi membisniskan buku teks, dan mencemari dunia pendidikan. Dalam hal seperti ini, sebaiknya guru dibekali dengan pengetahuan bagaimana memilih buku teks dan bagaimana mengaplikasi-kannya secara kreatif di kelas.&lt;br /&gt;Sementara itu, UNESCO menggariskan tiga fungsi pokok dari buku teks, yaitu (1) fungsi informasi, (2) fungsi pengaturan dan pengorganisasian pembelajaran, dan (3) fungsi pemandu pembelajaran. (Seguin 1989:18-19).&lt;br /&gt;Selanjutnya berdasarkan fungsi-fungsi ini, dapat ditentukan jenis-jenis buku yang diperlukan untuk menyertai buku teks, dalam hal ini buku pegangan untuk siswa yang juga dipegang guru dalam KBM, yang biasanya semuanya telah menjadi satu paket, yang terdiri atas (1) buku siswa, (2) buku guru, dan (3) sejumlah komponen yang meliputi: buku kerja atau buku kegiatan, materi bacaan tambahan, dan buku tes (Supriadi, 2000: 1).&lt;br /&gt;Yang perlu diparhatikan adalah, ketika guru menggunakan buku teks dalam pembelajaran, guru harus tetap menerapkan pembelajaran sebagai sosok guru yang konstruktivis dengan ciri-ciri sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Guru mendorong, menerima inisiatif, dan kemandirian siswa.&lt;br /&gt;2. Guru menggunakan data atau fenomena aktual dan kontekstual sebagai sumber utama pada fokus materi pembelajaran.&lt;br /&gt;3. Guru memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan.&lt;br /&gt;4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguraikan isi pelajaran dan memvariasikan strategi pembelajaran.&lt;br /&gt;5. Guru melakukan penelusuran pemahaman siswa terhadap suatu konsep sebelum memulai pembelajaran.&lt;br /&gt;6. Guru mendorong terjadinya dialog dengan dan antarsiswa.&lt;br /&gt;7. Guru mendorong siswa untuk berpikir, melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan mendorong siswa untuk bertanya sesama teman.&lt;br /&gt;8. Guru melakukan elaborasi erhadap respons siswa, baik yang sudah benar maupun yang belum benar.&lt;br /&gt;9. Guru melibatkan siswa pada pengalaman yang menimbulkan kontradiksi dengan hipotesis siswa dan mendiskusikannya.&lt;br /&gt;10. Guru memberikan waktu berpikir yang cukup bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.&lt;br /&gt;11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menghubungkan beberapa hal yang dipelajari untuk meningkatkan pemahaman.&lt;br /&gt;12. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memfasilitasi proses penyimpulan melalui acuan yang benar.&lt;br /&gt;(Diadaptasikan Brooks &amp;amp; Brooks, dalam Waliman, dkk. 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Hubungan Buku Teks dan Media Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan media pembelajaran, perlu dipahami terlebih dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan media pembelajaran sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="54"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;a. Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan penyalur pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="55"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. Konsep media pembelajaran tidak terbatas hanya kepada peralatan (hardware), tetapi yang lebih utama yaitu pesan atau informasi (software) yang disajikan melalui peralatan tersebut. Dengan demikian konsep media pembelajaran itu mengandung pengertian adanya peralatan dan pesan yang disampaikannya dalam satu kesatuan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="56"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;c. Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui penggunaan media secara optimal, sebab media ini memiliki fungsi, nilai dan peranan yang sangat menguntungkan, terutama sekali mengurangi terjadinya verbalisme (salah penafsiran) terhadap bahan ajar yang disampaikan pada diri siswa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="57"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;d. Ada tiga jenis media pembelajaran yang biasa dipakai dalam pembeljaran, yaitu media visual, media audio, dan media audio-visual. Dari masing-masing jenis media tersebut terdapat berbagai bentuk media yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Media mana yang akan digunakan tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai, sifat bahan ajar, ketersediaan media tersebut, dan juga kemampuan guru dalam menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="58"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;e. Setiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan. Oleh karena itu, tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;a name="59"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name="512"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;f. Pemilihan media pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang digunakan, serta evaluasinya. Adanya pemilihan media ini disebabkan sangat banyak dan bervariasinya jenis media dengan karakteristik yang berbeda-beda. &lt;/span&gt;&lt;a name="513"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;g. Penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, sifat dari bahan ajar, karakteristik sasaran belajar (siswa), dan kondisi tempat/ruangan. Juga perlu dipertimbangkan kesederhanaannya, menarik perhatian, adanya penonjolan/penekanan (misalnya dengan warna), direncanakan dengan baik, serta memungkinkan siswa lebih aktif belajar.&lt;br /&gt;Media memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke objek langsung yang dipelajari, maka objeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Objek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.&lt;br /&gt;2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu objek, yang disebabkan, karena : (a) objek terlalu besar; (b) objek terlalu kecil; (c) objek yang bergerak terlalu lambat; (d) objek yang bergerak terlalu cepat; (e) objek yang terlalu kompleks; (f) objek yang bunyinya terlalu halus; (f) objek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua objek itu dapat disajikan kepada peserta didik.&lt;br /&gt;3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan&lt;br /&gt;5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret, dan realistis.&lt;br /&gt;6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.&lt;br /&gt;7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.&lt;br /&gt;8. Media memberikan pengalaman yang integral atau menyeluruh dari yang konkret sampai dengan abstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="514"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berdasarkan konsep-konsep pokok tentang media pembelajaran di atas jelaslah bahwa buku teks merupakan salah satu jenis media pembelajaran. Hanya saja, bila dibanding dengan media pembelajaran lainnya, buku teks mempunyai fungsi “lebih” dari pada sekedar media pembelajaran. Buku teks tidak hanya sebagai “penyalur pesan” tetapi juga sebagai sumber pesan atau sebagai pengganti guru. Dengan membaca buku teks, siswa seolah-olah berhadapan dengan guru. Siswa dapat memperoleh informasi lewat buku teks, siswa dapat melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk yang tertuang dalam buku teks, dan siswa dapat mengukur kadar ketercapaian pembelajaran dengan cara mengerjakan tugas-tugas atau menjawab soal-soal yang terdapat dalam buku teks.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;6. Hubungan Buku Teks dan Strategi Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan strategi pembelajaran, perlu dipahami terlebih dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan strategi pembelajaran sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="25"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="26"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;c. Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).&lt;br /&gt;d. Keterlibatan dalam pengalaman belajar mempunyai pengaruh penting terhadap pembelajaran.&lt;br /&gt;e. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan&lt;br /&gt;f. Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta didik untuk mau melaksanakan tugas sekalipun mengandung risiko.&lt;br /&gt;g. Strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun pengaruh penting terhadap beberapa aspek, seperti; usia, kematangan, kepercayaan dan penghargaan terhadap orang lain.&lt;br /&gt;h. Pada umumnya pembelajaran berpengaruh kepada hal-hal khusus seperti menghargai orang lain dan bersikap hati-hati kepada yang baru dikenal.&lt;br /&gt;i. Terdapat banyak pengaruh yang dapat dipelajari melalui model (contoh) sedang peserta didik berusaha menirunya.&lt;br /&gt;j. Pada awal pembelajaran, langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas kita masing-masing yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah modalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat, apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar, apakah kinestetik, yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan.&lt;br /&gt;Supaya pembelajaran terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip, yaitu motivasi, perhatian, aktivitas, umpan balik, dan perbedaan individu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="28"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;d. Motivasi adalah dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="29"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;e. Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="210"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;f. Aktivitas merupakan salah satu indikator belajar. Bila pikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="211"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;g. Umpan balik di dalam belajar sangat penting, agar siswa segera mengetahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="212"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;h. Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Terkait dengan konsep-konsep pokok strategi pembelajaran di atas, buku teks hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Hal ini hanya dapat dicapai bila penulis buku teks mengetahui karakteristik siswa yang visual, yang auditorial maupun yang kinestik.&lt;br /&gt;Buku teks tradisional yang mementingkan perkembangan intelektual haruslah diubah. Buku teks modern lebih memperhatikan karakteristik kepribadian anak, baik mengenai segi emosi, sosial, jasmani maupun segi intelektualnya. Penulis buku teks berusaha dengan sengaja mengembangkan semua aspek pribadi anak dengan memberikan bahan pembelajaran yang sesuai dan dengan cara penyampaian yang bervariasi. Hal ini mengingat bahwa sebenarnya pribadi anak itu tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang terpisah-pisah. Dalam segala tindakannya manusia itu bersikap sebagai suatu keseluruhan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-7938948563675717079?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/7938948563675717079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=7938948563675717079' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7938948563675717079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/7938948563675717079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/hubungan-buku-teks-dan-komponen.html' title='Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-1230988300134671558</id><published>2008-10-13T10:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:54:18.854-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ada Apa dengan Buku Teks?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang:&lt;br /&gt;-      pengaruh buku bagi pembacanya&lt;br /&gt;-      buku dalam pendidikan;&lt;br /&gt;-      pandangan ahli pendidikan terhadap buku teks; dan&lt;br /&gt;-      kondisi pemakaian buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Pengaruh Buku bagi Pembacanya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada era global ini kehidupan manusia tidak bisa melepaskan diri dari buku. Lewat buku manusia bisa bertambah wawasannya yang pada akhirnya  (langsung atau tidak langsung) akan mempengaruhi pola pikir dan pola hidupnya. Bahkan, larena kuatnya pengaruh bagi kehidupan manusia, ada sekelompok ”buku” yang disebut ”the great book”, yaitu Quran, Injil, Taurat, Zabur, Weda, dan Tripitaka. Selain itu, dikenal pula ”buku-buku pengubah dunia”, yaitu Trias Politika, Das Kapital, De Principle, dan Uncle Toms Cabin.&lt;br /&gt;Secara rinci D. Waples dkk. (1990) membagi pengaruh buku bagi pembacanya menjadi lima kategori, yaitu (1) pengaruh instrumental, (2) pengaruh prestise, (3) pengaruh pemantapan, (4) pengaruh estetis dan apresiatif, dan (5) pengaruh pelepasan. Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku, pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya. Buku dikatakan mempunyai pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya. Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya Terakhir, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite) apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaruh buku tersebut akan lebih terasa pada diri anak. Para ahli pendidikan berkesimpulan bahwa lewat membaca buku, anak akan berpengaruh perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalarannya. Konsekuensinya, apabila buku yang dibaca berisi hal-hal yang negatif, maka perkembangan jiwa anak juga mengarah ke negatif. Sebaliknya, apabila yang dibaca berisi hal-hal yang positif, maka perkembangan jiwa anak pun positif. Karena yang diharapkan oleh semua pihak (:orang tua, pemerintah, penddik) agar anak berkembang secara positif, persediaan buku bagi anak (buku bacaan, buku teks, dan sebagainya) haruslah buku yang memenuhi syarat positif.&lt;br /&gt;Permasalahan yang segera muncul adalah buku bagaimanakah yang memenuhi syarat positif bagi anak? Buku dikatakan mempunyai syarat positif apabila mengandung hal-hal berikut, yaitu&lt;br /&gt;(a) bisa memperluas wawasan anak;&lt;br /&gt;(b) bisa menambah pengetahuan baru;&lt;br /&gt;(c) bisa membimbing berpikir konstruktif;&lt;br /&gt;(d) bisa mengarahkan kreativitas;&lt;br /&gt;(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik; dan&lt;br /&gt;(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri&lt;br /&gt;Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi informasi faktual, deskriptif, atau naratif yang belum menjadi perhatian anak. Misalnya, informasi tentang cara meminum obat, cara mandi yang betul, makanan sehat, teman yang baik, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. Misalnya, proses terjadinya gunung meletus, proses terjadinya hujan, perlunya kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara rasional. Misalnya, cerita tentang kerugian anak yang malas belajar, keuntungan anak yang berbaik hati, akbat anak yang ska berbohong, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. Misalnya, cara membuat burung dari kertas, cara membuat lampu minyak, cara menjernihkan air, dan sebagainya. Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam kehidupan anak. Misalnya, cerita pahlawan, tokoh agama, dermawan cilik, dai cilik, dan sebagainya. Terakhir, buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara, kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan sebagainya.Syarat-syarat itulah yang secara ideal terdapat pada buku yang layak sebagai bacaan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Buku dalam Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, buku merupakan bagian dari kelangsungan pendidikan. Dengan buku, pelaksanaan pendidikan dapat lebih lancar. Guru dapat  mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien lewat sarana buku. Siswa pun dalam mengikuti kegiatan belajar dengan maksimal dengan sarana buku. Bahkan, administratur pendidikan dapat mengelola pendidikan dengan efektif dan efisien dengan berpedoman ada aturan-aturan dan lebijakan yang tertuang dalam buku, misalnya pedoman pelaksanaan pendidikan dan kurikulum. Atas dasar itulah, bangsa-bangsa Eropa (yang termasuk bangsa maju) berpendapat bahwa ”education without book is unthinkable”.&lt;br /&gt;Sebagai bangsa yang maju, kita patut tidak berseberangan pendapat dengan bangsa Eropa tentang buku. Buku hendaknya menjadi perhatian utama, mulai dari pengadaan (baca: penulisan), penggandaan, sampai dengan penyeberannya. Dari segi pengadaan, buku-buku yang ditulis hendaknya diarahkan pada peningkatakan wawasan dan perkembangan jiwa yang positif, tidak hanya masalah iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga masalah sosial dan imtak (iman dan takwa). Dengan demikian ada keseimbangan antara perkembangan pemikiran dan kejiwaaan. Inilah yang biasa disebut ”manusia utuh” itu. Dari segi penggandaan, buku-buku yang telah ditulis hendaknya diproduksi secara proporsional dan memadai. Oleh karena tu, pemerintah hendaknya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk itu. Pihak swasta pun sebaiknya terlibat dalam penggandaan ini walaupun dalam bentuk transaksi bisnis. Dari segi penyebaran, buku yang telah digandakan hendaknya disebarkan secara merata. Jangan hanya diarahkan ke kota-kota besar saja. Daerah terpencil justru mendapatkan perhatian utama. Dengan demkian, akan terjadi pemerataan perkembangan pola pikir dan wawasan. Terkait dengan penyebaran buku ini, niat pemerintah untuk program buku murah perlu mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat.&lt;br /&gt;Buku-buku yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan bermacam-macam. Namun demikian, apabila dilihat dari segi isi dan fungsinya, buku pendidikan setidak-tidaknyanya dapat dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;Buku acuan, yaitu buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal tertentu. Informasi dasar atau pokok ini bisa dipakai acuan (referensi) oleh guru untuk memahami sebuah masalah secara teoretis.&lt;br /&gt;Buku pegangan, yaitu buku berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan, menganalisis, dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada siswa.&lt;br /&gt;Buku teks atau buku pelajaran, yaitu buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaan atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan. Buku ini dipakai sebagai sarana belajar dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;Buku latihan, yaitu buku yang berisi bahan-bahan latihan untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan tertentu. Buku ini dipakai oleh siswa secara periodik agar yang betrsangktan memiliki kemahiran dalam bidang tertentu.&lt;br /&gt;Buku kerja atau buku kegiatan, yaitu buku yang difungsikan siswa untuk menuliskan hasil pekerjaan atau hasil tugas yang diberikan guru. Tugas-tugas ini bisa ditulis di buku kerja tersebut atau secara lepas.&lt;br /&gt;Buku catatan, yaitu buku yang difungsikan untuk mencatat informasi atau hal-hal yang diperlukan dalam studinya. Lewat buku catatan ini siswa dapat mendalami dan memahami kembal dengan cara membaca ulang pada kesempatan lain.&lt;br /&gt;Buku bacaan, yaitu buku yang memuat kumpulan bacaan, informasi, atau uraian yang dapat memperluas pengetahuan siswa tentang bidang tertentu. Buku ni dapat menunjang bidang studi tertentu dalam memberikan wawasan kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;3. Pandangan Ahli Pendidikan terhadap Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku teks di dunia pendidikan disikapi oleh ahli pendidikan dengan berbagaimacam versi. Ada yang bersikap negatif, ada yang bersikap positif, dan adapula yan bersikap moderat. Ketiga pandangan yang berbeda ini didasari oleh alasan yang bertolak belakangsatu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pandangan Negatif terhadap Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli pendidikan yang bersikap negatif atau “antipati” atas kehadiran buku teks di dunia pendidikan didasarkan oleh kenyataan berikut.&lt;br /&gt;Buku teks kurang memperhatikan perbedaan individual siswa. Siswa sasaran dianggap homgen sehingga bahan ajar yang ada pada buku teks tersaji tanpa memperhatikan siswa yang ”uper” dan siswa yang ”lower”.&lt;br /&gt;Desain buku teks sering tidak sesuai dengan desain kurikulum pendidikan. Akibatnya, dengan menggunakan buku teks tersebut, program pendidikan yang telah dirancang dalam kurikulum tidak tercapai.&lt;br /&gt;Konteks dan bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering tidak sesuai dengan kondisi dan lingkunna siswa sasaran. Apabila hal ini terjadi, buku teks akan terkesan ”memaksa” siswa untuk belajar sesuatu yang ”tidak sesuai” dengan kondisi dirinya.&lt;br /&gt;Bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sering bias dan basi. Ini terjadi karena antara waktu penyusunan buku teks dan waktu pemakaiannya berselang terlalu lama. Akibatnya, informasi dan masalah yang terdapat dalam buku teks sudah ”kadaluarsa”, bahkan tidak sesuai lagi dengan yang sedang dihadapi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli pendidikan yang apriori terhadap kehadiran buku tekas ini adalah ahli pendidikan yang mengikuti sistem pendiikan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pandangan Positif terhadap Buku Teks&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ahli pendidikan yang bersikap positif atas kehadiran buku teks didasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut.&lt;br /&gt;Buku teks merupakan ”the foundation of learning in classroom”. Anggapan ini didasarkan oleh kenyataan bahwa pengajaran yang dianggap efektif dan efisien adalah pengajaran klasikal. Kalau toh ada yang individual, sangatlah bersifat khusus, karena kondisi tertentu.&lt;br /&gt;Buku teks memuat bahan ajar yang sebaiknya disajikan (what to teach) dan sekuensi atau urutan cara penyajiannya. Oleh karena itu penyusunan buku teks tentu memperhatikan bahan ajar mana yang patut dan sebaiknya disajikan, termasuk tata cara penyajian yang sesuai dengan jenis bahan dan kondisi siswa sasaran.&lt;br /&gt;Jangkauan,jumlah, dan jenis bahan ajar yang terdapat dalam buku teks telah relatif pasti sehingga guru memungkinkan untuk mengalokasikannya berdasarkan jadwal sekolah. Dengan demikian, lewat pemakaian buku teks dapat terkontrol dengan ketat program pengajarannya.&lt;br /&gt;Paparan masalah atau pokok persoalan (subject matter) dalam buku teks relatif teliti. Ketelitian ini terlihat mulai dari proses pemilihan bahan, klasifikasi bahan, sampai dengan proses penyusunannya. Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan guru dengan bahan ajar yang disusunnya sendiri.&lt;br /&gt;Bahan ajar dalam buku teks tertata cukup baik. Ini dapat dilihat dari cara penyajian bahan ajar yang memperhatikan hierarkhi dan tataletaknya sehingga mudah dipahami siswa. Tidak semua guru memiliki keterampilan menata bahan seperti yang terdapat pada buku teks.&lt;br /&gt;Buku teks cukup banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar peta, dan diagram. Alat bantu ini akan dapat mempercepat pamahaman siswa atas bahan ajar yang sedang dipelajari. Pada umumnya, alat bantu semacam itu sulit diciptakan oleh guru dalam waktu yang relatif singkat.&lt;br /&gt;Kesinambungan bahan ajar dalam buku teks telah diatur sedemikian rupa oleh penyusunnya. Lebih-lebih, apabila buku tersebut merupakan buku berseri. Hal ini dapat dimaklumi, sebab sebelum penyusunan buku teks dimulai, terlebih dahulu disusun kerangka (outline) secara menyeluruh. Dengan demikian, tidak dijumpai bahan ajar yang terlepas dari yang lain. Sebaliknya, bahan-bahan itu merupakan rangkaian yang utuh.&lt;br /&gt;Buku teks merupakan batu loncatan bagi siswa. Dengan menggunakan buku teks, siswa terbebas dari kegiatan mencatat yang merupakan pemborosan waktu, tenaga, dan pikiran.&lt;br /&gt;Buku teks sangat membantu sekolah yang tidak memiliki perpustakaan yang lengkap. Hal ini bisa dimaklumi karena buku teks berisi serangkaian bahan ajar yang minimal harus dikuasai atau dipahami siswa. Jika tidak lewat kemasan buku teks, bahan-bahan itu tentu berada di berbagai buku sumber.&lt;br /&gt;Buku teks yang dipublikasikan oleh pemerintah dan pihak swasta telah dipertimbangkan kualitasnya. Pertimbangan kualitas ini merupakan konsekuensi logis. Sebab, kalau tidak, tentu akan merugikan pihak pemerintah dan penerbit swasta itu sendiri. Para pemakai buku teks (terutama guru) tentu tidak akan menggunakan secara maksimal, bahkan tidak mau menggunakannya, apabila buku teks tersebut tidak berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli pendidikan yang mendukung sepenuhnya kehadiran buku teks ini adalah ahli pendidikan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pandangan yang Moderat terhadap Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pandangan tersebut sebenarnya boleh dikatakan sangatlah ekstrem, baik eksrem kiri dan ekstrem kanan. Kedua pendapat itu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Lalu, timbullah pandangan yang moderat terhadap kehadiran buku teks. Pandangan ketiga ini diilhami oleh kenyataan bahwa tidak semua buku teks menguntungkan bagi pendidikan dan tidak semua pula buku teks merugikan bagi kelangsungan pendidikan. Beberapa argumentasi berikut ini menjadi alasan bagi pandangan yang moderat terhadap buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      ”No one textbook is the best for all situation” (Romero dalam ”What Textbook Shall We Use”. Forum 2, 1975)&lt;br /&gt;Argumentasi ini bisa dimaklumi sebab pada kenyataan memang tidak ada satu pun buku teks yang ampuh untuk semua situasi dan kondisi. Namun demikian, keterbatasan ini tidak boleh dipakai sebagai “kambing hitam” untuk tidak menggunakan  buku teks. Keterbatasan ini harus diantisipasi guru pada saat mengasimilasikannya di kelas. Yang peru dipahami adalah buku teks merupakan sarana untuk mencapai tujuan pengajaran dan buku teks bukanlah pengajaran. Oleh karena itu, buku teks tidak bisa mengajar. Yang bisa mengajar adalah guru lewat sarana antara lain buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Tidak ada buku teks yang betul-betul bisa memenuhi harapan kurikulum. (J. N. Hook, 1965).&lt;br /&gt;Pernyataan ini pun bisa dimaklumi. Memang tidak ada satu pun buku teks yang bisa memenuhi kebutuhan kurikulum secara total. Buku teks hanyalah salah satu sarana bukan satu-satunya sarana untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. Walaupaun Garis-garis besar Program pengajaran (GBPP) atau silabus pada kurikulum tertentu dipakai sebagai acuan penyusunan bahan ajar pada buku teks, tetap tidak bisa menjamin bahwa buku teks dapat memenuhi kebutuhan kurikulum secra total. Sebab, faktor-faktor lain di luar buku teks juga ikut menentukannya, yaitu guru pemakai buku teks, siswa sasaran, situasi dan kondisi sekolah, dan aspek-aspek lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c.      Tidak ada satu pun buku teks yang cocok untuk semua jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;Pernyataan ini tidak mengada-ada, bahkan bisa dimakluminya. Buku teks memang disusun dengan mempertimbangkan program tertentu, jenjang pendidikan tertentu, dan pola pikir siswa tertentu. Akibatnya, buku teks hanya cocok untuk “sasaran” tetentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ketiga inilah yang memandang buku teks secara lebih objektif dan rasional. Sebab, buku teks akan berpran secara maksimal apabila memenuhi criteria ideal dan diasimilasikan oleh guru yang professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Kondisi Pemakaian Buku Teks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini terdapat anggapan dari sebagian besar masyarakat (khususnya komunitas pendidikan) bahwa buku teks sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dikelompokkan menjadi dua, yaitu buku teks wajib dan buku teks penunjang. Buku teks wajib (juga biasa disebut buku paket) adalah buku teks yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Sementara itu, buku teks penunjang (juga biasa disebut buku pelengkap) adalah buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta. Pendapat seperti itu sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan sebab kedua ”jenis” buku teks tersebut sama-sama berorientasi kepada kurikulum yang sedang berlaku, baik dari segi pendekatan, isi, maupun strateginya. Karena orientasinya sama, kedua jenis buku teks itu sebenarnya mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;Anggapan dekotomis tersebut sebenarnya dipicu oleh kebijakan ”politis” pemerintah (sebelum era Reformasi) bahwa bahwa buku teks wajib mempunyai kedudukan ”utama”, sedangkan buku teks penunjang ini mempunyai kedudukan ”pelengkap”. Kebijakan pemerintah ini didasari pertimbangan bahwa apabila buku teks wajib ini kalah pengaruhnya dengan buku teks penunjang, akan berdampak pada keheterogenan hasil belajar siswa. Apabila keadaan ini terjadi, tentu akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan sandardisasi kualitas atau keberhasilan belajar siswa. Kebijakan semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila buku teks yang beredar (baik yang dterbitkan oleh pemerintah maupun swasta) telah mendapat kontrol lewat penilaian terlebih dahulu oleh lembaga yang kompeten atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah, lewat Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP).&lt;br /&gt;Dilihat dari penyusunnya, buku teks wajib ini biasanya disusun oleh tim yang para anggotanya tentunya mempunyai kualitas yang dipersyaratkan. Bahkan, sebelum buku teks wajib ini diterbitkan, terlebih dahulu ditelaah kualitas atau kevaliditasannya baik dari segi isi, strategi, dan bahasa dalam forum lokakarya. Sementara itu, buku teks penunjang yang diterbitkan oleh swasta biasanya ditulis oleh penulis (baik sendiri mapun kelompok) yang berminat atau yang mempunyai pengalaman terhadap bidang pelajaran tertentu. Karena pertimbangan pasar, buku yang ditulisnya selain disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, juga disesuaiakan dengan keinginan pasar. Bahkan, hal-hal tertentu yang dianggap lemah atau sumbeng dalam buku teks wajib akan dibenahi atau dilengkapi dalam buku teks penunjang ini.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensinya, buku teks wajib yang diterbitkan oleh pemerintah disebarkan secara cuma-cuma ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Hanya saja, jumlah buku yang disebarkan jauh di bawah kebutuhan siswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1994), misalnya, pernah mengakui bahwa karena keterbatasan dana, buku teks wajib yang disebarkan hanyalah 20% dari kebutuhan real. Ini berarti masih 80% yang belum bisa terlayani buku teks wajib. Di sinilah peran buku teks penunjang bisa berkiprah untuk ”menggantikan” posisi buku teks wajib. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan baik-baik oleh penerbit swasta untuk mengisi kekosongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku teks yang beredar (baik buku teks wajib maupun penunjang) dijumpai keganjilan-keganjilan. Keganjilan yang dimaksud terlihat sebagai berikut.&lt;br /&gt;- Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan kurikulum.&lt;br /&gt;- Terdapat buku teks yang berisi pokok-pokok materi (semacam ringkasan).&lt;br /&gt;- Terdapat buku teks yang uraiannya sangat teknis.&lt;br /&gt;- Terdapat buku teks yang tidak sesuai dengan pesan pola pikir siswa.&lt;br /&gt;- Terdapat buku teks yang kurang ”aplicable”.&lt;br /&gt;Perhatian khusus terhadap keganjilan buku teks ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan arti buku teks dalam dunia pendidikan, tetapi justru untuk memacu peningkatan kualitas buku teks setelah dikaitkan dengan kedudukan dan fungsinya yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajran siswa di kelas.&lt;br /&gt;Semenjak pemberlakuan kurikulum 1984 sampai dengan sekarang (Kurikulum 2006 atau KTSP) kehadiran buku teks sebagai penunjang pelaksanaan pembelajaran cukup dominan bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya perhatian serius pemerintah terhadap dunia pendidikan dan minat dominan penerbit swasta terhadap penerbitan buku teks. Keberagaman buku teks yang beredar haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kalangan pendidikan, terutama guru. Sebab, dengan demikian, guru bisa memilih dengan leluasa: mana buku teks yang mempunyai kriteria ideal baik dilihat dari kesesuaiannya dengan kurikulum, kesesuaiannya bagi siswanya, maupun tingkat dan daya aplikasinya.&lt;br /&gt;Di sisi lain, di lapangan dijumpai adanya anggapan bahwa buku teks wajib merupakan ”buku suci”. Anggapan yang ekstrem ini sebenarnya tidak perlu terjadi, sebab pada dasarnya tidak ada satu pun buku teks, termasuk buku teks wajib, yang ampuh untuk segala-galanya: kapan dan di mana saja. Sebab, pada saat diaplikasikan, buku teks (termasuk yang wajib) masih tetap perlu disiasati guru sebelum dipakai dalam pembelajaran. Misalnya, apakah sajian bahan ajarnya sudah sesuai dengan GBPP atau Kompetensi Dasar yang ingin dicapai; apakah strategi penyampaiannya sudah sesuai dengan pembelajaran yang disarankan Kurikulum, apakah pola pengembangan bahan ajar sesuai dengan perkembangan siswa, dan sebagainya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Selain itu, masih dijumpai juga pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi penuh kepada buku teks, tanpa melihat kurilulum (khususnya GBPP dan silabus yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. Ketergantungan guru ini dibuktikan dengan gejal-gejala berikut.&lt;br /&gt;- Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks, tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;- Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku teks, tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;- Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks, tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus.&lt;br /&gt;- Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang timpang ini tentunya patut dicari penyebabnya. Sehubungan dengan itu, Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut.&lt;br /&gt;- Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan.&lt;br /&gt;- Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi, tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah tempat mereka mengajar.&lt;br /&gt;- Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.&lt;br /&gt;- Tradisi yang menganggap bahw buku teks sebagai sumber lengkap yang siap disajikan masih sangat dominan.&lt;br /&gt;- Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prestasi belajar.&lt;br /&gt;Kelima faktor penyebab itu haruslah diantisipasi oleh pihak yang bertanggung jawab, baik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (c. q. Direktorat Sarana Pendidikan) maupun oleh lembaga pendidkan tenaga kependidikan (LPTK), agar tidak terjadi ketimpangan yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-1230988300134671558?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/1230988300134671558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=1230988300134671558' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/1230988300134671558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/1230988300134671558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/ada-apa-dengan-buku-teks.html' title='Ada Apa dengan Buku Teks?'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-3037681211500297326</id><published>2008-10-04T10:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:54:57.775-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>HAKIKAT DAN FUNGSI BUKU TEKS</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tersebut pada bagian sebelumnya bahwa buku teks merupakan salah satu jenis buku pendidikan. Buku teks adalah buku yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan.&lt;br /&gt;Rumusan senada juga disampaikan oleh A.J. Loveridge (terjemahan Hasan Amin) sebagai berikut.&lt;br /&gt;”Buku teks adalah buku sekolah yang memuat bahan yang telah diseleksi mengenai bidang studi tertentu, dalam bentuk tertulis yang memenuhi syarat tertentu dalam kegiatan belajar mengajar, disusun secara sistematis untuk diasimilasikan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Chambliss dan Calfee (1998) menjelaskannya secara lebih rinci. Buku teks adalah alat bantu siswa untuk memahami dan belajar dari hal-hal yang dibaca dan untuk memahami dunia (di luar dirinya). Buku teks memiliki kekuatan yang luar biasa besar terhadap perubahan otak siswa. Buku teks dapat mempengaruhi pengetahuan anak dan nilai-nilai tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sementara itu Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004: 3) menyebutkan bahwa buku teks atau buku pelajaran adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku.  Substansi yang ada dalam buku diturunkan dari kompetensi yang harus dikuasai oleh pembacanya (dalam hal ini siswa).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pusat Perbukuan (2006: 1) menyimpulkan bahwa buku teks adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu. Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasa dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kelima rumusan itu kiranya dapat diketahui indikator atau ciri penanda buku teks sebagai berikut.&lt;br /&gt;Buku teks merupakan buku sekolah yang ditujukan bagis siswa pada jenjang pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Buku teks berisi bahan yang telah terseleksi.&lt;br /&gt;Buku teks selalu berkaitan dengan bidang studi atau mata pelajaran tertentu&lt;br /&gt;Buku teks biasanya disusun oleh para pakar di bidangnya&lt;br /&gt;Buku teks ditulis untuk tujuan instruksional tertentu.&lt;br /&gt;Buku teks biasanya dilengkapi dengan sarana pembelajaran.&lt;br /&gt;Buku teks disusun secara sistematis mengikuti strategi pembelajaran tertentu.&lt;br /&gt;Buku teks untuk diasmilasikan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;Buku teks disusun untuk menunjang program pembelajaran.&lt;br /&gt;Dari butir-butir indikator tesebut, buku teks mempunyai ciri tersendiri bila dibanding dengan buku pendidikan lainnya, baik dilihat dari segi isi, tataan, maupun fungsinya. Dilihat dari segi isinya, buku teks merupakan buku yang berisi uraian bahan ajar bidang tertentu, untuk jenjang pendidikan tertentu, dan pada kurun ajaran tertentu pula. Dilihat dari segi tataanya, buku teks merupakan sajian bahan ajar yang mempertimbangkan faktor (1) tujuan pembelajaran, (2) kurikulum dan struktur program pendidikan, (3) tingkat perkembangan siswa sasaran, (4) kondisi dan fasilitas sekolah, dan (5) kondisi guru pemakai. Dari segi fungsinya, selain mempunyai fungsi umum sebagai sebagai sosok buku, buku teks memupunyai fungsi sebagai (1) sarana pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan, (2) sarana pemerlancar tugas akademik guru, (3) sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran, dan (4) sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis Geene dan Pety (dalam Tarigan, 1986: 21) menyodorkan sepuluh kategori yang harus dipenuhi buku teks yang berkualitas. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Isi buku teks haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah dapat menstimuli, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunaknnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa, agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah mempunyai sudut pandang atau ”point of view” yang jelas dan tegas sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah mamu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sepuluh kategori yang disodorkan Geene dan Petty tersebut pada dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketiga ciri buku teks yang disampaikan sebelumnya. Dikatakan demikian, karena butir-butir kategori tersebut bisa dimasukkan ke dalam tiga ciri buku teks.&lt;br /&gt;Sebagai kelengkapan kategori tersebut, Schorling dan Batchelder (1956) memberikan empat ciri buku teks yang baik, yaitu&lt;br /&gt;(1)   direkomendasikan oleh guru-guru yang berpengalaman sebagai buku teks yang baik;&lt;br /&gt;(2)   bahan ajarnya sesuai dengan tujuan pendidikan, kebutuhan siswa, dan kebutuhan masyarakat;&lt;br /&gt;(3)   cukup banyak memuat teks bacaan, bahan drill dan latihan/tugas; dan&lt;br /&gt;(4)   memuat ilustrasi yang membantu siswa belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai buku pendidikan, buku teks memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Dengan buku teks, program pembelajaran bisa dilaksanakan secara lebih teratur, sebab guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas. Terhadap pentingnya buku teks ini, Grambs, J. D. dkk. (1959) menyatakan”The textbook is one of the teacher’s major tools in guiding learning”.&lt;br /&gt;Sementara itu, Hubert dan Harl menyoroti nilai lebih buku teks bagi guru sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan, bulanan, caturwulanan, semesteran).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi.&lt;br /&gt;Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar, skema, diagram, dan peta.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review di kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks memuat bahan ajar yang seragam, yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi, dan juga kelancaran diskusi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagi siswa sasaran, buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadiannya, walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan membaca buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks, mengadakan pengamatan yang disarankan dalam buku teks, atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks. Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut, maka dorongan atau motif-motif yang tidak baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi perkembangan yang tidak baik.&lt;br /&gt;Sebagai pemantapan tentang fungsi buku teks, Loveridge menyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Pelajaran dalam kelas sangat bergantung pada buku teks. Dalam keadaan guru tidak memenuhi syarat benar, maka buku teks merupakan pembimbing dan penunjang dalam mengajar. Bagi murid, buku teks bertugas sebagai dasar untuk belajar sistematis, untuk memperteguh, mengulang, dan untuk mengikuti pelajaran lanjutan.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagi orang tua pun buku teks mempunyai peran tersendiri. Dengan buku teks orang tua bisa memberikan arahan kepada anaknya apabila yang bersangkutan kurang memahami materi yang diajarkan d sekolah. Dari keadaan ini orang tua akhirnya bisa mengetahui daya serap anaknya terhadap materi mata pelajaran tertentu. Apabila daya serapnya kurang, perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan; dan apabila daya serapnya baik, perlu juga dilakukan langkah-langkah pemantapan atau pengayaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sisi lain, buku teks dapat dipandang sebagai simpanan pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan (Pusat Perbukuan, 2005). Karena sudah dipersiapkan dari segi kelengkapan dan penyajiannya, buku teks itu memberikan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang caranya. Dengan demikian, penggunaan buku teks merupakan bagian dari upaya pencipataan ”budaya buku” bagi siswa, yang menjadi salah satu indikator dari masyarakat yang maju.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dipandang dari hasil belajar, buku teks mempunyai peran penting. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks berperan secara maknawi dalam prestasi belajar siswa. Laporan World Bank (1995) mengenai Indonesia, misalnya, ditunjukkan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku dan fasilitas lain berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Di Filipina, peningkatan rasio kepemilikan buku siswa dari 1 : 10 menjadi 1 : 2 di kelas 1 dan 2 secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa (World Bank, 1995). Pernyataan tersebut diperkuat oleh Supriadi (2000) yang menyatakan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku berkorelasi positif dan bermakna dengan prestasi belajar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dipandang dari proses pembelajaran pun demikian. Untuk mencapai kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran, siswa perlu menempuh pengalaman dan latihan serta mencari informasi tertentu. Salah satu alat yang efektif untuk mencapai kompetensi tersebut adalah lewat penggunaan buku teks. Sebab, pengalaman dan latihan yang perlu ditempuh dan informasi yang perlu dicari, begitu pula tentang cara menempuh dan mencarinya, tersaji dalam buku teks secara terprogram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Walaupun buku teks diperuntukkan bagi siswa, guru pun dapat memanfaatkannya. Pada waktu memberikan pembelajaran kepada siswa, guru dapat mempertimbangkan pula apa yang tersaji dalam buku teks. Namuk demikian, guru tetap memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi pembelajaran. Semua itu merupakan wewenang dan tanggung jawab profesionalitas guru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari uraian tersebut jelaslah bahwa keberadaan buku teks sangat fungsional baik bagi kelancaran pengelolaan kelas, bagi guru, bagi siswa, maupun bagi orang tua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-3037681211500297326?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/3037681211500297326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=3037681211500297326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/3037681211500297326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/3037681211500297326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/hakikat-dan-fungsi-buku-teks.html' title='HAKIKAT DAN FUNGSI BUKU TEKS'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1133511720878794141.post-5735474823550438912</id><published>2008-10-04T09:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T09:52:48.820-07:00</updated><title type='text'>Rencana Perkuliahan Semester (RPS)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER (RPS)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;                         Matakuliah      : Manulis Buku Ajar/Ilmiah&lt;br /&gt;                         Sandi MK       : INB420&lt;br /&gt;                         SKS/JS          : 3/4&lt;br /&gt;                         Prasyarat       : INB418&lt;br /&gt;                         Pembina        : Drs. Masnur Muslich, M.Si&lt;br /&gt;                         Sandi Dosen : 802124&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DESKRIPSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matakuliah ini berusaha menumbuhkan pengetahuan, pemahaman, dan penguasa-an mahasiswa tentang penulisan buku ajar atau bahan ajar untuk pembelajaran bahasa Indinesia di berbagai tingkat satuan pendidikan atau buku ilmiah dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TUJUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat menghasilkan buku ajar untuk pembelajaran bahasa Indonesia di TK, SD, SLTP/MTs, SMA/MA/SMK atau bahan untuk berbagai pelatihan atau buku ilmiah dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TOPIK DAN SUBTOPIK&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Karakteristik buku ajar/buku ilmiah: pengertian buku ajar/buku ilmiah, perbedaan buku ajar dan buku ilmiah, perbedaan buku ajar dan bahan aja&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hubungan buku ajar dan komponen pembelajaran: hubungan buku ajar dan kurikulum, hubungan buku ajar dan kompetensi yang ingin dicapai (tujuan pembelajaran), hubungan buku ajar dan siswa, hubungan buku ajar dan guru, hubungan buku ajar dan media pembelajaran, hubungan buku ajar dan metode/teknik/strategi pembelajaran, &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Landasan penyusunan buku ajar bahasa dan sastra Indonesia: Landasan keilmuan bahasa dan sastra, landasan ilmu pendidikan dan keguruan, landasan kebutuhan bahasa siswa, landasan keterbacaan materi dan bahasa yang digunakan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Komponen buku ajar (versi BSNP): komponen isi, komponen kebahasaan, komponen komponen penyajian, dan komponen kegrafikan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Teknik dan prosedur penulisan buku ajar/buku ilmiah: pengkajian kurikulum, penyusunan silabus, pengkajian keilmuan bahasa dan sastra Indonesia, pemahaman karakteristik siswa dan guru, pengorganisasian buku, pemilihan bahan/materi, penyajian bahan/materi, penggunaan bahasa dan keterbacaan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Problema penulisan buku ajar/buku ilmiah dan pemecahannya: identifikasi permasalahan setiap tahapan penulisan buku ajar dan upaya pemecahannya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;EVALUASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nilai akhir (NA) mahasiswa ditetapkan berdasarkan:&lt;br /&gt;(a)   kuantitas dan kualitas pertisipasi dalam perkuliahan (bobot 2)&lt;br /&gt;(b)   hasil tugas harian individu (bobot 2)&lt;br /&gt;(c)   hasil tugas harian kelompok dan pertangungjawabannya (bobot 3)&lt;br /&gt;(d)   hasil tugas akhir individu dan pertanggungjawabannya (bobot 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA ditetapkan berdasarkan rumus:&lt;br /&gt;      NA = (a X 2) + (b X 2) + (c X 3) + (d X 3): 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUMBER/RUJUKAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Brown, J.B. 1988. Textbook Evaluation Form. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.timetabler.com/reading"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.timetabler.com/reading&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. html. (12/07/07).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cunningsworth, Alan. 1995. Coosing your Coursebook. Oxford: Heinemann.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Depdiknas. 2004. Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Houtz, H.E. 1995. “Score Sheet for Selecting Textboks.” Dalam Reading for Today’s Children. New York: Macmillan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Johnson, K. 2002. Selecting Coursebook. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.timetabler.com/reading"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.timetabler.com/reading&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;.html. (12/07/07).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Muslich, Masnur. 2008. Dasar-dasar Pemahaman, Penulisan, Pemakaian Buku Teks, dan Penilaian Buku Teks. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;O’Neill, R. 1990. “Why Use Texboks?” Dalam R. Rossner and R. Bolitho (Eds.). Currents in Langauge Teaching. Oxford University Press.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pusat Perbukuan. 2006. Pedoman Penulisan Buku Pelajaran: Penjelasan Standar Mutu Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sumardi. 2003. Model Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas 4: Panduan Pengembangan. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;World Bank. 1995. Indonesia: Book and Reading Development Project, Staff, Appraisal, May.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yulaelawati, Ella. Dkk. 1994. Penulisan Bahan-bahan Pelajaran: Buku Acuan bagi para Penulis Bahan-bahan Pelajaran dan Buku-buku Panduan Guru. Jakarta: Pusat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;JADWAL PERTEMUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu I&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Karakteristik buku ajar: pengertian buku ajar/buku ilmiah, perbedaan buku ajar dan buku ilmiah, perbedaan buku ajar dan bahan ajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu II&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Hubungan buku ajar dan komponen pembelajaran: hubungan buku ajar dan kurikulum, hubungan buku ajar dan kompetensi yang ingin dicapai (tujuan pembelajaran), hubungan buku ajar dan siswa, hubungan buku ajar dan guru, hubungan buku ajar dan media pembelajaran, hubungan buku ajar dan metode/teknik/strategi pembelajaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu III&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Landasan penyusunan buku ajar bahasa dan sastra Indonesia: Landasan keilmuan bahasa dan sastra, landasan ilmu pendidikan dan keguruan, landasan kebutuhan bahasa siswa, landasan keterbacaan materi dan ba-hasa yang digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu IV&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Komponen buku ajar (versi BSNP):&lt;br /&gt;komponen isi(: cakupan materi, akurasi mate-ri, kemutakhiran, mengandung wawawsan produktivitas, merangsang keingintahuan, mengembangkan kecakapan hidup, mengembangkan wawasan kebinekaan, mengandung wawasan kontekstual); komponen kebahasa-an (: sesuai dengan perkembangan peserta didik), komunikatif, dialogis dan interaktif, lugas, keruntutan alur pikir, koherensi, kese-suaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, penggunaan istilah dan simbol atau lambang); komponen komponen penyajian (:teknik penyajian, pendukung penyajian materi, penyajian pembelajaran); dan komponen kegrafikan (: penampilan, tata letak, ilustrasi, keterbacaan huruf). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu V-XV&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Teknik dan prosedur penulisan buku ajar: pengkajian kurikulum, penyusunan silabus, pengkajian keilmuan bahasa dan sastra Indonesia, pemahaman karakter-istik siswa dan guru, pengorganisasian buku, pemilihan bahan/materi, penyajian bahan/ materi, penggunaan bahasa dan keterbacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Minggu XVI&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Problema penulisan buku ajar dan pemecahannya: identifikasi permasalahan setiap tahapan penulisan buku ajar dan upaya pemecahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                           Malang, Agustus 2008&lt;br /&gt;                                                                                           Pembinan MK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;                                                                                          Drs. Masnur Muslich, M.Si.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1133511720878794141-5735474823550438912?l=masnur-muslich.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/feeds/5735474823550438912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1133511720878794141&amp;postID=5735474823550438912' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5735474823550438912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1133511720878794141/posts/default/5735474823550438912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masnur-muslich.blogspot.com/2008/10/rencana-perkuliahan-semester-rps.html' title='Rencana Perkuliahan Semester (RPS)'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
